Pagi hari menyapa, silau matahari mulai masuk ke dalam celah kamarnya membangunkan Singto dari tidurnya, ia menguap sembari mengusap matanya kemudian berjalan menuju kamar mandi, mencuci wajahnya di sana.
Singto memegang perutnya yang terasa lapar karna semalam ia lembur bekerja dan tak sempat makan malam, saat pulang ke rumah ia lebih memilih untuk tidur tanpa berniat untuk mengisi perutnya, ia benar-benar lelah semalam dan inilah hasilnya, ia sangat kelaparan.
Singto berjalan ke dapur dan membuka kulkas, tak ada bahan makanan di sana, telur juga tak ada. Ia memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat dari rumahnya. Tanpa mandi lebih dulu.
Dia memang tak pernah memperdulikan penampilannya, Singto dengan rasa kantuk yang masih sangat mendominasi berjalan sambil membawa troli, mengambil banyak telur dan mie instan, juga mengambil beberapa sayur.
Ia berjalan menuju kasir, hendak membayar belanjaannya itu.
Saat ia merogoh kantong celananya, ia tak menemukan apa yang dirinya cari, Singto menepuk keningnya saat ia menyadari jika dia tak membawa dompet.
"M-maaf sebelumnya. Apa aku boleh membatalkan belanjaan ini? Aku lupa membawa dompet," ucap Singto menggunakan bahasa jepang, namun sepertinya wanita bagian kasir tersebut tak terlalu mengerti dengan apa yang Singto katakan.
"Hmm... A-aku tak membawa dompet, apa aku boleh membatalkan ini?" Ucap Singto sekali lagi.
"Maaf, Tuan. Ini sudah di scan dan anda harus membayarnya. Jika tidak, aku yang harus membayar semuanya," ucap wanita tersebut.
"Biar aku yang membayarnya," ucap seorang pria yang berada di belakang Singto membuat Singto menoleh ke arah belakang.
"Phi Krist," gumam Singto.
Krist memberikan keranjang yang berisi belanjaan miliknya kemudian wanita itu mulai menghitung belanjaan milik Krist.
Setelah membayar semuanya, Krist memberikan belanjaan Singto kepada Singto, kemudian ia langsung pergi dari sana.
Singto berlari mengejar Krist hingga di depan toko.
"Phi Krist, terima kasih," ucap Singto.
"Hmm, lain kali jangan ke supermarket dalam keadaan mengantuk!" Ucap Krist.
Singto tersenyum malu mendengarnya, apa Krist memperhatikan dirinya sejak tadi?
"Ayo ke rumah ku, aku akan mengganti uang phi," ucap Singto.
"Tak perlu di ganti," ucap Krist.
"B-baiklah, bagaimana jika sebagai ucapan terima kasih ku, aku memasak sesuatu untuk Phi. Ayo ke rumah," ucap Singto.
"Aku sibuk," ucap Krist.
"Ku mohon, sudah dua kali Phi membantu ku. Aku hanya ingin membalas kebaikan Phi," ucap Singto sembari memegang tangan Krist sesekali menarik tangan tersebut agar mengikuti dirinya.
"Ayolah, Phi..." Ucap Singto sembari menarik tangan Krist.
"Ckkk!" Krist berdecak kesal mendengarnya, ia pasrah di tarik oleh Singto.
Mereka berjalan kaki karna rumah Singto tak jauh dari supermarket itu.
"Aku benar-benar bahagia kita bisa bertemu lagi," ucap Singto sembari membuka pintu rumahnya dan menyuruh Krist untuk masuk ke dalam.
Singto menarik tangan Krist mengajaknya ke dapur, kemudian ia menyuruh Krist duduk di sebuah kursi.
"Apa Phi tak bekerja?" Tanya Singto.
"Bukankah sudah ku katakan aku sibuk tadi? Kenapa kamu memaksa ku untuk datang ke rumah mu!" Ucap Krist.
"Ini terlalu pagi untuk bekerja," ucap Singto sembari mengeluarkan barang belanjaannya dari kantong plastik.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy CEO
FanfictionKrist Perawat seorang pebisnis handal, memiliki kekayaan yang mungkin tak akan habis 7 turunan, memiliki wajah yang begitu tampan bak seorang pangeran, banyak wanita maupun pria berusaha untuk mengejar cintanya namun hatinya telah tertutup rapat ole...
