"Siapa nama mu?" Tanya Krist saat melihat pria yang di bawanya tadi sudah tersadar dari pingsannya.
Pria itu memegang perutnya yang terasa sangat lapar, bibirnya terlihat sangat pucat, Krist yang mengerti itu langsung keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur mengambil makanan untuk pria itu.
Beberapa menit kemudian Krist datang kembali, ia memberikan makanan tersebut dan langsung di terima olehnya.
Pria itu memakan makanannya dengan lahap dan cepat, Krist hanya terus memperhatikannya dengan tatapan dingin dan datar.
"Siapa nama mu?" Tanya Krist setelah makanan pria itu habis.
"S-singto, Phi." Ucap pria yang bernama Singto itu.
"Bagaimana kamu bisa ke sini?" Tanya Krist.
"Aku... Aku bermaksud ingin mencari pekerjaan di negara ini, tapi saat aku baru saja tiba, di bandara aku di rampok, di dalam tas ku berisi uang dan pasport ku, aku berjalan tak tentu arah, aku tak tahu harus kemana, apalagi tanpa pasport..." Lirih Singto sedih.
"Kenapa tak melapor ke kantor polisi jika pasport mu hilang?"
"Bukankah itu juga membutuhkan uang? Aku pasti di suruh membuat pasport baru," lirih Singto.
"Hmm."
"Siapa nama Phi?" Tanya Singto.
"Krist."
Setelah itu hanya ada keheningan di antara mereka, keduanya sama-sama terdiam.
"Apa kamu sudah tahu kemana kamu akan bekerja?" Tanya Krist setelah lama terdiam.
"Belum... Aku belum mendapatkan pekerjaan," lirih Singto sedih.
"Ckk! Bodoh! Jika kamu belum mendapatkan pekerjaan seharusnya kamu tak ke sini!! Ini bukan hanya luar kota, tapi luar negri!" Ucap Krist.
Singto menundukkan pandangannya mendengar Krist memarahinya, itu memang salahnya sendiri.
"Aku akan memberi mu uang untuk mengurus pasport mu, setelah itu kembali ke Thailand." Ucap Krist.
"Tak bisakah bantu aku, Phi?" Tanya Singto.
"Bukankah dengan memberi mu uang aku sudah membantu mu?" Ucap Krist.
"Y-ya, beri aku pekerjaan. Tujuan ku merantau ke negara orang ingin memperbaiki ekonomi keluarga, aku tak mau pulang sebelum sukses," lirih Singto.
Krist tertawa sinis mendengarnya.
"Kita bahkan tak saling kenal sebelumnya!"
"Bukankah sekarang kita sudah saling mengenal? Nama ku Singto Prachaya, aku berusia 24 tahun," ucap Singto.
"Pendidikan terakhir mu?" tanya Krist.
"Aku hanya tamat SMA," lirih Singto.
"Kamu tak memenuhi syarat, kamu di tolak," ucap Krist.
"Bagaimana dengan menjadi calon istri Phi? Apa aku memenuhi syarat?" Ucap Singto sambil tersenyum manis membuat Krist sedikit terkejut mendengarnya.
"B-bodoh!" umpat Krist. Bagaimana bisa Singto mengatakan itu pada pria yang baru saja di kenalnya?
"Sebenarnya aku pria yang manis, Phi. Hanya saja aku tak mandi selama satu minggu ini, Phi tahu sendiri alasannya. Apa aku boleh menumpang mandi?" ucap Singto sambil menyengir lebar.
"Hmm."
Singto tersenyum senang mendengarnya kemudian beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi, tubuhnya terasa lengket, ia benar-benar gerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy CEO
FanfictionKrist Perawat seorang pebisnis handal, memiliki kekayaan yang mungkin tak akan habis 7 turunan, memiliki wajah yang begitu tampan bak seorang pangeran, banyak wanita maupun pria berusaha untuk mengejar cintanya namun hatinya telah tertutup rapat ole...
