10 | Gerald dan lukanya.

63 50 20
                                        

WARNING⚠️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

WARNING⚠️

TINDAKAN DAN PERILAKU SEPERTI INI TIDAK PANTAS UNTUK DI TIRU, HARAP BIJAK DALAM BERPERILAKU ATAUPUN BERTINDAK! TIDAK BERMAKSUD UNTUK MENGAJARI KALIAN MELAKUKAN HAL YANG TIDAK DI INGINKAN.

INI BENAR-BENAR TIDAK UNTUK DI TIRU, APALAGI DI PRAKTEKKAN ❗❗❗


•••

"Raya ... Kamu orang pertama yang selalu menolongku tanpa di minta. Entah apa alasanmu mau menolongku, tapi aku harap suatu hari nanti kamu akan tetap ada di sampingku. Aku merasa ada seorang malaikat yang menolong ku di sini, tanpa memikirkan omongan orang lain dan terus membantuku tanpa pamrih."

"Terdengar sangat egois jika aku memintamu untuk tetap tinggal denganku, berada di sekitarku dengan penuh duri yang berjejer di setiap jalanku. Maaf, Raya, jika aku selalu merepotkan mu dan juga membuatmu khawatir. Padahal kamu ga perlu khawatirin aku, karena aku sudah biasanya dengan semua ini." lanjutnya yang membuat gadis itu benar-benar meneteskan air mata.

Tanpa diminta Raya langsung memeluk Gerald dengan sangat eratnya, menangis mendengar semua jawaban dari temannya itu. Entah seberapa luka yang di dapatkan laki-laki itu setiap harinya.

Raya sungguh-sungguh ingin selalu berada di samping Gerald. Memeluknya untuk memberikan energi agar kuat, menggenggam tangannya dengan erat menyebrangi jembatan yang begitu rapuh, dan memberikan sedikit kata-kata motivasi untuk terus hidup di dunia yang tidak adil ini.

"Gerald ..." lirih Raya dalam pelukan laki-laki itu.

"Kenapa, Ray?" Tanyanya.

"Jangan sakit lagi. Kalau terluka kamu bisa ke aku kapan aja untuk mengobati luka-luka mu itu, aku akan siap mengobati semua lukamu."

Pelukan itu merenggang. Raya menatap manik mata indah Gerald seraya memegang kedua bahu itu. Walaupun salah satunya dengan lengan, sebab eskrim ada di salah satu tangannya yang sudah hampir meleleh.

"Kamu denger, kan, apa yang aku bilang tadi?!" ujarnya meyakinkan laki-laki tersebut.

"Kamu itu terlalu baik, Ray. Aku ga sebaik yang kamu pikirkan." Katanya sembari melepaskan tangan gadis itu dan menyampingkan tubuhnya seperti semula.

Sekarang keduanya tidak saling berhadapan, tetapi berdampingan menatap awan sore yang semakin men-jingga di seliri memakan eskrim yang sejak tadi menetes.

Tidak ingin menyia-nyiakan eskrim pemberian gadis itu, Gerald bergegas menghabiskannya. Begitu juga dengan Raya.

Waktu terus berlalu sampai jam pun menunjukkan pukul setengah enam sore. Langit mulai gelap, bahkan bulan pun sudah mulai terlihat. Menggantikan senja yang begitu indah dilihat langsung oleh indra penglihatan tanpanya ada penghalang.

Penyuka senja akan selalu menanti kedatangan sore hari. Penyuka hujan akan selalu menunggu hari itu kembali. Dan penyuka makhluk hanya bisa berharap, akan ada pembalasan cinta dari sang di harap.

Gerald vernando | ENDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang