Sekarang sudah pukul 09:00, tetapi Krist belum melihat Singto di kantor.
Ke mana pria itu?
"Apa Singto sudah datang?" tanya Krist pada seorang cleaning service yang kebetulan lewat di dekatnya.
"Belum, Tuan." Ucap orang tersebut.
Entah kenapa Krist merasa tak tenang karna memang Singto tak pernah terlambat sebelumnya, dia ingin menghubungi Singto namun mengingat dia tak mempunyai ponsel bagaimana cara Krist menghubunginya?
Krist memutuskan untuk menemui Singto ke rumahnya. Saat ia tiba di depan rumah Singto, rumah tersebut tertutup rapat. Ia mencoba mengetuk pintu, namun tak ada sahutan dari Singto.
"Sing, apa kamu di dalam?" Ucap Krist khawatir.
Entahlah, dia tak tahu kenapa dia harus khawatir seperti sekarang, mungkin karna Singto yang tak pernah tidak masuk bekerja sebelumnya, takut ada sesuatu yang terjadi pada pria itu.
*Ceklekk... Pintu rumah terbuka, Singto membuka pintu rumahnya dengan wajah yang sangat pucat, dia memang sedang demam sekarang, itu sebabnya ia tak masuk bekerja.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Krist.
"Kepala ku pusing, Phi. Aku menggigil, maaf baru membuka pintu, ayo masuk," ucap Singto dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Apa kamu sudah minum obat?"
"Sudah."
Singto hendak duduk di kursi yang ada di ruang tamu, namun suara Krist menghentikan dirinya. "Jangan duduk di sini, kamu harus tetap beristirahat di kamar mu," ucap Krist.
Singto mengangguk patuh dan berjalan ke kamarnya dengan diikuti oleh Krist dari belakang, Krist melihat kamar Singto yang sangat berantakan dengan banyak pakaian kotor berserakan di lantai.
"Kamu benar-benar jorok!" ucap Krist.
"Aku tak ada waktu untuk membereskan kamar ku." Ucap Singto tak mau kalah.
Krist melihat di atas nakas ada baskom berisi handuk kecil, mungkin Singto mengompres dahinya sendiri tadi.
Singto merebahkan tubuhnya di ranjang, sedangkan Krist duduk di sampingnya.
Krist mengambil handuk basah di dalam baskom kemudian mengompres dahi Singto.
"Maaf aku tak bekerja hari ini." Ucap Singto.
"Tak perlu minta maaf, kesehatan mu jauh lebih penting dari pada pekerjaan itu." Ucap Krist.
Krist merasa suhu tubuh Singto sangat tinggi, hanya membutuhkan waktu beberapa detik Singto langsung terlelap tidur.
Setelah Singto tidur, Krist beranjak dari duduknya, ia memungut pakaian yang tergeletak di lantai dan menyimpannya di tempat pakaian kotor, ia juga melipat pakaian yang sudah Singto cuci kemudian menyimpannya di dalam lemari pakaian, Krist menyapu lantai karna debu di kamar Singto sangat tebal, wajar jika Singto sakit, kamarnya memang sangat kotor.
Setelah kamar Singto rapi, Krist berjalan keluar menuju dapur, ia membuka kulkas ingin melihat apa yang bisa di masak namun kulkas tersebut hanya berisi beberapa bungkus mie dan telur, apa Singto masih suka makan mie?
Krist memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat, ia membeli banyak daging, sayur dan buah-buahan untuk Singto hingga troli belanjanya penuh, Krist juga membeli banyak cemilan dan stock minuman manis.
Tiba di rumah Singto, Krist langsung menata semua yang di belinya tadi ke dalam kulkas dengan rapi. Setelah menyimpan persediaan makanan di dalam kulkas, ia memasak untuk Singto makan siang, kemudian membereskan dapur Singto yang benar-benar berantakan menurutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Crazy CEO
FanfictionKrist Perawat seorang pebisnis handal, memiliki kekayaan yang mungkin tak akan habis 7 turunan, memiliki wajah yang begitu tampan bak seorang pangeran, banyak wanita maupun pria berusaha untuk mengejar cintanya namun hatinya telah tertutup rapat ole...
