12. Four Days

4 1 0
                                        

Viens sedang melahap berondong jagung, walau sedang tidak menonton film di bioskop

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Viens sedang melahap berondong jagung, walau sedang tidak menonton film di bioskop. Namun, menurut Viens popcorn paling cocok dimakan kala sore hari.

Sedangkan Steve sibuk merebut bola basket dari jemari kekar Zio. Joshua juga tak kalah gesitnya dengan Steve.

"Rebutan bola mulu kaya bocah," gumam Viens.

"Mainnya emang gitu, dasar norak." Mendengar suara yang menyahut, suasana hati Viens menjadi chaos.

Viens terdiam tak menanggapi suara tersebut dan fokus pada jajanan yang berada di pangkuannya.

"Jangan cuekin gue dong, Viens," pinta Silva dengan nada putus asa.

"Udah mau dua minggu lo hindarin gue."

Hari-hari yang hambar Silva lalui sendiri. Terkadang ia bergabung dengan orang-orang yang suka bergerombol. Terkadang pula ia sendiri tanpa ada yang menemani.

Dengan adanya Viens di sampingnya, Silva merasakan kenyamanan.

"Gue bakal hindarin orang yang suka komentar tanpa mikir, kalo perlu semua orang di muka bumi ini. Lo tau? Gue lebih suka ngomong sama orang dengan topik absurd, dibanding ngomong sama orang sok pinter dan ngerasa lebih bener. Terlebih lagi kita nggak sedekat itu buat saling bertukar cerita. Bahkan Steve yang udah deket sama gue dari bayi, nggak ada tuh nyerang gue dengan argumen sampah lo kaya kemaren lalu," ujar Viens dengan nada santai sembari mengunyah olahan jagung rasa caramel itu.

"Gue... minta maaf Viens. Gue tau, gue salah. Tapi lo juga gak cerita, jadi mana gue tau," ungkapan maaf terlontar dari bibir Silva. Jujur, Silva kesepian.

Walaupun ia murid yang baru 3 bulan menginjakkan kakinya di kelas yang sama dengan Viens. Namun, menurutnya itu sudah cukup dikatakan dekat, karena sehari-hari Silva menghabiskan waktunya dengan Viens.

"Kalo lo tau dari awal, apa hasilnya bakal beda?" Bahu Silva merosot.

Tampaknya, Viens enggan memaafkan. Ia sudah pesimis.

"Gue maafin lo." Silva menatap Viens dari samping dengan mata berkaca-kaca.

"Beneran? Jadi, kita bisa kaya dulu lagi kan?". Viens mengangkat sebelah alisnya dan menatap balik Silva.

"Lo pikir bisa? Gue sih ga bisa. Gue udah terlanjur sakit hati."

ˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇˇ

"Mommy! I'm Coming!"

"Woy berisik! Bisa diem kaga lo!?" Viens menatap Steve dengan gahar dari lantai 2.

Bisa-bisanya disaat tegang seperti ini ia tak tau situasi kondisi. Padahal Viens sudah memberi kabar Steve untuk datang ke rumahnya diam-diam tanpa bersuara.

Steve hanya menunjukkan bakatnya, cengiran khas ala kuda. Ia naik ke lantai 2 menuju kamar Viens.

Setelah masuk, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur.

BreathTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang