Bungsu Danurdara ini tengah menikmati makan malamnya, disuapin oleh ibu. Sebenarnya Karang tidak memiliki nafsu makan akhir-akhir ini, sebab perutnya mual dan Karang hanya ingin memuntahkan isi perutnya saja. Sering kali Karang turut tidak menghabiskan makanannya, namun sang Ibu selalu bersabar dan tenang, ibu selalu mencintainya.
Karang merasakan usapan lembut di pucuk kepalanya. Karang segera menatap ibu --- Amarta --- sosok wanita paruh usia tiga puluh tiga ini masih begitu cantik dengan tubuh yang masih ramping nan bugar. Sosok ibu sederhana, anggun, luwes, dan penuh kasih sayang --- untuknya. Karang bersyukur memiliki sosok ibu yang amat mencintainya.
"Ibu, udahan ya?". Karang berkata lirih, sebab demam di tubuh membuatnya lemas. "Mual". Sambungnya memelas.
Terdengar sang Ibu menarik napasnya ini baru suapan ke lima dan Karang sudah meminta berhenti, ada rasa kesal dihati tentang penyebab anak satu-satunya sakit seperti ini. Anak sialan itu.
"Ya udah, tapi kamu jangan lupa harus banyak minum air, oke?". Ungkap Ibu.
Karang mengangguk pasti. Ia harus meminum air sebanyaknya sebab demam dengan panas tinggi seperti ini membuat tenggorokannya ikut terinfeksi. Sang ibu tersenyum, kemudian menganbil obat demam dan memberikannya kepada Karang.
Karang memangut obat itu, meski agak sedikit dejavu karena mengingat dirinya sudah terlalu sering mengkonsumsi obat sejak kecil, Karang tetap merasa aneh dan jengkel. Karang tidak banyak bicara, si bungsu keluarga itu cepat menegak obatnya di bantu sang Ibu.
Karang memberikan segelas air itu pada Ibu, lantaa Ibu mengamitnya dan kembali meletakan di meja nakas samping tempat tidur. Kembali, sang ibu mengusap pucuk dahi anaknya yang basah oleh keringat dingin, Karang yang sibuk menghilangkan rasa pahit obat dilidahnya hanya diam sembari menikmati sentuhan lembut dari Ibu.
"Pahit banget ya?". Tanya Ibu memandangi anak satu-satunya sedih. Karang menyanggupi tanya Ibunya. "Sabar sebentar lagi ya sayang. Biar cepet sembuh demamnya". Ungkap sang ibu kepada si bungsu. Lantas, Karang hanya mengangguk tak sanggup untul mengeluarkan suara karena rasa mual setelah meminum obat itu semakin menjadi saja, rasanya Karang ingin memuntahkan lagi isi perutnya namun ia tahan.
"Ya sudah. Kamu harus istirahat". Ibu segera mengajak Karang berbaring, membenarkan selimut anak itu, dan mengecup dahi panas anaknya. Karang hanya bisa diam tanpa kata seolah anak itu lagi dan lagi dejavu serta menyanyangkan perlakuan lembut dari sang Ibu padanya. Karang menatap Ibu yang sibuk membereskan alat makannya itu dengan sendu.
"Ibu".
"Hem? Ada apa? Kamu perlu apa?". Jawab Ibu dari panggilan si bungsu dengan lembut dan perhatian. Sang ibu juga kembali menaruh atensinya kepada Karang dengan sepenuhnya.
Karang terdiam sebentar dengan menggigit bibir dalamnya dengan sedikit gemetar. Karang ingin menanyakan namun hatinya ragu untuk mengizinkannya. Bibir Karang gemetar dengan mata kantuk khas orang sakit itu sedikit memanas. "Ibu, Kak Bunga udah pulang?".
Senyuman di wajah cantik Ibu masih ada. Namun, bukan berarti bahwa Ibunya suka atas tanyanya mengenai Kakaknya. Tatapan Ibu sudah berubah meski Karang tahu Ibu tidak akan begitu jika padanya. Sikap Ibu akan berubah jika nama Bunga disebutkan oleh mulutnya.
Ketika ibu tidak menjawab apapun dan segera bangkit dari duduknya. Karang semakin sendu menatap sosok keluarga yang paling dicintainya itu. Karang menahan hatinya. Ibu membuatnya kecewa lagi.
Ceklek
"Dari mana, kamu?".
Bunga mendongak dan mendapati ibu tengah menatapnya dari meja makan. Ibu sedang merapikan meja makan seorang diri dan Bunga bisa melihat alat makan kepunyaan adiknya itu berada disana. Mereka makan malam tanpa dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jaga Bunga Dikarang
Fanfiction"Jaga, kamu tidur?". "Iya, gue tidur". "Kamu sangat sangat jelek. Serius, kamu tahu?" "Maafin gue". "Untuk apa?". "Semuanya" "Aku juga. Maaf". Haechan X Zuu
