Part 4

1.6K 131 30
                                        

"Krist..." Ucapan Off menyadarkan Krist dari lamunannya, ia memang melamun sejak tadi bahkan sepertinya tak menghiraukan Off yang sedang berbicara kepadanya.

"Ya, Off?"

"Apa yang kamu pikirkan?"

"Tidak ada," ucap Krist sembari memakan makanannya.

Sejujurnya ia memikirkan Singto, entah itu sebuah kebetulan atau memang mereka sering bertemu tanpa sengaja, setelah pertemuan terakhir mereka di supermarket saat itu mereka sering bertemu lagi di jalan, supermarket, restoran atau bahkan di tempat yang Krist kunjungi seakan dunia benar-benar sempit.

Beberapa kali bertemu membuat Krist semakin mengenali Singto, dia pria yang ceria, sopan dan sepertinya Singto tulus ingin berteman dengannya.

"Apa anda memanggil saya, Tuan?" Ucap seorang waiter yang baru saja datang.

Krist tersedak makanan saat melihat Singto yang menggunakan seragam waiter. Bukankah waktu itu saat ia bertemu Singto, Singto bekerja sebagai cleaning service di restoran X?

"Ya, aku ingin memesan makanan lagi," ucap Off.

"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Krist pada Singto.

"Kamu mengenalnya, Krist?" Tanya Off.

"Aku memang bekerja di dua tempat, Phi," ucap Singto.

"Pantas saja setiap kali kita bertemu kamu terlihat tak fokus dan sangat mengantuk, jadi ini yang kamu lakukan setiap hari?" Ucap Krist.

"Tentu saja. Aku bekerja," ucap Singto.

"Ini..." Off memberikan buku menu setelah ia selesai menulis pesanannya.

Singto tersenyum manis kemudian pamit pergi dengan membawa catatan pesanan milik Off tadi.

"Ku tanya sekali lagi, apa kamu mengenalnya?" Tanya Off penasaran.

"Hmm, dia berasal dari Thailand juga sama seperti kita," ucap Krist.

"Benarkah? Sejak kapan kalian saling mengenal?"

"Hampir satu tahun yang lalu," ucap Krist sembari melanjutkan makannya.

"Aku tak menyangka CEO muda seperti mu mau berteman dengan seorang waiter," ucap Off.

"Apa aku terlihat sombong, Off!?" Ucap Krist.

"Ya, kamu terlihat pria yang sombong," ucap Off sambil tertawa mengejek.

Tak lama Singto datang dengan membawa makanan pesanan Off tadi.

"Hey, ku dengar kamu teman Krist, duduk di sini dulu. Aku ingin berkenalan dengan mu," ucap Off saat melihat Singto hendak pergi.

"Nama ku Singto, Phi."

"Aku Off. Apa benar kamu juga dari Thailand?"

"Ya. Apa kamu juga dari thailand?"

"Hmm, aku dari Chiang Mai."

"Wah, senang bisa berkenalan dengan mu," ucap Singto sambil tersenyum senang.

Krist memperhatikan interaksi keduanya, Off bahkan meminta nomor ponsel Singto dan Singto memberikan itu.

"Ekhmzz... Apa kamu tak bekerja, Sing?" Krist menyela percakapan Singto dan Off sehingga membuat Singto menghentikan pembicaraan mereka.

"Aku kembali bekerja dulu, Off,"

Off hanya mengangguk kemudian Singto pergi dari sana, begitu juga dengan Krist yang kini melanjutkan makannya.

"Ku pikir kamu tak akan mau berteman dengan seorang waiter," ucap Krist di sela-sela kegiatan makannya.

"Apa aku pernah memilih teman? Aku berteman dengan siapa saja asal orang itu asik," ucap Off.

"Yeah," gumam Krist.




***
Pukul 12 malam jam kerja Singto berakhir, ia mengganti seragam waiternya dengan pakaian biasa kemudian berjalan keluar dari restoran.

Jalanan tampak sepi sekarang, hanya ada beberapa mobil yang masih terparkir di parkiran restoran.

Singto mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, ia hendak memesan taxi namun mengingat uangnya sudah hampir habis, terpaksa dia akan pulang dengan berjalan kaki lagi.

Beruntung dua restoran tempatnya bekerja sangat dekat dengan rumah sewanya, jadi jika ia berjalan kaki, dia tak akan terlalu lelah.

Singto berjalan dengan santai sembari menikmati angin malam.

"Serahkan dompet mu," ucap seseorang, membuat Singto berhenti melangkah, tubuhnya gemetar, apa dia sedang di rampok sekarang?

Perampok itu mulai mencoba untuk mengambil dompet Singto namun Singto berusaha melawan, tubuhnya yang lelah karna seharian bekerja tak terlalu kuat untuk menepis tangan perampok itu.

"Tolong..." Teriak Singto saat melihat sebuah mobil melintas di dekat mereka.

Mobil tersebut berhenti membuat perampok itu ketakutan saat melihat seseorang keluar dari mobil dan memilih untuk pergi.

"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Krist.

"Phi Krist, terima kasih sudah membantu ku," ucap Singto.

"Sekarang sudah terlalu larut, kenapa kamu baru pulang!?" Tanya Krist.

"B-bukankah aku bekerja tadi?" Ucap Singto.

"Ckk... Ayo masuk ke mobil, aku akan mengantarmu pulang," ucap Krist.

Singto mengangguk patuh dan berjalan masuk ke mobil Krist.

Di perjalanan keduanya hanya saling diam, Singto terlihat masih sedikit shock membuat Krist tak ingin menanyainya dulu.

Saat tiba di rumah Singto, Krist ikut masuk ke dalam. Ia mengambil air putih untuk Singto minum kemudian duduk di samping Singto.

"Apa kamu setiap hari pulang jam segini?" Tanya Krist.

"Y-ya... Jam 7 pagi sampai 5 sore aku bekerja di restoran X menjadi cleaning servis di sana. Di mulai dari jam 6 sampai jam 12 malam aku bekerja di restoran Y sebagai waiter," ucap Singto.

"Jadi itu alasan setiap aku bertemu dengan mu wajah mu terlihat sangat bengkak dengan di hiasi mata panda dan kamu sering menguap?" Ucap Krist.

Singto mengangguk membenarkan ucapan Krist.

"Tak bisakah kamu bekerja di satu tempat saja? Jika setiap hari kamu pulang jam segini itu bisa saja membahayakan diri mu sendiri," ucap Krist.

"Tidak... Phi tahu sendiri gaji bekerja di restoran tak seberapa," ucap Singto.

"Dengar, Sing. Tapi itu terlalu beresiko, perampok tadi mungkin sudah mengincar mu sejak lama, dia pasti memperhatikan mu yang setiap hari pulang di jam 12 malam dengan berjalan kaki dan mungkin besok dia akan menunggu mu lagi di tempat tadi," ucap Krist.

"Hanya jika uang ku hampir habis aku pulang berjalan kaki, biasanya aku memesan taxi," ucap Singto.

"Terserah apapun itu, berhenti bekerja di restoran Y, Sing,"

"T-tapi..."

"Aku memperingatkan mu sebagai teman ku, aku tak mau teman ku celaka," ucap Krist.

"Aku tak bisa," lirih Singto.

"Kebetulan kantor ku sedang mencari cleaning servis sekarang, apa kamu mau bekerja di kantor ku?" Tanya Krist.

"Dulu Phi mengatakan Phi tak bisa memberi ku pekerjaan," ucap Singto.

"Itu satu tahun yang lalu, sebelum aku mengenal mu. Sekarang kita sudah beberapa kali bertemu dan aku sudah menganggap kamu teman ku, terima tawaran ku," ucap Krist.

"Berapa gajinya?" Tanya Singto.

"Ckk... Aku akan memberi mu gaji setara dengan gaji mu saat bekerja di dua restoran," ucap Krist.

"Benarkah?! Aku mau, Phi," ucap Singto bahagia.

"Hmm, besok datang ke kantor ku," ucap Krist sembari memberikan kartu namanya.

Singto menerima itu dengan bahagia kemudian Krist pamit pulang.
















Tbc.

My Crazy CEOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang