Part 10

2K 124 69
                                        

Singto membuka pintu ruangan Krist setelah di perbolehkan masuk oleh sang kekasih. Krist langsung merentangkan tangannya saat melihat kedatangan Singto, Singto berjalan menghampiri Krist dan berdiri di samping Krist.

Krist memeluk pinggang Singto sembari mengecup punggung tangannya berkali-kali.

"Kenapa lama sekali, hmm?" Tanya Krist.

"Aku harus membersihkan gudang tadi," jelas Singto.

"Ckkk, lain kali tak perlu melakukan itu, jika aku memanggil mu tinggalkan pekerjaan mu, sayang."

"Tak bisa, Phi. Teman-teman yang lain akan marah nanti."

"Siapa yang berani memarahi kekasih ku?" Ucap Krist sembari menatap wajah Singto.

"Apa phi sudah makan?" Tanya Singto, ia sengaja mengalihkan pembicaraan karna tak ingin Krist menanyakan itu.

"Belum, aku ingin makan di suapi oleh mu," ucap Krist.

"Baiklah... Ayo makan dulu."

Krist beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti Singto duduk di sebuah sofa yang ada di ruangannya.

Singto memang membawa bekal tadi pagi karna Krist meminta agar Singto memasak untuknya.

Sudah satu minggu keduanya menjalin hubungan. Sejak saat itu, Krist terlihat sangat manja kepada Singto. Mereka sering makan bekal bersama, dan sesekali, Singto menyuapi sang kekasih.

"Apa ada orang yang menggoda kekasih ku tadi?"

"Tak ada yang mau menggoda ku, Phi."

"Jika ada katakan pada ku, aku akan memecatnya," ucap Krist sembari memeluk Singto yang berada di sampingnya.

"Jangan khawatir, tidak ada yang tertarik pada ku selain Phi," ucap Singto.

Dia bahkan setiap hari selalu di kucilkan oleh teman-temannya. Jadi, tak mungkin ada yang meliriknya, apa lagi menggodanya.

Krist mengusap saus di tepi bibir Singto, kemudian menjilat bekas saus tersebut dari jarinya.

"Apa aku boleh memakan ini sebagai makanan penutup?" Tanya Krist sembari mengusap bibir Singto.

Bukan tanpa alasan, Krist memang selalu ijin saat ingin mencium Singto, dia hanya tak mau membuat Singto merasa tidak nyaman dengannya.

"Ya," ucap Singto.

Krist mendekatkan wajahnya dan melahap bibir Singto, keduanya saling melumat, menyesap bibir satu sama lain. Krist menekan tengkuk leher Singto memperdalam ciumannya, saling bertautan lidah di dalam sana melumatnya dengan penuh nafsu.

Singto memukul kecil dada Krist perlahan agar Krist melepas ciumannya, ia merasa kehabisan nafas sekarang. Ciuman keduanya terlepas, Krist mengusap bibir bengkak Singto sambil tersenyum puas.

"Apa persediaan makanan yang ku belikan kemarin sudah habis?" Tanya Krist.

"Belum, aku tak mungkin menghabiskan itu dalam waktu dekat," ucap Singto.

"Kamu tak boleh makan mie lagi sekarang, jika persediaan makanan mu habis katakan pada ku, aku akan belanja untuk mu."

"Apa itu tidak berlebihan?"

"Kenapa?"

"Phi tak perlu melakukan itu."

"Aku hanya ingin memastikan kekasih ku makan makanan yang sehat."

"Aku bisa membeli sendiri, Phi."

"Tidak, simpan uang mu untuk keperluan yang lain," ucap Krist.

Krist mengambil sebuah paperbag yang berada tak jauh darinya, kemudian memberikan itu kepada Singto.

My Crazy CEOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang