Zefan dan teman-temannya tiba di sebuah bangunan tua yang tak lagi berpenghuni. Gedung itu berdiri miring seolah menantang waktu, dindingnya retak-retak dan catnya mengelupas. Udara di dalamnya lembap dan berbau debu, seperti tempat yang sengaja dibiarkan menjadi saksi bisu kekerasan.
Zefan melangkah masuk lebih dulu, langkahnya mantap namun penuh amarah. Yang lain mengikuti di belakang, wajah mereka tegang. Dan di tengah gedung itu, Arsaga Reno berdiri santai dengan tangan dimasukkan ke saku celana, senyum tipis terukir di wajahnya, senyum yang sama seperti dulu, senyum orang yang selalu menikmati kekacauan.
"Datang juga lo," ucap Saga ringan, seolah mereka hanya bertemu untuk nongkrong biasa. "Lama juga," Lanjutnya, sambil menepuk abu rokoknya. "Gue kira Zelos udah bubar."
Sorot mata Zefan berubah tajam. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat dan mencengkeram kerah baju Saga dengan kuat. Tubuh Saga terdorong ke belakang.
"Lo masih berani nyari masalah sama gue, Saga?" suara Zefan rendah, bergetar menahan amarah. Tatapannya gelap, seperti ingin menghabisi lawannya saat itu juga.
Saga justru tertawa kecil. "Udah lama kita gak adu jotos, Zefan. Kangen gue, bro."
Tangan zefan sudah melayang di udara namun dengan cepat Edgar menahannya dan menarik Zefan ke belakang dengan bantuan Leo.
"Lepasin gue!" Zefan berontak namun Edgar tetap menahannya.
"Jangan gegabah Zefan! Pikir dulu!" ucap Edgar sedikit membentak Zefan untuk menyadarkannya.
Setelah dirasa tenang Edgar dan Leo melepaskan cekalan tangannya yang menahan Zefan. Zefan berusaha untuk menenangkan dirinya, ia melihat Saga masih tersenyum licik ke arahnya.
Zefan melangkah maju setengah langkah. "Apa mau lo?"
Saga terkekeh. "Langsung ke inti ya. Gak berubah."
Saga mengeluarkan ponselnya, layar menyala, lalu ia putar menghadap Zefan. Di sana terpampang akun Instagram anonim itu yang belum memiliki postingan apapun, Zefan menatap layar itu tanpa berkedip.
"Lo yang bikin," ucap Zefan datar.
Saga mengangkat bahu. "Mungkin. Tapi bukan cuma gue."
"Lo ngancem kita," suara Zefan mulai bergetar, bukan karena takut melainkan karena marah.
"Iya," jawab Saga tanpa rasa bersalah. "Dan itu masih berlaku."
Saga mematikan rokoknya yang masih berada di antara jarinya, lalu mendekat hingga jarak mereka hanya satu lengan.
"Lo pikir pindah sekolah bikin lo bersih?" bisik Saga. "Lo pikir masa lalu bisa lo tinggalin?"
Zefan menahan diri, otot-otot di lengannya menegang, "jangan pura-pura bego Saga." Zefan melayangkan tatapan tajam yang penuh kebencian itu kepada Saga. "Lo yang bikin gue pindah sekolah!!"
Saga tertawa, tawa yang sangat bahagia seolah itu adalah sebuah kemenangan, "Sorry, ternyata gue lupa. Gue yang berhasil bikin lo pindah," ucap Saga di tengah tawanya. "Masalah gue sama lo belum kelar," lanjut Saga. "Dan sekarang... gue pegang kartu as."
Dari balik tembok seseorang melemparkan helm ke lantai, suaranya menggema keras. Sudah dapat dipastikan bahwa di gedung itu Saga tidak sendirian, ada orang yang sudah bersiap menyerang kapanpun yang diperintahkan.
"Duel," kata Saga singkat. "Lo sama gue."
Leo refleks menahan lengan Zefan. "Zef, ini jebakan."
Zefan menepis tangan Leo. Tatapannya tak lepas dari Saga."Aturannya?" tanya Zefan.
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Fiksi Remaja"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
