Bab 1 : Murid baru?

1.1K 14 3
                                        

Bagaimana hidup dalam trauma?
Jika ingin tahu, maka akan aku beri tahu
Semuanya terasa menakutkan
'Tenang' adalah sebuah perasaan yang ingin sekali aku rasakan
Aku ingin merasakan tidur dengan nyenyak tanpa harus merasakan takut
Aku ingin merasakan kebahagiaan yang pernah aku rasakan
Apakah semua itu masih bisa?
Semoga

-Azura Brianna Caitlin-

•••••

"Zira, bangun, sayang."

Suara lembut itu kembali terdengar di pagi yang masih dingin. Seorang gadis SMA dengan seragam rapi berdiri di samping ranjang, menatap bocah berusia sembilan tahun yang masih terlelap, memeluk bantal seolah dunia tak perlu bangun hari ini.

"Udah siang," lanjutnya sambil menghela napas kecil. "Gak mau sekolah, emangnya?"

Hening tak ada jawaban. Zura menggeleng pelan, "Ya ampun, ini anak kebo banget."
Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, lalu berkata dengan nada sengaja dibuat serius, "Zira, kalau nggak bangun sekarang, kakak tinggal."

Ancaman itu selalu berhasil. Zira langsung membuka mata, duduk terburu-buru, lalu memeluk kakaknya erat-erat.

"Aaaaa, kakak jangan tinggalin Zira," rengeknya panik. "Zira nggak suka sendirian."

Zura langsung melunak. Ia membalas pelukan itu, mengusap punggung kecil adiknya dengan sabar. "Iya, kakak nggak ke mana-mana," ucapnya lembut. "Sekarang mandi dulu. Kakak siapin sarapan."

"Iya, Kak Zura," jawab Zira patuh.

Azura Brianna Caitlin atau yang kerap dipanggil Zura itu merupakan gadis SMA yang mempunyai paras cantik, manis, muka yang tegas tapi terlihat baik. Gadis yang tidak banyak bicara kecuali dengan adiknya yang bernama Zira Anastasya dan orang yang dianggapnya dekat. Dia tinggal berdua bersama adiknya, sebelumnya dia tinggal bersama nenek dan kakeknya, namun mereka sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Sejak saat itu, Zura memikul peran yang terlalu besar untuk usianya menjadi kakak, orang tua, sekaligus pelindung. Zura sangat menyayangi adiknya itu, dia tidak akan membiarkan siapapun untuk menyakiti adiknya.

Zura menyiapkan sarapan di dapur. Tak lama kemudian, Zira turun dengan seragam SD lengkap dan tas di punggungnya.

"Nih makan dulu," Zura menyodorkan sepiring nasi goreng.

"Kakak gak makan?" tanya Zira

"Enggak, kakak tadi udah makan pas Zira masih bobo."

Zira mengangguk paham, dia mulai memakan nasi goreng itu.

"Habisin sarapannya, terus kita berangkat sekolah."

Setelah Zira menghabiskan sarapannya, Zura bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Zura harus mengantar terlebih dahulu Zira ke sekolahnya. Zura menyalakan motornya dan meninggalkan rumahnya untuk menuju sekolah Zira. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di sekolah Zira.

"Belajar yang rajin ya," ucap Zura kepada adiknya.

"Siap kak," ucap Zira penuh semangat dan berlari masuk kedalam sekolah.

Zura melajukan kembali motornya. Zura kini sudah sampai di sekolahnya, dia memarkirkan motornya di parkiran, setelah itu dia berjalan menuju kelasnya. Di SMA Bunga Bangsa, Zura kembali menjadi dirinya yang lain Senyum manis yang tadi pagi ada di rumah kini menghilang, berganti ekspresi dingin dan datar, tatapan orang-orang mengiringi langkahnya menuju kelas.

Sesampainya di kelas, Zura duduk di bangku ketiga dari depan, dia duduk di sebelah temannya yang bernama Hiza.

"Tumben siang datangnya," ucap Hiza.

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang