"I want to see how naughty I am."
Satu kalimat itu terus terngiang di benaknya. Membuat si pengucap berakhir menggelengkan kepala guna membuang segala ingatannya meski mustahil.
Sebab jelas, semua ini begitu tiba-tiba hingga masih sangat amat terasa degup jantungnya berpacu begitu ia mengambil belanjaannya dan keluar dari tempat itu.
Sungguh, Dimas benar-benar tidak menyangka hari ini akan tiba.
Segala sesuatu hal yang belum diketahui sebelumnya sudah cukup Dimas mengerti. Si kakak sepupu dan pacarnya itu juga benar-benar sangat membantu akan pertanyaan-pertanyaan anehnya, tentu ia juga harus membuang harga dirinya untuk semua itu.
Tapi yang menjadi masalahnya kini adalah, siapakah yang akan mengambil kendali? Yudha? Untuk ukuran pertama kali Dimas benar-benar tidak yakin akan hal itu.
"Kak?"
Dimas langsung melangkah masuk usai tak ada respon yang di dapat, juga tak ada tanda-tanda akan keberadaan seseorang saat dirinya menutup pintu, tapi tak lama terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi.
"Dimas?" Suara Yudha menggema terdengar samar.
Lantas mendekati pintu kamar mandi dan bertanya, "Iya, Kak?"
Belum ada tiga detik setelah Dimas bertanya, pintu kamar mandi sudah terbuka dan kembali menampakkan Yudha dengan balutan bathrobe seperti yang dilihatnya terakhir kali sebelum Dimas pamit untuk keluar.
"Kak, um... How I ask this..." Genggaman pada plastik putih kian menguat. Tarikan napas panjang juga dilakukan sebelum melanjutkan, "Do you prefer being on top or bottom?"
"I can do both."
"This is my first time, and I don't know how to..."
"I prefer being on the bottom. And I've prepared too."
"Kenapa nggak bilang?"
"I want to tease you."
Tanpa diberitahu pun Yudha mengerti jika Dimas benar-benar sangat gugup. Maka ia langsung meraih sebelah tangan laki-laki itu dan menuntunnya menuju ranjang.
"Rileks, Dim. This is not your first time, right?"
"Nggak bisa. Kak Yudha... Lo... You're so attractive."
Menggoda Dimas selalu membawa kesenangan tersediri bagi Yudha tiap kali ia melakukannya. Belum lagi reaksi malu-malu hingga tersipu yang selalu membuat Yudha jadi gemas sendiri, meski laki-laki itu akan membalasnya kemudian.
"Then come and kiss me now."
Kali ini Dimas terlihat begitu berbeda. Jauh lebih tenang walau kegugupan tak lepas dari pergerakannya, maka saat diberi satu dorongan saja laki-laki langsung menangkapnya dan instingnya turut bekerja.
Setiap sentuhan dilakukannya dengan hati-hati dan tanpa tergesa. Seakan ingin benar-benar merasakan dari setiap hal yang dilalui juga memanfaatkan peluang dengan sebaik-baiknya. Kalimat yang keluar dari bibirnya juga turut serta akan setiap permohonan untuk ke tahap-tahap berikutnya.
Untuk sesaat Yudha tak mampu mengenali siapa laki-laki di hadapannya. Begitu kedua mata mereka bertemu usai menjauhkan diri guna menarik napas sebanyak-banyaknya, Yudha semakin mengerti Dimas sepenuhnya. Semakin mengerti akan bagaimana perasaan laki-laki itu padanya.
"Kak, you have something like kink or—"
"Nggak ada. Lo ada?"
Dimas menggeleng kecil dan bertanya kembali, "Can I prepare you? We can take it slowly."
"Sure."
Begitu izinnya telah disetujui bibir Yudha kembali dibungkam. Lagi-lagi pergerakannya begitu lembut dan penuh hati-hati.
Kali ini tidak hanya sampai di situ saja, karena bibir Dimas mulai turun pada leher yang membuat Yudha reflek mendongakkan kepala untuk memberikannya akses dengan leluasa sehingga erangan kecil keluar dari bibirnya. Belum lagi saat hisapan dan gigitan diberi lebih kuat, kedua matanya sukses terpejam kembali dan jari tangannya turut serta menyalurkan hasrat dengan meremas rambut belakang Dimas.
Saat Yudha membuka kedua mata, tubuhnya sudah berada dalam genggamannya. Bathrobe sudah tersingkap karena talinya terlepas yang entah sejak kapan itu terjadi dan hanya menyisakan celana dalam yang terlihat sesak.
"It's not fair." Tentunya protes karena hanya dirinya yang sudah setengah telanjang sedangkan Dimas masih berpakaian lengkap.
"You can take it off if you want."
Dimas tersenyum lebar saat Yudha menatapnya dengan ragu-ragu. Seketika berpuas diri karena bisa membalikkan keadaan setelah beberapa kali dirinya yang dibuat kelimpungan atas setiap godaan yang dilemparkan.
Seringai di bibir langsung tercipta saat kedua tangan itu mulai terjulur meraih ujung kemeja miliknya. Dimas masih memperhatikan bagaimana jari-jari itu melepaskan satu persatu kancing kemeja miliknya.
Setelah semua kancing kemeja terbuka tangan Yudha perlahan turun dan berhenti pada kancing celana jeans hitam, tapi tak ada pergerakan lain setelahnya. Begitu Dimas mengangkat kepala dan kedua pandang kembali bertemu barulah jemari itu kembali bergerak untuk membukanya.
"Wow...."
"Don't wow me."
Yudha terkekeh kecil setelahnya. Reaksi barusan memanglah betulan tanpa rekayasa yang tak perlu dideskripsikan.
Sedangkan Dimas yang sudah tidak tahu lagi bagaimana mengekspresikan diri langsung meraih pundak Yudha untuk dibaringkan tubuhnya perlahan dengan sebuah bantal nyaman sudah disiapkan untuk kepalanya. Ia mundur untuk melepaskan semua pakaian yang masih tersisa, kemudian kembali naik ke atas ranjang selagi meraih sesuatu dari plastik dan langsung dibukanya.
"Tell me if it hurts."
***
Malam seakan begitu panjang meski banyak hal telah usai beberapa jam yang lalu. Bahkan rasanya Dimas sudah terlelap usai memijat kaki Yudha. Namun, dirinya justru terbangun tepat pukul empat pagi.
Langit tentu masih gelap, tubuhnya juga lelah, tapi Dimas terbangun dan tidak bisa tertidur kembali meksi sudah memejamkan kedua mata.
Padahal Dimas sudah melakukan segala cara, termasuk mencoba mengosongkan segala isi pikiran. Bahkan ia sudah mencoba untuk menganggap seseorang yang tengah tertidur di sisinya ini hanyalah sebuah guling dan bukanlah manusia, tapi mengapa ia masih tidak bisa tertidur kembali?
"Nggak bisa tidur?"
Tentunya kedua mata langsung terbuka sepenuhnya saat suara itu menyapa. Jadi teringat kembali kejadian barusan dan mulai terputar dengan jelas di benaknya.
"Dim?"
"E-eh... I-iya, Kak?"
Respon Dimas membuat Yudha jadi tertawa kecil. Kemudian ia langsung memiringkan tubuhnya untuk berhadapan. "Are you sure you never do it with a guy before?"
"Iya. Kenapa?"
"You keep your promise to satisfy me, that's why I asked."
Dimas sedikit bangun hingga jarak wajah mereka cukup dekat. "You're my first time."
"Lo sendiri gimana? Are you satisfied?"
"Of course! Kalo enggak ngapain gue—"
"Kayaknya itu kink lo deh. Sebelumnya pernah juga, kan? Tapi emang lo nya sungkan bilang."
Senyum tipis Dimas berikan sebagai respon karena tidak ada yang salah dari ucapan Yudha. Mungkin memang selama ini ia sendiri tidak menyadarinya. "Tapi kalo sama lo gimana aja juga gue suka."
"Tuh kan, muncul lagi si naughty Dimas."
"Gue serius tau, Kak."
"I know. Cause you love me, right?"
"Yeah, I love you."
"That's nice."
KAMU SEDANG MEMBACA
First Time
FanfictionJati diri yang baru membuat Dimas bukan apa-apa dibandingkan dirinya yang dulu. Nasihat percintaan yang biasa ia beri pada teman-temannya hanya menjadi angin lalu, karena tak memberi manfaat apa-apa pada dirinya. Semua hal kembali menjadi pengalama...
