08. That

133 22 6
                                        

"Gue nggak tau lo ada maksud terselubung apa. Mending lo temuin Yudha sendiri."

Kali ini Dimas menolak saat perempuan itu lagi-lagi ingin menitipkan sesuatu. Yang jelas, ia tau ada maksud lain yang perempuan itu ingin lakukan dan dirinya dijadikan sebagai perantara.

"Gue titip pesan kalo gitu."

"Apa? Nanti gue bilang ke dia."

Lebih baik masalah ini cepat selesai. Lagipula Dimas sendiri cukup terusik dengan kebenaran yang Yudha beritahukan hari itu, katakanlah ia tak percaya diri.

"Pulang, Yud. Udah itu aja."

Seketika mengernyit. "Kenapa nggak bilang langsung sendiri aja?"

"Nggak pernah digubris, kurang ajar emang."

"Gue kira kak Yudha cuma tipe yang nggak mau balikan sama mantan aja, ternyata dia juga suka cuekin mantan."

Perempuan itu terkekeh kecil, kemudian berkata, "Lo bener. Makannya gue iri sama lo."

"Kenapa iri?"

"I want to protect him too."

Dimas lagi-lagi mengernyit, ingin menanyakan lebih jauh tapi tangannya langsung ditarik perempuan itu untuk menerima sodoran ponselnya. Akhirnya ia mengetikkan beberapa digit nomor dan tak lama ada pesan masuk berisikan sebuah alamat darinya.

"Lo bisa culik dia ke sana. Gue yakin Yudha nggak bakal gubris lo juga." Dia menyimpan kembali ponselnya dan langsung berpamitan. "Makasih ya, Dimas."

Dimas mengangguk kecil sebelum akhirnya perempuan itu benar-benar pergi dan menghilang dari pandangannya.

Kini satu hal yang mengusiknya. Bagaimana cara membujuk Yudha untuk pulang? Jika membawanya tiba-tiba ke alamat itu seperti sarannya, pasti dia tau. Dan sepertinya tidak mungkin akan menuruti begitu saja permintaannya.

Mencoba mengabaikan segala persoalan itu terlebih dahulu, kakinya segera melesat menuju tujuan awal. Seperti biasa, mampir fakultas sebelah untuk menemuinya. Kali ini Dimas meminta untuk langsung bertemu di parkiran karena ia sudah berada di sana.

Laki-laki itu menyapa, menanyakan kegiatan dan hal-hal lain seperti biasanya. Yang membedakan hanya raut penuh kebahagiaan yang menghiasi wajah tampannya, serta senyum manis yang tak kunjung sirna.

"Lagi seneng banget kayaknya nih?"

"Lo tau nggak sih, Dim? Tadi gue dipuji dosen! Soalnya tuh..."

Begitu antusias bercerita. Makin senang lagi karena respon yang didapat. Bagai anak kecil yang sedang memamerkan sesuatu pada orang tuanya.

Dimas jadi gemas sendiri. Tapi seketika juga bingung untuk memulai pembicaraan, karena pesan yang perempuan itu titipkan padanya kembali mengusiknya.

"Nindy titip apa lagi?" tanya Yudha tiba-tiba usai dengan cerita dirinya.

Sesuai dugaan, Dimas memang tidak boleh meremehkan laki-laki ini. "Ada sih, tapi nggak gue terima."

"Kenapa?"

Begitu mobil berhenti karena lampu merah, Dimas sedikit memajukan tubuhnya selagi menatap kedua mata Yudha lekat. "Kak, pulang ya?"

Tapi Yudha tak memberi respon apapun. Sepertinya tidak menebak Dimas akan berkata demikian.

"Weekend ini gue nggak ada kegiatan apa-apa. Nanti gue temenin."

Tapi Yudha langsung menggeleng kecil dan berkata, "Gue balik sendiri aja, Dim."

Dimas sendiri tak menyangka akan begitu mudah, pikirnya akan sulit untuk membujuk. Seketika kepercayaan diri naik begitu saja karena merasa berada di level yang berbeda dengan yang lain.

"Kak Esa kira-kira balik jam berapa, ya?"

"Malem kayaknya. Dia bilang mau jalan sama Junot."

Dimas menarik sudut bibirnya sebelum bertanya, "Can I come in?"

"Sure. Netflix and cuddle?"

"Why not chills?"

Yudha mendekat, tangannya terjulur dan jemarinya membuat pola abstrak pada paha Dimas selagi membisikkan sesuatu, "I'll prepare for it."

Dengan jarak sedekat ini jelas membuat Dimas gugup, belum lagi respon Yudha yang seakan menyerang balik dirinya. Niat hati ingin menggoda tapi Dimas sendiri yang dibuat kelimpungan. Memang Yudha ini selalu bisa membalikan keadaan.

"K-kayaknya di dashboard gue ada UNO. Apa mau mabar FIFA lagi aja?"

Lantas Yudha jadi tertawa kecil. "Yah, gue ditolak."

"B-bukan gitu... Gue masih belum research lebih jauh lagi... Gue nggak mau ngecewain lo nantinya."

Kali ini Yudha menggenggam tangan kirinya. Masih tersisa sedikit tawanya. "Gue bercanda."

"Tapi, Kak, are you sure? I mean, yeah we kissed a lot. But we're just—"

"I'm yours. It's normal when couples to do that, right? Or you don't want to—"

"No, I want." Seketika malu sendiri karena begitu lantangnya. "I-I'll make you satisfied. I promise."

"Okay, I'll be waiting for naughty Dimas."

"Don't say that."

"Why? It's cute."

"No..."






***






Dimas cukup heran melihat keadaan rumah yang begitu sepi saat ia tiba. Tapi yang membuatnya lebih heran lagi adalah keberadaan kakak sepupunya yang datang tanpa memberinya kabar apapun sedang duduk manis di ruang tamu.

"Mama ke mana, Kak?" Dimas langsung mengambil tempat duduk di seberang, kemudian melepas kemeja dan hanya menyisakan kaus hitam di tubuhnya.

"Pamitnya mau ketemu temen."

Hanya mengangguk kecil, tapi jadi salah fokus karena jumlah gelas di meja. "Lo ke sini sama siapa?"

Sebelum laki-laki itu menjawab, muncul laki-laki lain yang sepertinya baru kembali dari kamar mandi. Cukup lama menatap Dimas sebelum dia mengulurkan tangannya.

"Jian," katanya, memperkenalkan diri.

"Dimas." Dimas membalas jabat tangannya sebelum melirik laki-laki di sofa kembali. "Pacar lo, Kak?"

Harsa mengangguk, kemudian menepuk sofa sebelahnya untuk Jian duduki. "Jadi gimana tuh? Lo beneran cuma trial aja?"

Setelah come out hari itu keduanya memang menjadi semakin dekat, Dimas juga sering menanyakan saran pada Harsa tanpa segan. Selain karena Harsa adalah kakak sepupu, laki-laki itu juga sudah berpengalaman akan hal ini.

"Bingung gue bilangnya gimana. Alasan itu kayak udah nggak berguna lagi."

"Udah seberapa jauh emang?" Kali ini Jian yang bertanya.

"Bisa dibilang, kayak pasangan pada umumnya."

"Udah pernah?"

"Apa?"

"Sex."

"N-no c-comment."

Respon Dimas langsung membuat Jian menepuk perlahan pundaknya. "Kenapa? Masih ragu?"

Entah mengapa kekasih Harsa ini selalu menyelipkan tuntutan atas setiap jawabannya. Membuat Dimas bingung sekaligus gugup karena seakan sedang berada di ruang interogasi. 

"This is his first time, Ji," bela Harsa. "Kasih tips and trick coba."

"Beneran first time?"

"N-no comment!"

Jian masih menatapnya, memperhatikan dari atas hingga bawah. "Coba liat punya lo."

"Hah?"

"Your safety item."

"Ya belum beli. Nggak akan dalam waktu dekat ini juga."

Kali ini tangannya merangkul pundak Dimas dan memaksanya untuk sedikit mendekat. Jian kembali bertanya, "Are you top or bot?"

First Time Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang