10. Naughty

188 21 5
                                    

Yudha
dim, dimana?

Dimas
kantin kak

Yudha
nggak kelas?

Dimas
di cancel

Yudha
loh sama

Dimas
mau jalan sekarang apa gimana?

Yudha
ke puncak yuk

Dimas
sekarang???

Yudha
iya, yuk?

Meski tanpa rencana, tanpa persiapan, dan hanya bermodalkan mobil Dimas, itu semua tak menghentikan niat Yudha untuk mengajaknya pergi ke puncak.

Weekday seperti ini tidak terlalu ramai, tapi bukan berarti wisata alternatif para pengguna plat B itu sepi pengunjung.

"Lagi butuh healing banget kayaknya. Ya, Kak?" tanya Dimas.

Lantas Yudha mengangguk membenarkan. "Temen-temen gue udah pada kena tipes. Gue jangan sampe."

Dimas pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana keadaan Darrel di semester lalu. Katanya memang belum resmi jika belum tipes.

"Kapan-kapan panggil gue aja, Kak. Gue emang nggak bisa bantu sih, tapi mungkin bisa temenin gila bareng."

Ucapannya sukses membuat Yudha tertawa. Setidaknya ia bisa menghibur walau ini semua tak seberapa.

Selama perjalanan suasana tak pernah sunyi barang sedetikpun, bahkan Yudha sampai lelah tertawa atas celetukan yang Dimas loantarkan. Pemandangan di sepanjang jalan juga sangat memanjakan yang tanpa sadar ikut terhanyut dalam sejuknya udara yang masuk dari celah jendela yang sedikit dibuka.

Warpat tentu menjadi tujuan pertama. Kabut tebal tak luput menyambut kedatangan mereka.

"Kita salah outfit nih," ujar Yudha yang sedikit menggigil karena hanya memakai kaus dengan cardigan tipis.

"Gue yang lebih salah, Kak." Berbeda dengan lengan Yudha yang terbalut, Dimas hanya memakai kemeja lengan pendek.

"Ayo beli yang anget-anget."

Tapi ternyata segelas bandrek tak mampu mengatasi kedinginan keduanya. Seketika melempar tawa, saling menertawakan kebodohan masing-masing yang begitu nekat.

"Dim, coba merem."

Saat kedua matanya terpejam, suara tawa kembali terdengar. Kehangatan di pipi membuat Dimas reflek membuka matanya. "Kenapa?"

"Bulu mata lo beku." Yudha tertawa kecil, kemudian melepas tangkupan tangannya.

Suasana ini mungkin tidak akan bisa ditemukan dimanapun. Meski harus menahan rasa dingin yang begitu menusuk, tapi tak apa.

Bukan ke mana tujuan yang akan dituju, melainkan dengan siapa akan pergi.

Dan Dimas sama sekali tidak menyesal akan keputusannya untuk membuka diri hingga berakhir bisa mengenal Yudha, seseorang yang dengan mudah berhasil mencuri perhatian serta hatinya.

"Mungkin... Inilah rasanya..."

"Rasa suka pada sesama."

"Heh!" Tawa Yudha makin meledak begitu Dimas menyahuti si penyanyi. Untung hanya dirinya yang mendengar.

Dimas terkekeh kecil selagi mengemasi barang bawaan mereka, bersiap untuk menuju tempat yang lain. "Fakta, Kak."

Sesampainya di kebun teh, Yudha yang paling sibuk mengabadikan pemandangan dari berbagai angle dengan kamera ponsel. Membuat kedua mata Dimas tak lepas darinya sejak tadi. Lekungan bibir tipis menandakan begitu senangnya, yang tanpa sadar Dimas lakukan hal serupa.

First Time Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang