Bab 8 : tiba tiba baik

285 4 0
                                        

Zura melangkah menuju kantin dengan langkah santai. Suasana jam istirahat sudah mulai ramai, suara sendok beradu dengan mangkuk, tawa siswa, dan teriakan abang kantin saling bersahutan. Begitu sampai, ia langsung menuju meja yang tadi ia tempati bersama Hiza.

Zura sempat izin ke toilet lebih dulu. Namun saat keluar, telinganya menangkap suara benda jatuh disertai bunyi gesekan pelan. Lokasinya terlalu dekat dengan tembok belakang sekolah, tempat yang tadi ia tahu betul dipakai Zefan masuk.

"Ke toilet lama amat, Ra?" tanya Hiza sambil meniup baksonya.

"Bantu orang dulu," jawab Zura singkat sambil duduk dan kembali menyendok bakso yang tadi sempat ditinggalkannya.

"Siapa?"

"Murid baru."

Hiza langsung mendongak. "Zefan?! Kan dia gak masuk."

"Kesiangan. Masuk lewat tembok belakang. Gue bantu biar lolos dari guru-guru."

Hiza menyipitkan mata, jelas tidak percaya. "Baik banget lo. Tumben. Biasanya lo paling males deket-deket sama dia."

"Ya.. mmm... kasian saja sih," jawab Zura cepat, seolah tak mau membahasnya lebih jauh.

Baru juga Zura hendak menyuapkan bakso lagi ke mulutnya tiba tiba ada seorang laki laki yang duduk di depannya.

"Hai, cantik."

Zura langsung tersedak. "Bangsat!" makinya refleks sambil batuk keras. Hiza buru-buru menyodorkan air mineral.

Laki-laki yang tiba-tiba duduk di depan mereka itu tersenyum santai, seolah tidak merasa bersalah sama sekali.

Zura menatapnya tajam. "Lo gak punya mata, hah?! Orang lagi makan!"

"Maaf, Zura," ucap laki-laki itu yang bernama Rega.

"Heh! Jangan ganggu orang makan. Sana lo," Hiza ikut naik darah, berusaha mengusir Rega.

Namun sebelum Rega sempat berdiri, dua laki-laki lain datang dan duduk seenaknya di sebelah Zura dan Hiza. Tangan mereka langsung melingkar di bahu kedua gadis itu.

"Apa-apaan ini?!" Hiza meronta, mencoba melepaskan diri. "Gue aduin cowok gue! Awas lo!" ancamnya.

"Aduin aja, cantik. Gue gak takut," balas laki-laki itu sambil tersenyum menjijikkan.

Zura yang sejak tadi menahan diri akhirnya bangkit. Tangannya mencengkeram pergelangan tangan laki-laki yang merangkulnya, lalu memelintirnya dengan keras.

"BERANI LO NYENTUH GUE?" bentaknya dingin. "Gue patahin tangan lo!"

"Ampun! Ampun!" laki-laki itu meringis kesakitan.

Zura mendorongnya hingga tubuhnya terbentur meja kantin.

"Lepasin tangan lo dari temen gue!"

Hiza langsung mendorong laki-laki di sampingnya dan berlari bersembunyi di belakang Zura.

"Stop ganggu gue, Rega!" Zura menatap tajam.

Rega berdiri. Senyumnya tipis, penuh emosi yang terpendam. "Dua tahun, Zura," ucapnya. "Dua tahun gue nunggu jawaban lo." Suasana kantin mendadak senyap.

"Gue ngerendahin ego gue. Gue ubah diri gue. Gue pindah sekolah demi lo. Tapi lo nolak gue dan bikin harga diri gue jatuh."

Zura mendengus, kesabarannya kali habis. "Heh. Dengerin gue baik-baik," ucap Zura.  "Lo ngapain nunggu gue selama dua tahun, hah? Gue gak pernah minta lo berubah, gue gak pernah minta lo pindah sekolah, harga diri lo jatuh? Itu salah lo sendiri, Rega. Bukan gue." Semua mata tertuju pada Zura. Bahkan Hiza terdiam ini pertama kalinya ia melihat Zura berbicara sepanjang ini pada seorang laki-laki.

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang