Dulu Singto ke rumah Krist sebagai orang asing yang tak di kenali oleh Krist dan ini kali kedua dia menginjakkan kaki di rumah itu namun dengan status yang berbeda.
Ya, setelah bermacam-macam drama akhirnya Krist berhasil membawa Singto pulang ke rumahnya.
Saat ini Krist tengah mengobrak-abrik isi lemarinya mencari pakaian yang pas untuk Singto kenakan. Krist mengambil satu kaos putih oversize, lalu memberikan itu kepada Singto.
"Mana celananya, Phi?"
"Tak perlu pakai celana," ucap Krist.
Singto terkejut mendengarnya dan menatap horor ke arah Krist. Walau sedikit kesal namun ia tetap pergi ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
Singto keluar hanya mengenakan kaos oversize yang panjangnya menutupi hampir setengah paha. Krist menelan ludah dengan kasar, kekasihnya terlihat begitu indah dan seksi di saat yang bersamaan. Langkah kaki Singto terasa memberat karena Krist terus-menerus menatap intens ke arahnya.
"K-kenapa, Phi?" ucap Singto takut, Krist seperti ingin memakannya hidup-hidup!
"T-tidak..." Ucap Krist sembari merebahkan tubuhnya di ranjang.
Singto berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Ia melihat ponsel Krist yang terletak di atas nakas, tak jauh darinya.
"Apa aku boleh melihat ponsel Phi?" Tanya Singto.
"Untuk apa?"
"Hanya ingin memastikan Phi tidak selingkuh," ucap Singto.
"Periksa saja," ucap Krist.
Singto duduk bersandar di kepala ranjang dengan selimut yang menutup bagian bawahnya agar paha telanjangnya tidak terlalu terekspos. Ia membuka ponsel Krist memeriksa pesannya, di sana hanya ada pesan dari dirinya, Singto membuka galeri yang ternyata hanya berisi foto dirinya sendiri. Singto membuka kontak dan ternyata hanya ada nomornya di sana, haruskah Singto bahagia? Isi ponsel Krist hanya tentang dirinya.
"Kenapa Phi tak menyimpan nomor teman-teman Phi?" Tanya Singto.
"Aku tak butuh itu."
"Bagaimana dengan sekretaris Phi yang seksi itu?"
"Aku juga tidak membutuhkan nomornya," ucap Krist.
Singto tersenyum senang mendengarnya, Krist mendekat padanya dan merebahkan kepalanya menjadikan paha Singto sebagai bantal.
Singto mengusap rambut Krist dengan lembut.
"Apa aku boleh melakukannya?" Tanya Krist.
"Huh?" Ucap Singto tak mengerti.
"Hmm..." Krist mengubah posisinya menjadi duduk, ia menatap mata Singto sembari mengusap pipinya.
"Apa aku boleh mencium mu?"
Singto mengangguk pelan, Krist mendekatkan wajahnya dan melumat bibir Singto. Keduanya saling melumat dengan penuh kelembutan, Krist merebahkan Singto di kasur dengan dirinya yang berada di atas tubuh Singto.
Tangan Krist mulai nakal dan menyelinap ke paha Singto, mengusap paha mulus itu dengan penuh kelembutan hingga membuat Singto mengerang nikmat. Krist menghisap lidah Singto sedangkan tangannya meremas pantat bulat Singto.
"Apa aku boleh melakukannya?"
"T-tapi..."
"Aku berjanji akan melakukannya dengan perlahan," bisik Krist.
Singto mengangguk membuat Krist tersenyum senang, ia mencium leher Singto dan menghisapnya dengan kuat sehingga menghasilkan warna merah kebiruan di sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy CEO
FanfictionKrist Perawat seorang pebisnis handal, memiliki kekayaan yang mungkin tak akan habis 7 turunan, memiliki wajah yang begitu tampan bak seorang pangeran, banyak wanita maupun pria berusaha untuk mengejar cintanya namun hatinya telah tertutup rapat ole...
