5 | sepatu Gerald beban

63 54 11
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

"Dia sama Raya ...,"

"Apa?"

Kini Gervin menatap gadis itu lebih dalam, "mereka pernah ke bar bareng. Kamu tahu, kan, apa yang orang lakukan di bar? Kamu bisa terbayangkan hal itu tanpa kamu membayangkannya terlebih dahulu. Ayolah, aku lebih baik daripada Raja." Jelasnya, di penghujung kalimat ada nada membujuk.

Clara termenung sejenak menerka-nerka perkataan Gervin yang begitu ambigu. Sebenernya dalam lubuk hatinya ia menyukai Raja, tetapi setelah mendengar penjelasan dari laki-laki di sebelahnya membuat dirinya sedikit ilfil, namun juga tidak percaya.

Sampai pada akhirnya Clara lebih memilih Gervin di bandingkan dengan Raja.

Gervin tersenyum miring mengingat kejadian tersebut. Dengan mudahnya ia merebut seseorang tanpa adu jotos terlebih dahulu bersama Raja.

Beberapa detik kemudian dirinya merasa jengkel mengingat wajah Raja yang begitu membuatnya muak.

"Sial, aku merasa kesal! Alam, mari kita membuang sepatu milik si culun lagi." Ajak Gervin seraya berdiri dari tempatnya melirik ke arah temannya.

Alam mengangkat kepalanya menatap Gervin dengan senyuman jahat yang terlihat jelas di Indra penglihatan teman-temannya. Dengan mendelikkan satu alisnya mengarah ke tempat rak sepatu.

Keduanya mengambil sepatu milik Gerald lalu menendangnya dengan kuat ke arah ruangan yang di renovasi tepat di samping kelasnya. Tidak peduli jika sepatu itu rusak atau hilang sebelah sebab Alam dan Gervin menendang ataupun melempar berbeda arah.

Gerry tertawa puas melihat itu. Begitu juga dengan Alim yang masih meminum Coca-Cola miliknya dengan santai. Entahlah, mereka selalu menikmati suatu hal di atas penderitaan orang lain yang belum tentu orang tersebut tidak terluka.

ʕ⁠'⁠•⁠ᴥ⁠•⁠'⁠ʔ

Kring!!!

Suara bel yang di tunggu-tunggu oleh siswa-siswi sejak tadi. Terlebih lagi kelas XII IPS B, mereka semua sudah begitu bosan dengan pelajaran sejarah. Apalagi saat bapak Arka menjelaskannya panjang lebar persis seperti di ceritakan dongeng yang siap siaga menghantarkan seseorang untuk tidur lebih nyenyak.

Contohnya seperti Raya. Gadis pintar dan cerdas yang tak pernah tertidur saat jam pelajaran pun, ikut tertidur mendengar intonasi suara dari sang guru bertubuh bongsor tersebut, dengan kacamata yang melekat pada pangkal hidung mancungnya.

Satu persatu isi kelas XII IPS B mulai beranjak dari tempat duduknya. Ada yang berdesak-desakan, bergegas memasukkan buku-buku yang berserakan di atas, lalu ada yang terlihat santai keluar dari kelas dan ada juga seseorang yang masih belum beranjak dari tempatnya.

Dia adalah Gerald. Sekarang hanya dirinya saja yang tersisa. Kelas begitu sepi dan sunyi seketika. Laki-laki itu pun akhirnya beranjak dan keluar kelas. Tak lupa menutup pintu kelas dengan rapat sebelum mengambil sepatu.

Lagi-lagi sepatunya menghilang begitu saja. Gerald mencari ke situ kemari mencari keberadaan benda tersebut, tetapi nihil. Ia tak menemukan sedikit pun jejaknya.

Terdengar hembusan nafas pasrah, "sepatu hilang lagi, sandal nippon pun gada. Ya sudahlah," gumamnya menyerah.

Gerald benar-benar tidak menemukan sepatunya. Berakhir hanya beralaskan kaos kaki putih pendek yang melekat pada kakinya.

Ia menahan rasa sakit yang ada di kakinya saat ini. Menginjak kerikil kecil yang ada di sekitar area mendekati gerbang sekolah dengan perlahan. Kaki kanannya saja belum sembuh total.

Laki-laki itu menyipitkan matanya melihat sosok perempuan yang bersandar di pagar sekolah dengan tas merah muda yang melekat pada punggung kecilnya.

Ia berjalan lebih cepat lagi mendekati gadis tersebut. Dan benar saja dugaannya bahwa dia adalah Raya dewantara.

"Kenapa belum pulang?" Pertanyaan itu berhasil membuat gadis tersebut terperanjat kaget.

"Ngagetin aja!" Hardiknya.

"Maaf, Ray." Jawabnya sesal.

Raya menghela nafas panjang, "nih sepatu kamu." Sembari menyodorkan sepatu milik Gerald.

Ya, gadis itu tak sengaja melihat sepatu Gerald di depan kelas yang di renovasi saat pulang sekolah. Awalnya hanya sebelah, Raya pun bertekad mencari sebelahnya lagi yang ada di dalam ruangan tersebut.

"Ko ada di kamu?"

Gadis cantik itu menyengir kuda, seraya menggaruk kepalanya menatap Gerald.

•••

Seru ga si cerpennya?

Vote dan komen ygy

Sehat selalu pembaca mommy ❤️

Next ga nih?!!!

NEXT!!!!

Gerald vernando | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang