Setelah selesai makan, mereka bersama-sama membereskan alat-alat barbeque. Sisa bara api dipadamkan, piring-piring dikumpulkan, dan meja dibersihkan. Tawa masih tersisa, meski rasa lelah mulai merayap pelan. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sepuluh malam, cukup alasan bagi semuanya untuk bersiap pulang.
"Hiza, makasih ya buat makanannya," ucap Zura tulus.
"Iya, makasih banget," sahut Dinda.
"Santai aja, guys," Hiza tersenyum lebar. "Kapan-kapan kita barbeque lagi."
"Siap! Tinggal bilang, langsung meluncur," kata Tara dengan wajah berbinar.
"Gue duluan ya, Za," pamit Mika sambil mengenakan jaket.
"Iya, hati-hati," balas Hiza.
"Gue sama Kevin juga cabut," ujar Tara.
Tak lama, halaman rumah kembali sepi. Hiza masuk ke dalam, meninggalkan dua sosok yang masih berdiri di depan rumah, Zura dan Zefan.
Lampu teras menyinari mereka samar.
"Pulang sama siapa?" tanya Zefan santai.
Tak ada jawaban. "Mau gue anterin?" lanjutnya, mencoba lagi.
"Gak usah," jawab Zura singkat tanpa menoleh.
Zefan terkekeh kecil. "Jangan cuek-cuek amat sama gue. Tar malah suka."
Zura langsung menoleh. Tatapan tajamnya menancap tepat di wajah Zefan. Zefan justru membalas dengan senyum cengengesan yang seolah tak tahu malu.
"Gak usah senyum-senyum," semprot Zura. "Lo pikir lo ganteng? Kagak!"
Senyum Zefan perlahan memudar. Wajahnya berubah datar. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah pergi menuju motornya. Mesin motor dinyalakan, lalu melaju menjauh tanpa sepatah kata perpisahan.
Zura menatap punggung itu sampai menghilang di tikungan.
"Dih. Ngambek?" gumamnya pelan. "Kayak cewek."
Belum sempat ia beranjak, sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kaca jendela diturunkan.
"Atas nama Azura, silakan naik, Mbak."
Zura tersenyum kecil. "Valdi?"
"Iya, Mbak."
Ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. "Lama banget lo."
"Macet, Mbak."
"Thanks ya udah jemput gue. Motor gue aman?"
"Aman. Udah di rumah gue. Besok gue jemput lo sekalian ke sekolah."
"Kenapa gak ke rumah lo dulu ngambil motor gue?"
"Jauh, macet, males gue," jawab Revaldi santai.
"Yaudah, terserah lo."
Perjalanan pulang memakan waktu lebih dari satu jam. Jalanan malam lengang, hanya lampu-lampu kota yang menemani. Setibanya di depan rumah, Zura turun dari mobil.
"Makasih, Val. Hati-hati di jalan."
"Iya. Cepet masuk."
Zura tersenyum kecil lalu masuk ke rumah. Suasana rumah sunyi. Lampu ruang tengah menyala redup. Ia melangkah pelan menuju kamar Zira. Pintu dibuka sedikit, Zira tertidur lelap, memeluk bantal kesayangannya.
Zura menutup pintu itu perlahan, nyaris tanpa suara lalu ia masuk ke kamarnya sendiri, membersihkan diri, lalu berganti piyama biru muda. Tubuhnya langsung rebah di kasur, rasa lelah baru benar-benar terasa.
Zura meraih ponselnya, beberapa notifikasi WhatsApp muncul. Salah satunya dari satu nama yang langsung membuatnya mendengus pelan.
Zefan
udh di rmh?
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Teen Fiction"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
