Ruangan serba putih dengan jendela-jendela kaca berukuran besar. Dihiasi gorden warna putih tulang. Suasananya sejuk miris dingin akibat suhu ac yang cukup rendah.
Gadis dengan rambut terurai itu tengah duduk di bawah bangku. Menahan rasa nyeri perut yang menjalar. Sial sekali nyeri datang bulan harus muncul saat sesi presentasi.
Dia berada di bangku antara Delvin dan Safitri. Safitri memberikan sebotol air mineral. Memang tidak akan berefek pada rasa nyerinya, tapi setidaknya Sahara tidak dehidrasi lantaran nongkrong di bawah bangku terlalu lama.
"Minum dulu," ujar Delvin membuka botol dari Safitri lalu memberikan pada Sahara.
Tangan mungil itu menerima kemudian ia meneguknya sedikit kemudian mengembalikan pada Delvin.
Kepala Delvin merunduk menerima botol. "Masih sakit?"
Sahara mengangguk.
"Mau ke UKS aja?" tawar Safitri, namun Sahara menolak.
Nyeri datang bulan adalah hal lumrah bagi perempuan. Seharusnya ia bisa menahan. Pikirnya, nanti juga akan reda beberapa saat.
Sampai di sesi tanya jawab Sahara masih duduk di bawah. Beberapa teman lain yang menyadari hal itu langsung melempar tanya. Menanyakan kenapa dia di bawah. Tentu Delvin menjawab satu per satu.
Delvin kembali membuka suara, "Ra, ga capek nongkrong mulu?"
"Lo beranak apa gimana, sih, Ra!" ejek Naufal. "Ga keram gitu mulu!"
Sahara menahan nyeri sekaligus emosi. Teman-temanya berisik sekali. Kakinya mulai terasa kebas hampir setengah jam nongkrong. Jam mata kuliah jugs tidak kunjung berganti.
"Lo mau berak?" Lagi-lagi Naufal melempar tanya. "Berak di celana mampus lo!"
Sahara hanya diam dan mengatur napas panjang. Delvin menyadari bahwa Sahara seperti menahan emosi. Dia langsung menoleh pada Naufal yang duduk di bangku tepat belakang Sahara.
"Cocot lo bisa diem nggak!" Delvin berkata lirih, tapi penuh penekanan. Matanya melirik tajam dengan posisi tubuh serong ke arah Naufal.
"Kalem, brother!" Naufal mengangkat kedua tangan.
"Nanti lo punya cewek juga ngerasain," kata Delvin pelan.
"Kayak lo cowoknya aja!"
Entah apa yang terlintas di pikiran lelaki itu. Delvin terdiam sejenak. Beberapa menit selanjutnya ia membantu Sahara bangkit ke bangku. Kemudian mengangkat tangan pada sesi tanya jawab.
"Baik, kamu yang duduk paling depan," tunjuk ketua kelompok presentasi.
"Terimakasih atas kesempatan yang diberikan. Perkenalkan nama saya Delvin Galaxea." Delvin berdiri dan memperkenalkan diri.
"Pertanyaan saya, plankton terbagi menjadi dua macam fitoplankton dan zooplankton. Lalu apa perbedaan dan manfaat dari keduanya," sambung Delvin.
Presentator sibuk mencatat pertanyaan yang diucapkan Delvin. Matanya menatap Delvin sekilas lalu mengangguk.
"Pertanyaan saya tampung." Kali ini Saputra selaku presentator menatap ke arah lain. "Ada yang lain?"
Semua hanya hening. Menit selanjutnya kelompok presentasi sibuk berdiskusi mencari jawaban.
Sahara meletakkan kepala di atas meja. Tangannya sibuk meremas baju di area perutnya sendiri.
"UKS aja yuk," ajak Delvin membisik.
Mungkin tidak ada yang sadar, atau mungkin ada yang sadar tapi hanya diam. Delvin memberikan tangannya untuk diremas Sahara. Berharap nyeri perut Sahara bisa berkurang.

KAMU SEDANG MEMBACA
NARASI DELVIN
Teen Fiction"Vin, lo bakal ninggalin gue nggak?" "Kenapa?" "Kayak ayah pas pergi." Delvin terdiam sejenak. Pikirannya kembali pada malam hari tadi. Sekarang ia mengerti kenapa semalam Sahara menangis. "Gak janji, tapi gue usahain." *** Bagaimana rasanya jika ka...