BAB 10

131 14 0
                                        

□■□■□■□■□

Bagaimana mengatakannya? Karena Hirumi sepertinya punya masalah.

Hinata termenung, di kala dia sedang menikmati sereal dan susu di pagi hari sambil memerhatikan bibinya hanya diam di depan pantri. Hirumi tidak pernah diam seperti itu jika tidak terjadi sesuatu. Apakah ini ada kaitannya pada bisnis yang sedang dijalaninya? Atau si Uzumaki itu sedang berulah, lantas mengancam bibinya? Hinata jadi membayangkan yang tidak-tidak, mengingat pria itu tidak menghubunginya sudah seminggu ini, dan setidaknya ada beberapa hari Hirumi seperti itu. Mengapa semuanya tampak berkaitan. Hinata tidak dapat berhenti untuk mencurigainya.

Setelah menghabiskan sarapan paginya, Hinata berdiri, mendekati Hirumi. "Kamu sedang sakit?"

Hirumi menoleh, terkejut ketika keponakannya berbisik. Dia merasa menyesal saat harus melamun memikirkan masalah. Ia tahu betul, kegelisahan kadang kala membuatnya seperti patung. "Tidak. Aku baik-baik saja. Aku mau sarapan, tapi tidak berselera. Kamu sudah selesai?"

"Aku menikmati sarapan sambil memerhatikanmu. Kamu tampak kurang baik. Terjadi sesuatu?"

"Tidak. Tidak terjadi sesuatu. Tapi, ya, mungkin sedang tidak enak badan. Kepalaku pusing akhir-akhir ini," wajah Hinata segera merengut. "Aku akan pergi ke apotek untuk membeli obat."

"Beli tes kehamilan juga."

Hirumi menoleh cepat. "Apa maksudmu?" sedikit menggelitik saat mendengarnya. "Kamu merasa bahwa dirimu hamil?"

"Bukan. Itu untuk kamu."

Hirumi menghela napas berat. "Aku pakai kondom. Semuanya aman."

"Tidak ada yang tahu bahwa kondom itu aman."

Sepagi ini, tentu saja, dia tidak mau bertengkar dengan keponakannya hanya karena mereka membahas secara tiba-tiba soal kondom bocor. "Kita bahas nanti."

"Oke, tidak masalah." Ujar Hinata, membiarkan bibinya pergi dari sana.

Hinata kembali ke kamarnya setelah sarapan. Ia mencari tikar yang biasa dia gunakan untuk yoga paginya di teras, tetapi yang dia lakukan melirik ponsel dan menatapnya sembari memenuhi kepalanya dengan banyak pertanyaan. Dia tidak tahu mengapa Hirumi seperti itu, sementara dia juga tidak tahu mengapa si Uzumaki tidak menghubunginya sampai detik ini sejak hari itu.

Sebelum mereka berpisah di pulau Uchiha, pria itu bersikap aneh setelah mendengarkan permainan pianonya. Hinata pun memutar kembali ingatannya pada hari itu. Mengapa kamu bisa memainkan lagu itu? Apakah lagu itu berkesan? Tentu saja neneknya mengajari lagu tersebut ketika dia masih kecil. Satu-satunya himne yang bisa dia mainkan di luar kepala.

Seandainya Hinata punya akses atau setidaknya dia tahu di mana rumah pria itu yang tampak lazim untuk dikunjungi, dia akan pergi ke rumah tersebut demi meminta penjelasan. Dia jadi penasaran dan perasaan itu semakin besar kala dia tidak dapat berhenti memikirkannya. Apalagi tidak terlalu jelas pria itu menggumamkan sesuatu setelahnya.

"Hirumi!" Hinata beranjak dari duduknya, bergegas kali ini menghampiri Hirumi di kamarnya, dan wanita itu sudah ada di sana, bersiap untuk istirahat sesudah menelan obatnya.

"Tunggu dulu, Hirumi," dia mencegah bibinya untuk tidur. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Aku harap kamu mau menjawabnya—paling tidak, beritahu aku di mana pria itu bekerja. Apakah aku bisa ke sana sekarang?"

"Untuk apa kamu menemuinya? Aku pikir urusan kalian sudah selesai, dengan pria itu tidak mencari-carimu selama ini."

"Ya, aku kira begitu, tapi sepertinya urusan kami belum selesai."

OVER MISTAKES ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang