3 | sepatu yang hilang

63 60 9
                                        

•••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

•••

"Sepatu Gerald yang mana, sih? Ini ada dua pasang. Mana sama lagi bentukannya," ungkap Rara pada Alam dengan nada pelan.

"Itu doang, kamu ga tau dodol." Umpat Alam pada gadis di sampingnya.

Gadis itu memilah milih sepatu yang berbentuk sama. Dari warna, merek sepatu, bahkan ukurannya. Hanya saja sepasang sepatu satunya itu lebih baru dan juga tidak usang.

Hal itu memudahkan seorang Alam dalam hal ini. "Tuh ambil yang sebelah kiri, paling buluk. Aku yakin itu punya dia," titah Alam yang tak ingin memegang sepatu Gerald.

"Oh ini," tunjuk Rara pada sepatu milik teman sekelasnya tersebut. Kemudian mengambil sepatu itu dengan plastik putih yang sudah dia bawa. Tentu saja Rara tidak akan menyentuh sepatu itu dengan langsung alias tanpa penutup, bisa di pastikan tangannya akan gatel setelahnya.

Ia mengambil sepatu Gerald sebelah kanan dengan hati-hati, lalu memasukkan ke dalam plastik. Di rasa semuanya aman tanpa ada yang melihat Alam pun bersuara.

"Ikutin sini," ujar Alam meminta gadis itu untuk ikut padanya.

Mereka berdua berjalan ke arah kelas sepuluh IPA A dan meletakkannya di rak sepatu tersebut. Keduanya pun bergegas pergi dari sana saat semuanya sudah beres.

Alam dan Rara tersenyum lepas setelahnya. Berjalan dengan santai dan juga ada rasa senang dalam hati keduanya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

"Di pikir aku ga tau apa, kalian bakal ngelakuin hal jahat lagi pada Gerald." Gerutu Raya yang mengikuti kedua orang tersebut tanpa ketahuan.

Gadis itu mengendap-endap seperti maling ingin mencuri sepatu di depan kelas sepuluh IPA A, untung tak ada yang melihat dirinya mengambil sepatu milik Gerald.

Raya berlarian menjauh dari kelas sepuluh dan bergegas menuju ruang UKS, tanpa di duga tiba-tiba saja seorang laki-laki muncul dari balik tembok di depannya dan menabraknya tanpa sengaja.

Keduanya meringis kesakitan. Raya meringis karena dahi mulusnya terkena dahu milik laki-laki tersebut. Sedangkan laki-laki itu meringis sebab dua hal, yang pertama dagunya yang terasa ngilu di hantam dengan kerasnya, dan kedua kakinya yang terluka terinjak oleh seseorang dari depan.

Hampir terjatuh karena kepalanya berdenyut keras dengan tiba-tiba, untunglah berpegangan dengan tembok di sampingnya bisa terselamatkan.

Gerald memijat pelipisnya sedikit keras. Di rasa sudah lumayan baik ia pun mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk dan menatap gadis di depannya.

Sedikit terkejut melihat gadis di depannya adalah Raya dewantara. Namun ekspresi wajah yang tidak berubah. Gerald menatap heran padanya, pasalnya sepatu yang ia cari ada di tangan gadis tersebut.

Raya yang mengerti akan tatapan Gerald pun menjelaskan kenapa sepatu laki-laki itu ada di tangannya.

"Ah, itu, anu ... Ala-"

"Tidak usah di jelaskan, Raya. Aku ngerti kok maksud kamu," ucapnya menyela perkataan Raya terbata-bata.

Gadis di depannya langsung menyodorkan sepatu sang pemilik dan di terima oleh Gerald dengan baik.

"Makasih, Raya." Ucapnya, kemudian berbalik ke arah ruang UKS dengan perlahan.

Ingin sekali Raya berbicara lebih banyak pada laki-laki tersebut, hanya saja dia lebih menutup diri dan tidak suka terlalu banyak interaksi sosial.

Raya memakluminya. Ia tahu bagaimana perasaan laki-laki itu sekarang, pasti sulit menerima takdir yang begitu berat yang di jalani Gerald. Ia berharap, semoga saja teman sekelasnya bisa bertahan hidup di dunia fana yang kejam dan jahat ini.

ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠'⁠ʔ

"Lah, ko bisa dapet sepatunya?!" ucap Alam kaget seraya menyenggol lengan Rara yang sedang bermain ponselnya.

Selepas mengerjai temannya itu, empat serangkai dan juga Rara duduk di depan kelasnya. Tentunya di sana ada sofa panjang tak terpakai yang ada di rumah si kembar, mereka pun berinisiatif untuk membawanya ke sekolah. Beruntung pada guru tidak ada yang keberatan akan hal ini.

Dari kejauhan Rara melihat Gerald berjalan dengan perlahan mendekati mereka. "Ga ngerti juga, Lam. Udah lah, lagi malas berurusan sama si culun. Aku mau ke dalam kelas aja," sergahnya lalu melengos pergi dari sana.

"Udah, biarin aja dia tenang dulu. Kasian juga liatnya," tandas Alim.

"Namanya juga Alam. Ga puas kalau ga nyakitin orang sehari aja," sambar Gerry.

Gervin mengangguk setuju. "Lagian cuman dia yang ga pernah ngelawan kita, pas kita kerjain." Imbuhnya menatap ke arah Gerald, bertepatan laki-laki itu sampai di depan dirinya dengan kepala tertunduk.

Gervin berkata benar. Gerald tidak pernah melawan ataupun membantah, walaupun sebenarnya dari dalam lubuk hatinya benar-benar menjerit meminta menolak semua rasa sakit dan juga rasa lelah yang di terima secara bertubi-tubi.

Gerald tidak berani melawan karena statusnya yang lumayan rendah dari para empat serangkai. Tidak pernah menolak, sebab tidak ingin menambah rasa kesal mereka. Ia tahu, jika melawan mungkin saja dirinya akan di keluarkan dari sekolah. Dan jika menolak bisa jadi empat serangkai semakin menyakitinya dengan berbagai macam cara.

"Gerald?" Panggil seseorang membuat empat serangkai menoleh ke arah gadis tersebut.

•••

Huhuhuhuu terlalu bersemangat sampe banyak typo😖🙏🏻

Lope lope buat yang baca jangan baper tapi, ya!!!😇

Pen nulis lebih banyak, takutnya ga sampe chapter 10 udah end😩

Gerald vernando | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang