Perut singto semakin membesar sekarang, usia kandungannya sudah memasuki 6 bulan. Entah kenapa singto merasa jika perutnya benar-benar besar tak seperti usia kandungan 6 bulan pada umumnya.
Hari ini krist pulang awal, karna singto meminta krist untuk menemani dirinya ke dokter kandungan.
Ini kali pertama singto ke dokter kandungan karna sebelum itu mereka selalu sibuk ke jepang menguruskan banyak hal termasuk pekerjaan krist dan sekarang baru mereka menetap di thailand karna semuanya sudah selesai di urus oleh krist.
****
Singto merebahkan tubuhnya di ranjang pasien setelah dokter menyuruhnya untuk berbaring. Sang dokter hendak menyingkap baju singto namun langsung di tepis oleh krist.
"Saya tahu anda seorang dokter, tapi bukan berarti anda bebas menyingkap baju suami saya!!" Ucap krist marah.
"M-maaf, tuan. Saya ingin melakukan USG dan bajunya memang harus di singkap sedikit" ucap dokter.
"Phi!! Jangan menghalangi dokter!!" Tegur singto.
"Itu hanya akal-akalan dokter saja, sayang. Karna dia ingin melihat perut mu!" Ucap krist.
"Lakukan, dok. Abaikan suami saya" ucap singto kepada dokter.
Sang dokter mulai menyingkap baju singto membuat wajah krist memerah melihatnya, ia ingin mengamuk sekarang karna perut suaminya di lihat oleh pria lain.
"Dok!!" Ucap krist marah.
"Phi!!!" Ucap singto kesal.
Sang dokter benar-benar bingung sekarang, apa yang harus di lakukannya.
"Maaf, tuan krist. Apa anda ingin melihat bayi anda?" Ucap dokter.
"Tentu aku ingin!" Ucap krist.
"Biarkan saya melakukan USG dengan tenang, tuan" ucap dokter.
"Abaikan dia, dok!" Ucap singto, dia benar-benar malu dengan kelakuan suaminya sekarang.
Sang dokter mengoleskan gel kemudian mulai melakukan USG, krist hanya bisa pasrah melihat perut singto di pegang oleh dokter.
"Tatap layar monitor, phi! Bukan perut ku" ucap singto.
Krist mengalihkan tatapannya dari perut singto ke layar monitor USG.
"Wow... Saya sudah mencurigai ini sebelumnya dan ternyata kecurigaan saya benar. Suami anda mengandung bayi kembar sekarang" ucap dokter.
"B-benarkah, dok?" Ucap krist setengah percaya.
"Ya, usia kandungannya baru memasuki 6 bulan, tapi perutnya terlihat sangat besar. Suami anda mengandung tiga bayi kembar sekarang " ucap dokter.
Krist dan singto kembali terkejut mendengarnya, ada tiga bayi di perut singto?
"Apa kalian ingin mengetahui jenis kelaminnya?" Tanya dokter.
Krist dan singto saling menatap kemudian mengangguk setuju.
"Ya, dok" ucap krist.
"Selamat, tuan krist. Anda akan mendapatkan dua anak laki-laki dan satu perempuan" ucap dokter.
Krist tersenyum senang mendengarnya.
"Terima kasih, sayang. Aku benar-benar bahagia sekarang" ucap krist sembari mengecup kening singto.
Singto juga tersenyum senang mendengar kabar tersebut, apa lagi saat melihat reaksi krist yang terlihat sangat bahagia, singto bahagia melihat krist bahagia.
Setelah melakukan proses USG, kini singto beranjak dari tempatnya sedangkan krist tengah berbicara dengan dokter membicarakan kandungan singto.
Cukup lama krist berkonsultasi dengan dokter, sekarang mereka keluar dari ruangan dokter. Krist menggandeng tangan singto dengan posesif.
"Bagaimana rasanya ada tiga bayi di perut mu?" Tanya krist.
"Biasa saja" ucap singto.
"Apa tak berat?" Tanya krist.
"Tidak, phi" ucap singto.
"Ahh, senang mendengarnya. Aku tak mau anak ku menyusahkan mu" ucap krist.
Singto cemberut mendengarnya.
"Mereka juga anak ku!!" Ucap singto.
"Tapi itu hasil karya ku, mama dan papa pasti bangga pada ku karna berhasil mencetak 3 bayi dalam waktu bersamaan" ucap krist bangga.
"Terserah" ucap singto sembari berjalan mendahului krist.
Krist berjalan sedikit cepat mengejar sang suami, hingga mereka tiba di tempat parkir.
Krist membukakan pintu mobil untuk singto kemudian ikut masuk ke dalam.
.
.
.
.
.
.
Pukul 1 dini hari singto terbangun dari tidurnya, ia tak melihat keberadaan sang suami di sampingnya membuat singto langsung beranjak dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Singto berjalan sembari memegang perutnya yang kini kian membesar.
Beberapa minggu lagi singto akan melahirkan bayinya, sekarang usia kandungannya sudah memasuki 9 bulan.
Singto melihat keberadaan sang suami di ruang tamu, krist terlihat fokus dengan laptopnya.
"Phi krist" ucap singto.
"Huh? Kenapa kamu bangun, sayang?" Tanya krist sembari memegang tangan singto agar duduk di sampingnya.
"Bagaimana dengan phi? Apa pekerjaan phi belum selesai?" Ucap singto.
"Sudah selesai satu jam yang lalu" ucap krist sembari mencium bibir singto singkat.
"Kenapa tak tidur!?" Ucap singto marah.
"Aku sedang mencari nama untuk bayi kita di internet" ucap krist sembari mengusap perut besar singto sedangkan singto melihat ke arah laptop krist, benar saja di sana terdapat banyak nama bayi beserta artinya.
"Apa phi sudah menemukan nama yang cocok?" Tanya singto.
"Belum" ucap krist.
"Lakukan besok, phi. Sekarang phi harus beristirahat" ucap singto.
"Aku benar-benar tak sabar ingin bertemu tiga anak ku" ucap krist sembari mengecup perut singto.
"Aku juga. Jika aku sudah melahirkan nanti apa aku boleh meminta pergi liburan?" ucap singto, mengingat jika sekarang mereka sudah tak pernah lagi pergi liburan, karna perut singto yang sudah membesar membuat krist menjadi overprotektif terhadap sang suami.
Krist tak ingin singto kelelahan, itu sebabnya ia tak membawa singto bepergian.
"Kemana?" Tanya krist.
"Pulau? Aku ingin kita membuat tenda dan tidur di tepi pantai dengan tiga anak kita" ucap singto.
"Apapun yang kamu inginkan" ucap krist sembari mencium singto, kemudian ia menggendong singto membawanya kembali ke kamar mereka.
"Sebelum tidur aku ingin melakukan olahraga sebentar" bisik krist sembari melepas kancing kemeja yang di kenakan singto satu persatu sedangkan singto hanya terdiam pasrah membiarkan krist melakukan apa yang di inginkannya.
Tbc.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy CEO
FanfictionKrist Perawat seorang pebisnis handal, memiliki kekayaan yang mungkin tak akan habis 7 turunan, memiliki wajah yang begitu tampan bak seorang pangeran, banyak wanita maupun pria berusaha untuk mengejar cintanya namun hatinya telah tertutup rapat ole...
