Zura masih berdiri kaku di tempatnya. Matanya menatap satu per satu wajah yang kini terbuka di hadapannya wajah-wajah di balik nama ZELOS, geng motor yang selama ini hanya hidup sebagai bayangan dan bisik-bisik malam.
Tak bisa dimungkiri, kelimanya memiliki paras yang mencolok, tegas, maskulin, dan menyimpan aura berbahaya yang justru membuat mereka semakin sulit ditebak. Namun dari lima itu, hanya dua wajah yang benar-benar dikenal Zura. Zefan dan Edgar.
"Kaget?" suara Zefan memecah keheningan. Ia melangkah santai, senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang terlalu tenang untuk sebuah rahasia besar yang baru saja terbongkar. "Sekarang lo udah tau siapa di balik topeng Zelos." Ia menunjuk dirinya sendiri. "Gue ketuanya." Zura menelan ludah. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut, melainkan karena pikirannya berantakan.
Edgar ikut maju selangkah. "Lo juga tau gue, kan?" tanyanya sambil melirik ke arah anggota lain yang tampak kebingungan.
Zura mengangguk pelan. "Lo cowok temen gue. Edgar." Pandangannya beralih singkat ke wajah-wajah lain. "Gue cuma kenal dua dari kalian."
Keheranan jelas tergambar di wajah Oki, Leo, dan Sam. Ada banyak pertanyaan yang menggantung, tentang Zura, tentang balapan tadi, tentang kenapa ketua mereka terlihat... terlalu tertarik.
Zefan menghela napas kecil, lalu berkata tegas, "Kalian pergi duluan. Tunggu gue di tempat biasa." Tanpa membantah, Edgar, Oki, Leo, dan Sam berbalik pergi. Namun langkah mereka berat, rasa penasaran jelas belum terjawab. Mereka tahu, malam ini bukan sekadar soal balapan.
Kini, hanya tersisa tiga orang di lintasan yang mulai lengang: Zura, Zefan, dan Revaldi. Zefan tak mengalihkan pandangan sedikit pun dari Zura. Di bawah cahaya bulan yang pucat, wajah Zura terlihat lebih jelas, keras, berani, namun menyimpan kecantikan yang tidak biasa. Bukan cantik yang lembut, melainkan cantik yang membuat orang ingin menantang sekaligus melindungi.
"Ini yang namanya sakit?" ucap Zefan ringan. "Nggak sekolah tapi malah balapan."
"Bukan urusan lo," balas Zura ketus, tanpa gentar.
Zefan terkekeh pelan. "Jangan galak-galak, cantik. Lo tambah gemesin tau." Tangannya sempat terangkat, seolah ingin mencubit pipi Zura namun niat itu diurungkannya. Terlalu cepat. Terlalu dekat. Bahkan untuk dirinya sendiri.
Zura menatapnya tajam. Gila, batinnya. Baru kenal, tapi mulutnya kayak nggak punya rem.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Zefan melemparkan sebuah amplop tebal ke arah Revaldi. Revaldi refleks menangkapnya.
"Ambil aja bro," kata Zefan santai. "Mau gimana pun, Zura tetep menang," Revaldi terdiam. Antara kaget dan lega.
Zefan lalu menurunkan sedikit tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Zura. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Senyumnya mengembang, kali ini lebih lambat dan lebih dalam.
"See you at school. Azura."
Zefan berbalik, berjalan menuju motornya, lalu mengenakan helm. Mesin dinyalakan. Suaranya menggeram rendah. Zura masih menatapnya dengan sorot tajam, meski dadanya kini tak lagi setenang tadi. Ada sesuatu yang mengganggu sesuatu yang tidak ingin ia akui. Zura berbalik hendak pergi.
"AZURA!"
Teriakan itu menggema keras, memaksa Zura berhenti dan menoleh kembali.
"LO CANTIK!" teriaknya tanpa ragu. "LO HARUS JADI CEWEK GUE!"
Seketika itu juga, gas ditarik penuh. Motor melesat, meninggalkan jejak suara dan keheningan yang menggantung lama di udara.
Zura mengepalkan tangan. "Cowok gila!"
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Teen Fiction"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
