Bab 10 : Hari Minggu

288 8 0
                                        

Semburat cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, menampar pelan wajah seorang perempuan yang masih terbungkus rapi dalam gulungan selimut. Zura mengerjapkan mata, mengernyit kecil, lalu berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang terlalu terang untuk ukuran hari libur.

Hari Minggu, hari yang seharusnya tenang. Tidak ada sekolah, tidak ada kebisingan pagi, dan biasanya ia akan menghabiskannya di rumah bersama Zira, memasak, membersihkan rumah, lalu tidur siang. Zura meraih ponsel di samping bantalnya. Layarnya menyala, menampilkan empat panggilan tak terjawab.

Revaldi.

Kening Zura berkerut.
"Ngapain nih orang nelepon subuh-subuh," gumamnya pelan.

Ia langsung menempelkan ponsel ke telinga. "Kenapa?" ucapnya, suara masih serak khas orang baru bangun tidur.

Namun yang terdengar di seberang bukan suara Revaldi.
"Halo, ini dengan Mbak Azura?"

Zura langsung duduk tegak. Jantungnya berdegup tak nyaman. "Iya, saya. Anda siapa? Kenapa ponsel teman saya ada di Anda?"

"Kami dari pihak rumah sakit, Mbak. Saudara Revaldi mengalami kecelakaan tadi malam dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Permata."

"Hah?!" Ia bangkit dari ranjang. "Terus... sekarang gimana? Dia udah sadar?"

"Untuk sementara belum, Mbak. Kami sudah mencoba menghubungi pihak keluarga, namun belum ada respons. Nomor Mbak Azura yang aktif terakhir."

"Rumah sakit mana?"

"RS Permata."

"Saya ke sana sekarang."

Zura mematikan telepon. Tangannya sedikit gemetar. Ia berjalan cepat ke kamar mandi, hanya menggosok gigi dan mencuci wajah, tidak mandi. Ia berganti pakaian asal, mengenakan hoodie, lalu keluar kamar.

"Kakak mau ke mana?" Zira muncul dari kamarnya dengan piyama dan mata setengah terpejam.

"Zira mau ikut kakak?" tanya Zura lembut. "Kakak mau ke rumah sakit."

Zira terdiam beberapa detik. "Rumah sakit? Siapa yang sakit?"

"Kak Valdi."

Mata Zira langsung membesar, "Hah?! Kak Valdi kenapa?"

"Jatuh dari motor."

Zira tanpa berpikir panjang mengangguk. "Zira ikut."

"Yaudah. Gosok gigi, cuci muka. Ganti baju, gak usah mandi."

Zura kembali mengambil ponselnya, mencoba menelpon ibu Revaldi. Lima kali tidak diangkat, di panggilan keenam, sambungan akhirnya terhubung.

"Zura?"

"Tante, Zura tadi dapet telepon dari RS Permata. Revaldi kecelakaan."

Hening sesaat. Lalu tangisan pecah di seberang.

"Ya Tuhan... Revaldi... Dia gak pulang semalam, Ra."

"Tante ke rumah sakit ya. Zura juga ke sana. Ini masih nunggu Zira siap."

"Iya... iya, Tante berangkat sekarang."

Telepon terputus. Zira sudah siap, Zura memutuskan membawa mobil karena udara pagi masih dingin, dan Zira tampak masih mengantuk.

"Pakai seat belt," ucap Zura.

Mobil melaju meninggalkan rumah. Jalanan Minggu pagi cukup lengang, meski tetap ramai oleh kendaraan yang menuju aktivitas masing-masing. Perjalanan dua puluh menit terasa jauh lebih lama dari biasanya. Begitu sampai di RS Permata, Zura turun lebih dulu, menggenggam tangan Zira erat. Ia bertanya ke resepsionis, lalu hampir berlari menuju ruang rawat.

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang