Krist Perawat seorang pebisnis handal, memiliki kekayaan yang mungkin tak akan habis 7 turunan, memiliki wajah yang begitu tampan bak seorang pangeran, banyak wanita maupun pria berusaha untuk mengejar cintanya namun hatinya telah tertutup rapat ole...
Singto menatap kagum bangunan yang menjulang tinggi di hadapannya, dia tak menyangka jika pria yang di kenalnya selama ini adalah seorang pria yang sangat kaya raya.
Hey, Singto sempat mengira Krist hanya seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan tapi setelah membaca kartu nama Krist, dia baru tahu ternyata Krist adalah pemilik salah satu perusahaan terbesar yang ada di Jepang, bahkan beberapa perusahaan milik Krist yang ada di Thailand, Singto juga mengetahui itu.
Berbekal dengan nama Krist, ia mencari tentang Krist di internet hingga keluar semua biodata tentang diri Krist. Kini Singto tahu Krist adalah orang yang sangat kaya raya, di Jepang dan juga di Thailand, Singto juga kerap melihat kedua orang tua Krist di televisi, jadi menurutnya wajar jika Krist bersikap sombong dan tak mau memberikan nomor ponselnya padanya.
Sekarang Singto berjalan tak tentu arah, dia benar-benar bingung harus menemui siapa, apa lagi di kartu nama Krist tak ada nomor ponsel Krist di sana, ia harus menghubungi siapa sekarang?
Singto bertanya kepada orang-orang yang di temuinya menanyakan kemana ia harus pergi namun tak ada yang menjawab pertanyaannya, mungkin karna Singto hanya memakai pakaian biasa membuat para karyawan di sana memandang Singto remeh.
"Hey, apa yang kamu lakukan disini?" Ucap seorang wanita kepada Singto.
"Aku... Aku ingin melamar pekerjaan." Ucap Singto.
Wanita tersebut menatap Singto dari atas hingga bawah, Singto tak membawa apapun itu, bagaimana ia ingin melamar pekerjaan?
"Posisi apa?"
"Cleaning service, ku dengar dari Phi Krist. Disini sedang membutuhkan cleaning service," ucap Singto.
"Bagaimana bisa dia dengan berani memanggil Tuan Krist dengan panggilan Phi," ucap teman wanita yang sedang berbicara dengan Singto.
"A-aku aku benar-benar mengenal Phi Krist," ucap Singto.
"Siapa nama mu?"
"S-singto."
"Dengar, Singto. Jangan sesekali memanggil Tuan Krist dengan sebutan Phi! Jika dia mendengar itu, dia akan marah nanti. Lagipula disini tidak sedang membuka lowongan pekerjaan, apa lagi mencari cleaning service!" Ucap wanita itu dengan nada yang begitu sombong.
"Satpam..."
"Usir dia."
Dua satpam memegang tangan Singto, hendak membawanya pergi namun Singto menolak untuk pergi.
"Aku benar-benar mengenal Phi Krist, dia sendiri yang menyuruh ku untuk datang ke sini semalam!" Ucap Singto.
"Kemarin banyak wanita gila yang mengaku mengenal Tuan Krist hanya agar di perbolehkan masuk dan bertemu dengan Tuan Krist, sekarang malah datang seorang pria? Dasar tak tahu malu," ucap wanita itu sinis.
Sebuah mobil hitam berhenti di dekat mereka, Krist keluar dari mobilnya saat melihat dua satpam menarik tangan Singto.
"Berhenti... Apa yang kalian lakukan?" Ucap Krist.
"Tuan, ada pengganggu kecil di sini. Kami akan membersihkannya," ucap wanita tadi.
"Phi Krist, mereka mengusir ku," ucap Singto.
Dua wanita tadi terkejut mendengar Singto dengan berani memanggil CEO mereka dengan sebutan Phi, begitu juga dengan dua satpam yang tengah memegang tangan Singto.
"Lepaskan dia, dia teman ku," ucap Krist.
Dan lagi dua wanita dan satpam itu terkejut mendengar apa yang Krist ucapkan.
"B-baiklah jika begitu, Tuan. K-kami permisi masuk dulu," ucap wanita tersebut. Mereka langsung berlalu pergi dari sana sebelum Krist memarahi mereka.
Dua satpam itu juga melepas pegangan mereka di tangan Singto.
Singto melihat tangannya yang memerah akibat di cengkram dengan kuat oleh satpam tadi, ia meringis kecil sembari meniup tangannya.
"Maafkan aku," ucap Krist.
Singto cemberut mendengarnya, kenapa harus Krist yang meminta maaf? Bukankah Krist tak salah?
"Harusnya mereka yang meminta maaf, mereka benar-benar sombong. Apa aku tak pantas berada di sini?" Ucap Singto sambil cemberut.
Krist tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Singto, itu terlihat sedikit menggemaskan menurutnya.
Tunggu... Menggemaskan? Krist langsung menggelengkan kepalanya mengusir pikiran tersebut dari kepalanya.
"Aku meminta maaf mewakili karyawan ku," ucap Krist.
Singto hanya mengangguk tapi wajahnya tetap menampilkan ekspresi yang sedikit lucu. Dia masih betah cemberut.
"Kata wanita tadi disini tidak membuka lowongan pekerjaan," ucap Singto.
"M-mereka mungkin tak tahu, ayo ikut aku," ucap Krist sembari berjalan lebih dulu dengan di susul oleh Singto dari belakang.
Para karyawan menunduk hormat saat Krist melintas di dekat mereka, membuat Singto sedikit terpana dengan kekuasaan Krist di sana.
Apa seperti ini rasanya menjadi orang kaya? Meskipun para karyawan itu menunduk hormat untuk Krist tapi tetap saja Singto terkena sedikit imbasnya karna ia berjalan di samping Krist.
Singto melihat ada lift di sana yang berisi beberapa karyawan sedangkan Krist berjalan menuju lift satunya.
"Sing... Ayo," ucap Krist membuat Singto menatap ke arah Krist.
"Aku akan menggunakan lift itu," ucap Singto sembari menunjuk lift khusus karyawan.
"Di sini bersama ku," ucap Krist.
Apa benar yang di dengarnya sekarang? Meskipun Singto tak terlalu mengetahui peraturan kantor tapi setidaknya ia tahu lift khusus karyawan biasa dan lift khusus pemilik perusahaan.
"Ayo," ucap Krist.
Singto mengangguk dan berjalan menghampiri Krist, mereka masuk ke dalam lift bersama, setelah lift tertutup beberapa karyawan yang kebetulan melihat itu mulai berbisik-bisik membicarakan tentang Singto.
Krist membawa singto ke ruangannya, Singto menatap kagum pada ruangan Krist.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kenapa Phi membawa ku ke sini?" Tanya Singto.
"Aku hanya ingin membicarakan tentang pekerjaan mu," ucap Krist.
"Dimana aku bekerja?" Tanya Singto.
"Kamu bisa membersihkan lantai ini, terutama ruangan ku," ucap Krist.
"Hanya lantai ini?"
"Ya, setiap orang sudah mendapatkan bagian mereka masing-masing dan kamu mendapatkan tugas di lantai ini dan ruangan ku, apa kamu keberatan, Sing?" Ucap Krist.
"T-tidak, tapi ini terlalu sedikit. Ku pikir aku akan membersihkan seluruh lantai," ucap Singto.
"Baiklah, ambil seragam mu di ruang kepala kebersihan, besok kamu mulai bekerja di sini," ucap Krist.