"Karma"

55 5 0
                                        



Sebenarnya tidak ada kekurangan dalam keluarganya. Dika memiliki keluarga bahagia, sangat menyanyanginya. Dika punya segalanya. Dika punya seorang adik kecil yang sangat jauh perbedaan usianya --- Kini usinya menginjak 16 tahun dan adiknya berusia 10 tahun. Mereka berdua memiliki banyak kesamaan, membuat mereka sangat dekat --- Hubungan mereka sangat baik. Kemudian, Papa tirinya adalah orang yang sangat baik dan penyanyang. Tidak ada yang salah darinya, tidak juga membedakan antara Dika dan anak kandungnya sendiri, mereka memiliki porsi yang sama. Lalu, Mamapun masih seperti dahulu, menyanyanginya suka dan duka, hanya sosoknya yang sejak dulu bersama hingga kedatangan dua keluarga baru di hidupnya.


Dika punya keluarga sempurna, ia punya cinta yang utuh. Namun, tetap saja jauh dalam dilubuk hatinya, entah mengapa ia merasa ada kekurangan. Dika tidak begitu mengingat, namun ia begitu merasakan ada seseorang yang bersamanya sejak ia kecil selain mama. Seseorang yang selalu memeluknya, menemaninya tidur, atau bahkan membuatnya tertawa.

Dika tidak tahu. Apakah itu halusinasinya atau kenangan ia dimasa kecil, sebab mamapun tidak pernah membahas atau menyebutkan barang kali memiliki hubungan lain dengan seseorang. Atau kah ini hanya mimpi di masa kecilnya?

Namun, sejujurnya Dika tidak pernah mengerti mengapa ia selalu merindukan sosok itu? Terlebih mama seperti enggan untuk berurusan menjawab ceritanya bahkan tanyanya tak kunjung didengar.

Pernah sekali ia bertanya, saat itu ada papa, ia menceritakan gelisahnya, berkata bahwa ia merasa selalu merindukan seseorang yang bahkan ia tidak tahu, menyebutkan seseorang itu selalu muncul di benaknya, namun, mama enggan untuk membuka suara, mama menyuarakan kekesalannya yang tiada arti dan percakapan itu berakhir begitu saja. Kenapa?. Dika tahu, bahkan papanya pun tidak tahu. Percuma, ia akan bertanya.
Dan sejak saat itu, Dika mulai mengetahui bahwa mama merahasiakan sesuatu darinya.

Ia tidak bisa membohongi perasaan yang selalu membuatnya merasa gundah dan sesak. Meski ia selalu mencoba melupakan rasa sesal itu, entah kenapa terasa sangat mencekik nafasnya. Yang pada akhirnya ia selalu menanggung rasa rindu yang teramat sangat.

Dika menghela napas, memukul dadanya yang lagi dan lagi berdetak lebih kencang. Malam ini ia mulai gelisah kembali, entah pada apa. Jam sudah menunjukan pukul satu malam, ia kembali merasa kesulitan tidur.

Dika bangkit dari kasur, mendudukan lalu menyandarkan tubuhnya pada kabin ranjang. Selagi menunggu kantuk datang --- bila saja -- Dika berusaha menenangkan detak jantungnya yang membara, apa lagi kali ini?.

Awalnya ia kira terkena serangan jantung, namun ketika ia mengadukan pada dokter, ia sehat, tak ada penyakit yang di deritanya. Lalu apa?

Ditengah ia mencoba mengontrol detak jantungnya dengan cara tarik dan hembuskan nafas, sedikit geli sebab sikapnya seperti ibu-ibu yang hendak melahirkan, Dika mendengar knop pintunya di putar dari diluar. Sejenak ia mengumpat dalam hati, ia lupa mengunci pintu kamarnya.

Normal saja, Dika sama seperti sebagian orang di bumi ini, sama seperti seluruh kaum introvert di dunia ini, tidak suka ruangannya diganggu atau dimasuki orang lain termasuk keluarga sendiri, jelas!!

"Oh jagoan papa belum tidur, ya?". Itu papa, tidak aneh sama sekali, papanya itu selalu tidur larut malam, sebab selalu mengecek double perkerjaannya untuk esok atau tiba-tiba lembur untuk mengejar target untuk perusahaan. "Loh kenapa engep gitu? Kamu latihan praktik IPA tema melahirkan, ya?". Tanya papa heran, bahkan pria paru baya itu sempat cengo dibuatnya.

Dika yang mendengar itu memutar bola mata malas, lalu berucap "Gak tau, tiba-tiba sesek". Ungkap Dika dengan suara yang berat.

Papa mendekat dengan tegas, mendekati sang anak dengan wajah khawatir. "Kenapa bisa? Kamu setelah pergi dari rumah semingguan, pulang-pulang malah babak belur begini. Kenapa sih?". Ungkap sang papa, dibalik suaranya yang pelan dan lembut ada rasa jengkel dan khawatir tersirat, bahkan papa tidak sadar perkataan terakhirnya sedikit meninggi.

Jaga Bunga DikarangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang