"Dibalik Karang"

35 8 1
                                        




November 2017


Duk

Duk

Duk

"Kak Bunga!".

Karang yang baru saja sampai dilapangan basket memanggil Kakaknya. Bunga terlihat memantul-mantulkan bola basket dan sesekali melemparnya ke dalam ring berulangkali. Karang membeo melihat Kakaknya seolah tidak terganggu sedikitpun, padahal suaranya sudah nyaring sekali ketika memanggil Kakaknya itu.

Biasanya Kakaknya akan sadar kehadiran suara panggilan dalam sekali saja. Tetapi, kenapa hari ini sulit sekali mendapatkan perhatiannya? Bahkan Karang sudah beberapa kali meneriaki Kakaknya atau ia juga turut memanggil seraya mendekatinya yang masih serius memainkan bola basket.

Karang berdecak. Sebal karena sang Kakak seolah sengaja mengabaikannya. Lantas, ketika sang Kakak masih setia memantulkan bola basket ke lantai lapangan yang dingin, Karang menyentuh pundak sang Kakak lembut. "Kak Bunga!".

Biasanya Kakaknya ini sangatlah tenang jika seseorang tanpa disadari mendekatinya atau mengejutkannya. Tapi, kenapa respon Kakaknya sore ini mendadak berlebihan. Seperti ia begitu terkejut sampai menjatuhkan bola basketnya keras. Belum lagi ekspresi paniknya yang kentara. Karang mengerutkan dahinya sejenak sampai ia harus menertralkan air muka setelahnya.

Karang mendengus. "Kak Bunga kaget banget, ya?". Tanya Karang bingung. Bahkan tidak sadar wajahnya sudah berubah menjadi aneh melihat Kakaknya.

Bunga, yang ditanya terdiam sejenak. Lantas ia menghela napas dan tersenyum. "Kamu kok gak panggil kakak kayak biasanya sih? Kalo Kakak jantungan gimana". Ujar Bunga sembari terkekeh diakhir kalimat. Merasa lucu saja ketika membayangkan kalau ia benar-benar terkena serangan jantung dan mati.

Karang merengut sembari melihat Kakaknya kembali membungkuk untuk mengamit bola basket yang ia jatuhkan tadi. "Aku udah panggil Kakak lo! Keras banget. Tapi Kakak gak dengar panggilanku. Makanya aku langsung samperin aja". Sungut Karang merasa sebal karena Kakaknya benar-benar tidak mendengar panggilan kerasnya.

Bunga mengerjap seraya memandangi bola basket yang kini sudah ada di kedua telapak tangannya. Lantas, ketika ia sadar dari keterdiaman. Bunga terkekeh geli " Maaf deh, Kakak beneran gak denger". Jawab Bunga sesingkat mungkin kemudian melempar bola basket kedalam Ring keras sampai Karang berjengit ketika mendengar benturan antara bola basket dan besi Ring. Bunga sengaja melakukannya hanya untuk menetralkan detak jantungnya yang kecang akan pernyataan Karang, memang ia tidak mendengar Karang memanggilnya. Bunga memiliki gangguan pendengaran saat umur 13 tahun. Sudah parah ternyata.

Karang mendengus tapi ia juga mengangguk. Tidak baik menyimpan kekesalan terhadap Kakak sendiri. Lagi pula Karang sangat menyanyangi Kakaknya. Baginya Kakaknya itu adalah segalanya.

"Kamu kok belum pulang? Habis dari mana?". Bunga membuka suara seraya kembali memainkan bola basket.

"Aku habis selesai les sains, kak. Terus aku pikir mau langsung pulang aja. Tapi, liat Kakak disini jadi aku samperin". Karang berucap menceritakan kegiatannya sehingga membuat dirinya sampai dalam waktu sesore ini untuk pulang.

Tak ada jawaban dari Bunga. Gadis itu mengerti dalam diam. Kalau di pikir juga Karang adalah siswa yang rajin. Anak itu selalu aktif dalam mengikuti kegiatan sekolah. Bahkan aktif juga dalam kejuaraan akademi. Tidak heran kalau Karang sampai harus mengorbankan waktu bermain hanya untuk nilai sekolah yang tinggi.

Lagi pula ini adalah jalan untuk Karang menggapai impiannya. Jadi, Bunga tidak harus menghentikannya kan? Meski ia juga kasihan kepada anak itu sebab selalu merasa lelah pada malam hari.

Jaga Bunga DikarangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang