Bab 3 : Proyek

395 9 1
                                        

Zura menatap adiknya yang tengah menikmati es krim dengan lahap. Setelah penampilan tadi, Zira bersikeras ingin dibelikan es krim dan Zura tentu saja mengiyakan.

"Pelan-pelan makannya," ujar Zura lembut sambil mengusap sisa es krim di sudut bibir Zira. "Kakak nggak bakal minta, kok."

Zira terkekeh kecil. "Penampilan Zira tadi gimana, Kak?"

"Bagus banget," jawab Zura tanpa ragu. "Hebat. Adik kakak berani tampil di depan banyak orang."

"Tadi Zira sempat gugup," aku Zira jujur.

"Itu wajar," Zura tersenyum. "Tapi kamu tetap keren. Nanti kakak beliin chicken, ya."

Zura kemudian menangkap sosok yang membuat dadanya mengeras. Seorang anak perempuan yang tadi mendorong Zira berdiri tak jauh dari mereka, bersama seorang wanita dewasa yang Zura yakini sebagai ibunya.

"Tunggu sebentar ya," Ucap Zura pelan.

Zira mengangguk.

Zura menghampiri ibu dan anak itu. Anak perempuan tersebut langsung bersembunyi di balik tubuh ibunya, wajahnya pucat.

"Mami, itu dia," bisik si anak sambil menunjuk Zura. "Yang tadi nakutin aku."

"Oh," wanita itu menatap Zura tajam. "Jadi kamu yang nakut-nakutin anak saya?"

"Maaf, Bu," jawab Zura tenang, meski suaranya dingin. "Tapi anak ibu yang lebih dulu mendorong adik saya."

"Itu tidak mungkin," sang ibu langsung menyela. "Anak saya baik. Dia tidak mungkin melakukan hal seperti itu."

Zura tersenyum kecil senyum yang sama sekali tidak hangat. "Sepertinya... ibu bukan ibu yang baik."

"Apa kamu bilang?" sorot mata wanita itu berubah tajam.

"Seorang ibu seharusnya tahu karakter anaknya," lanjut Zura datar. "Atau mungkin ibu tidak punya cukup waktu untuk mengajarkan sopan santun?"

"Hah? Apa maksud kamu?!"

"Anak ibu mendorong adik saya," suara Zura kini lebih tegas. "Dia juga membully adik saya menghina karena adik saya tidak memiliki ibu dan ayah. Menurut ibu, pantaskah seorang anak berkata seperti itu?"

Wanita itu terdiam tidak bisa mengucapkan apapun.

"Seorang anak masih butuh bimbingan," lanjut Zura. "Adik saya, yang tumbuh tanpa orang tua dan hanya punya saya, masih tahu cara menghargai orang lain. Lalu kenapa anak ibu, yang katanya punya keluarga lengkap bisa bersikap seperti itu?"

Zura menghela napas panjang, berusaha menahan emosi yang bergejolak.

"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," katanya pelan. "Mungkin ibu pernah dengar pepatah itu. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat."

"Kurang ajar!" wanita itu mengangkat tangannya.

Namun sebelum tamparan itu mendarat, Zura lebih dulu mencekal pergelangan tangan wanita tersebut.

Plak....

Suara tamparan Zura menggema. Pipi wanita itu memerah seketika. Beberapa orang mulai menoleh, memperhatikan keributan itu.

"Mungkin ini tidak sopan," ujar Zura dingin, "karena usia ibu lebih tua dari saya."

Ia menatap lurus ke mata wanita itu. "Tapi ini pembalasan atas apa yang anak ibu lakukan kepada adik saya."

Zura mendekat, suaranya direndahkan, nyaris berbisik di dekat telinga wanita itu.
"Dengarkan saya. Saya bisa membuat hidup anak ibu jauh lebih sulit. Saya bukan orang sembarangan. Didik anak ibu dengan benar. Ajari dia sopan santun agar kelak dia tidak tumbuh menjadi seperti ibunya."

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang