Hadiah

31 1 1
                                        





Deru mesin motor menghilang, Jaga menurunkan standar motor, baju seragamnya banyak titik rintik hujan, wajah laki-laki itu agak basah karena tetes tetes hujan.

Setelah Bunga memintanya berhenti di persimpangan jalan, Jaga segera memberhentikan laju motornya di pinggir jalan.

Bunga turun dengan pelan dari motor, berdiri disamping Jaga yang sibuk mengelap wajahnya menggunakan kain lengan jaketnya. Kemudian gadis itu melihat langit malam yang berkilat karena kilat petir kecil dibalik awan. Kemudian, gadis itu meraih helm untuk membuka pengait kuncinya ---- namun sulit. Entah apa yang terjadi namun sepertinya pengait kunci helmnya rusak.

Jaga yang sudah lama memandangi Bunga yang sibuk sendiri itu mulai mengulurkan tangan untuk membantu. Jaga menyentuh jari-jemari gadis itu dan membawanya turun --- agar ia bisa membukakan pengait kuncinya. Tindakan itu membuat Bunga mematung, tidak ada yang lebih terkejut ketika jari-jemarinya di genggam seorang laki-laki --- untuk pertama kali.

"Kalo gak bisa itu jangan diem, minta bantuan orang". Tukas Jaga pelan. Laki-laki fokus membantunya.

Dalam sejengkal yang Bunga bisa, gadis itu dapat melihat wajah Jaga berada didepan matanya. Seakan dunia melambat, Bunga dalam diam melihatnya. Berkedip pelan ketika melihat alis tebal diwajah itu, rasanya Bunga ingin menyentuhnya ---- namun bunga tidak akan menyentuhnya. 

Dan ketika Bunga merasakan Jaga berhasil membuka pengaitnya dan melepaskan helm dikepalanya, Bunga tersadar, segera gadis itu kembali mendengarkan ocehan Jaga seorang diri.

Bunga menyengitkan mata, gadis itu baru sadar Jaga merupakan manusia yang sangat cerewet. Manusia yang menyebalkan baginya.

"Lagian kenapa lo minta gue berenti disini sih? Kemarin-kemarin gue anter lo sampe rumah juga gak papa". Oceh laki-laki itu sambil menaruh helm di motornya.

Bunga diam, gadis itu hanya menatap Jaga dengan datar. Ia lelah menghadapi Jaga terlalu ekspresif. Lagi pula tidak ada penyataan yang bagus untuk menjawab. Melihat Bunga hanya diam, membuat Jaga akhirnya mengalah ditambah kilat petir semakin intens. "Udah pulang, tuh petir makin gede". Ucapnya pelan sembari melihat Bunga.

Bunga berdehem, kemudian ia membalikan tubuhnya berniat pergi dari sana. Namun, Jaga menarik tasnya. Membuat Bunga kembali menatapnya seolah --Ada apa--. "Tadi gue dapet lotre". Ungkapnya sembari memasangkan gantung kunci kepala kuromi ditas gadis itu.

Gadis itu menatap itu. Ia sedikit terkejut Jaga tiba-tiba memberikan sesuatu untuknya. Entah berdasarkan apa sangat tidaklah jelas. "Kenapa? Aku tidak butuh". Ungkap Bunga tajam.

"Saudara gue cowok semua. Kenapa harus gue yang nyimpen?". Jawab Jaga setenang mungkin, bahkan ia menahan jengkelnya didada. "Anggap aja itu hadiah dari gue. Dan lo harus tanggung jawab untuk menjaganya". Sambung Laki-laki itu serius.

Sekali lagi Bunga melihat gantungan kuromi itu yang sudah terpasang di tasnya, hatinya mendesah dengan rasa kerepotan luar biasa. Menjaga sesuatu adalah hal yang tidak pernah ia lakukan. Bagaimana cara menjaga yang baik, ia tidak pernah di ajrkan. Didalam hidup yang tidak terjaga ini, sungguh melelahkan sesuatu. Tidak mati saja rasanya sangat bersyukur.

Tanpa menjawab lebih panjang, Bunga hanya menatap Jaga lalu pergi meninggalkan laki-laki itu. Membuat Jaga berkedip dan sedetik berteriak memintanya untuk menjaga benda pemberiannya. Tidak ada yang spesial, seperti biasa.

Setelah Bunga meninggalkannya, berjalan dilorong jalan, berbelok dan tenggelam di dalam gelap. Jaga masih disana. Melihat bagaimana gadis itu berjalan jauh sendirian.

Jalanan itu jauh, dan Bunga repot untuk meminta berhenti. Untuk apa?

Jaga akhirnya turun dari motor, laki-laki itu mulai mendorong motornya ke angkringan malam. Ia menitipkan motornya disana sebentar kepada pemilik angkringan --- beralasan mencari bahan bakar terdekat.

Jaga Bunga DikarangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang