"Aku lelah menjadi istri yang harus di simpan sementara di sini aku adalah yang pertama. Aku yang selama ini merelakanmu bersama dia sebagai bentuk wujud dukunganku padamu yang hendak berbakti pada orangtuamu tapi nyatanya kini aku yang harus menela...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hollaaaa kembali sama Dara dan segala kebodohannya, Mamak harap kalian masih tegar dan kuat menghadapi dia ya 😆😆 yakinlah, seorang yang kuat berasal dari mereka yang pernah bertahan dengan kebodohannya.
Yang punya aplikasi KBM dan Karyakarsa, yuk ikutin juga Dara di sana, happy reading semuanya. Enjooy
"Hei kamu, Dara. Mantan pacarnya Aras, sini kamu."
Aku ingin pergi, tapi panggilan dari Ibu Mertuaku yang memanggil namaku membuat semua rekanku turut menghentikan langkah. Dadaku terasa bergetar dengan perasaan sedih yang mendalam, sedari dulu tatapan Ibunya Mas Aras memang tidak pernah baik kepadaku tapi haruskah dia memperlihatkan kebencian tersebut di hadapan semua orang.
Apalagi saat beliau memanggilku dengan sebutan mantan pacar suamiku, rasanya sangat sesak menyadari jika status pernikahanku benar-benar tidak di akui oleh keluarganya bahkan setelah bertahun-tahun berlalu tidak peduli seberapa besar usahaku untuk meluluhkan hati mereka. Dan bagian menyedihkan dari semuanya adalah ada sosok cantik di antara keluarga Suamiku, siapapun dia, perempuan itu tidak akan baik untuk kehidupanku.
Aku hanya mematung seperti orang bodoh, tatapanku tertuju pada Mas Aras berharap ada penjelasan darinya, beberapa waktu ini dia tidak pulang ke rumah dengan alasan Mamanya sedang sakit parah, tapi ternyata sekarang mereka tengah dinner dengan keadaan yang sehat walafiat.
"Dara, kamu kenal sama mereka?" Pertanyaan dari Mbak Marini menyentakku, membuatku tersadar jika aku tidak sendirian ada di sini, aku ingin sekali menjawab jika aku sama sekali tidak mengenal orang-orang yang selalu memandangku rendah hanya karena aku tidak berharta tapi kembali, Ibu Melisa, Ibu mertua yang tidak mau menerima kehadiranku ini berteriak dengan keras. Sakit sepertinya sudah membuat Nyonya Dewan yang terhormat ini kehilangan rasa malunya.
"Heeeeh, sini kamu, di panggil Orangtua bukannya datang malah bengong nggak jelas."
Aku menatap Mas Aras dengan tajam, sama sepertiku yang tidak terima dengan bentakan Mamanya, suamiku ini pun bangkit dari duduknya. "Mama apa-apaan sih bentak-bentak Dara kayak gini di depan umum."
Raut kesal terlihat di wajahnya yang tampan saat Mas Aras bangkit dan menghampiriku, kedua tangannya yang terkepal menunjukkan jika dia tengah emosi atas perlakuan kasar Mamanya yang berteriak-teriak tidak jelas kepadaku.
Mengabaikan tanya yang terpampang di setiap wajah rekanku, Mas Aras meraih tanganku dan menggenggamnya erat menyalurkan perasaan hangat usai hatiku di buat kocar-kacir tidak karuan. Mas Aras hendak mengajakku untuk pergi dari sini, tapi kembali pekikan Ibunya terdengar menjadikan kami pusat perhatian.
"Aras, kembali kamu! Tega kamu ya ninggalin Mama dan juga Hana demi dia. Berani kamu mempermalukan Mama!"
Desah nafas lelah terdengar dari suamiku ini dan aku sangat paham kenapa dia bisa seperti ini, berada di antara dua pilihan antara Ibunya dan aku tentu bukan hal yang mudah. Percayalah, tidak pernah terbersit sedikit pun di dalam benakku keinginanku menjadi penyebab pertengkaran antara Ibu dan anak, dan sudah pasti jika Mas Aras pergi dari sini sekarang Ibu Mertuaku ini akan semakin membenciku dan tuduhan tentang aku yang menjauhkan beliau dari anaknya akan semakin menjadi.
Ibu mertuaku kini bahkan berdiri dan menunjuk kami penuh dengan kemurkaan, Ayah mertuaku yang malu dengan sikap Istrinya yang menunjukkan kebenciannya padaku berusaha menenangkan tapi sama sekali tidak di gubris.
"Ayo pergi, Ra. Aku sudah capek di bohongin Mama melulu." Bukan sekali dua kali Ibu Mertuaku berbohong pasal kesehatannya agar Mas Aras pulang menemuinya dan membujuk Mas Aras untuk meninggalkanku dan menjodohkan Mas Aras dengan wanita pilihan beliau, dan aku yang terlalu bersandar pada cinta seorang Aras Respati merasa Ibu mertuaku semakin lama semakin keterlaluan.
Tanpa menoleh ke belakang lagi Mas Aras menarikku untuk pergi, aku yakin besok aku akan menjadi bahan cecaran dari rekan kantorku yang kepo tentang insiden memalukan hari ini, tapi sekarang aku tidak ingin memikirkannya, satu-satunya hal yang aku inginkan sekarang adalah pergi sejauh mungkin dari kebencian Ibu Melisa yang terhormat, sayangnya hal ini tidak pernah terjadi karena seiring dengan pekikan Ibu mertuaku yang semakin keras menyumpahiku, tiba-tiba saja pekikan tersebut berubah menjadi jerit kekhawatiran.
"Ya Tuhan, Mama! Mama kenapa ini?"
Semesta, entah apa yang Engkau rencanakan, selama ini Ibu Mertuaku berpura-pura sakit tapi sekarang beliau benar-benar ambruk pingsan karena kemarahan yang tidak bisa beliau kendalikan karena kemarahannya padaku.