Begitu jam istirahat tiba, Krist beranjak dari duduknya dan segera membereskan pekerjaannya.
"Sayang, ayo kita makan di luar," ajak Krist pada Singto yang memang masih betah berada di ruangannya.
Sejak tadi Singto hanya bermalas-malasan di ruangan Krist tanpa melakukan apa pun.
Keduanya keluar dari ruangan Krist dan berjalan sambil bergandengan tangan. Semua mata tertuju pada mereka berdua.
Sejujurnya Singto masih kurang nyaman menjadi tatapan semua orang, tetapi Krist seperti tidak ingin melepas pegangan tangannya.
Krist membukakan pintu mobil untuk Singto. Setelah Singto masuk, ia berjalan memutar dan masuk ke kursi kemudi menjalankan mobilnya, meninggalkan area parkir.
Hanya membutuhkan waktu 20 menit mereka tiba di tempat tujuan.
Krist keluar dari mobil lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Singto. Ia menggandeng Singto membawanya masuk ke dalam restoran tersebut.
"Pesan apapun yang kamu inginkan," ucap Krist.
"Harganya semua mahal," gumam Singto, saat dia melihat harga makanan yang tertera di buku menu.
"Aku bahkan bisa membeli restorannya. Apa kamu ingin aku membeli ini untuk mu?"
"Phi!"
"Jangan pikirkan harga, sayang," ucap Krist.
Singto menyebutkan makanan yang ingin di pesannya begitu juga dengan Krist, setelah pelayan pergi Krist menggenggam tangan Singto. "Terima kasih sudah menemani ku bekerja hari ini," ucap Krist sembari mencium punggung tangan Singto.
"Tak perlu mengucapkan terima kasih, Phi," ucap Singto.
"Tapi itu sesuatu yang berharga untuk ku, di temani bekerja oleh orang yang sangat ku cintai."
Singto merasa tersentuh oleh ucapan Krist, apa seperti ini rasanya di cintai oleh seseorang? Jika dia tahu menjalin hubungan dengan pria bisa membuatnya mendapatkan banyak cinta mungkin Singto sudah melakukan itu sejak dulu.
Krist mendekatkan wajahnya, ia ingin mencium Singto namun Singto mengalihkan wajahnya.
"K-kita berada di tempat umum sekarang."
"Apa tak boleh?"
"Setidaknya malu sedikit, orang-orang akan melihat itu nanti!" ucap Singto kesal.
"Sayang sekali jika pria secantik kamu berada di sisiku, namun diabaikan begitu saja," ucap Krist seraya mendekatkan wajahnya ke Singto, lalu mengecup singkat pipi Singto.
Jantung Singto berdetak kencang karna itu, Krist mampu membuatnya merasakan jatuh cinta lagi dan lagi, bahkan membuatnya merasa tunduk dan patuh terhadapnya.
"I love you," bisik Krist.
"Aku juga mencintai Phi."
Mereka bergenggaman tangan layaknya sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara. Sambil menunggu makanan, Krist tak henti menatap Singto, hingga membuat pria itu salah tingkah.
Krist menatap Singto dengan tatapan penuh kekaguman. Siapa pun yang memperhatikan mereka pasti akan menyadari hal itu.
"Berhenti menatap ku!" Ucap Singto, dia benar-benar malu sekarang.
"Aku hanya ingin menatap dunia ku," ucap Krist sambil terus menatap wajah sang kekasih.
Singto mengabaikan itu dan memilih untuk menatap ke arah lain.
"Sayang, i love you," ucap Krist.
"Phi sudah mengatakannya tadi!"
"Tapi aku ingin mengatakan itu setiap saat. Apa kamu tahu saat melihat mu, jantung ku berdetak kencang, aku bahkan ingin berteriak mengatakan aku sangat mencintai mu agar semua orang yang ada disini tahu betapa aku mencintaimu," ucap Krist.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy CEO
FanfictionKrist Perawat seorang pebisnis handal, memiliki kekayaan yang mungkin tak akan habis 7 turunan, memiliki wajah yang begitu tampan bak seorang pangeran, banyak wanita maupun pria berusaha untuk mengejar cintanya namun hatinya telah tertutup rapat ole...
