Stay with me

17 3 0
                                        






"Bunga. Hei! Hei!! Bangun!!".

Kegelapan yang menenggelamkannya kini seolah tetarik hilang ke atas permukaan begitu saja, ketika Bunga mendengar samar seseorang memanggilnya dan cahaya samar itu menghampirinya. Ia sadar seseorang menginginkannya, namun Bunga tidak bisa menemukan keberadaan sosok itu. Yang ia tahu sosok itu terus-terus saja memanggilnya seolah tidak ingin tenggelam dan hilang --- dan itu berkerja.

Siapa disana?

Matanya terbuka--- sangat kecil dan sayu. Seolah tak ada kehidupan --- jelas mata itu tampak kosong dan hilang fokus. Mata kelam yang sedari terpejam itu mencapai pada titik hilang cahaya --- tak ada warna dan hanya gelap seperti mata yang buta.

"Bunga!! Hei!! Jangan tidur!! Tolong, please!!".

Tidur?

Bilah tipis bibir kering dan memutih itu tampak tertutup rapat, jiwanya seolah tenggelam sampai tak bisa menyeruakan keinginan. Melainkan merasa dinginnya angin pun tak bisa membuatnya mengigil --- Sebab, bunga sudah merasa seluruh tubuhnya begitu kedinginan dan sangatlah ringan. Bunga tidak bisa merasakan tubuhnya --- seperti ia tidak bisa merasakan bagaimana sosok itu mendekapnya dengan gemetaran.

Dalam heningnya tanpa batas, Bunga tidak mengerti ia bisa mendrngarkan detak dalam nadinya begitu pelan. Bunga tidak menyadari bahwa nafasnya kini semakin melambat.

"Please, please, please stay with me!!".






















Jaga meremat kepalanya yang basah akan keringat. Tangannya sudah ada bercak darah. Remaja laki-laki itu terduduk dikursi lorong rumah sakit yang temaram dan sepi. Jaga sudah ada disana sangat lama, mungkin ia tidak sadar bahwa saat ini sudah memasuki pukul 3 dini hari.

Jaga hanya bisa menunggu diluar, sangat berbanding balik dengan hatinya yang gelisah.

Derap langkah seketika menggebu, di ujung lorong beberapa orang berlari untuk mendatanginya. Jaga terkesiap segera ia langsung berdiri dari duduknya, ia menatap semua orang disana dengan gelisah yang semakin menjadi.

"Jaga".

Jaga menarik napas, ia menatap Papanya dengan mata yang merah. Kemudian, sang papa meraih pundak anaknya. "Papa, d-dia berdarah, ma-maksudku dia dia muntah darah, aku tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya aku--errgh". Jaga berkata berantakan, fokusnya hilang, nada gemetaran, kentara panik dan frustasinya. Sang Papa segera memeluk anak ketiganya itu agar lebih tenang. Pria itu mengusap bahu anaknya, "Tenanglah, nak. Tenang".

Nafas Jaga menggebu dalam pelukan Papanya, matanya makin memerah seolah siap untuk menangis, namun jaga menahan. Setelah sekian lama papa melepaskan pelukan itu dan membawa anak ketiganya untuk duduk. Ia menatap anaknya dalam. "Tenanglah, ia kan baik-baik saja". Ungkapnya mencoba menyakinkan anaknya, memotivasi Jaga agar anak itu tidak terlalu dalam untuk merasakan frustasi apalagi kepanikannya sendiri.

Sang mama berjongkok didepan sang anak, ia mengggenggam tangan anaknya yang penuh bercak darah erat, sisi tangannya mengusap surai Jaga. Jaga menatap mamanya yang tersenyum, "Apa yang terjadi didalam?".

"Tulang rusuknya patah. Dokter mengambil operasi darurat". Ujar Jaga sedikit lebih tenang.

Sang mama mengangguk, "Kita harus menunggu sampai selesai".

Jaga mengiyakan dalam hati, ia tidak sanggup untuk mengatakan apapun lagi. Di otaknya masih terekam jelas bagaimana Bunga hampir mati didepannya. Bagaimana ia bisa tahu? Atau bagaimana bisa ia menyelamatkan bunga?
Sangatlah panjang.

Jaga Bunga DikarangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang