Dua perempuan itu duduk berhadapan di ruang tamu yang terasa semakin sempit oleh emosi. Televisi menyala tanpa suara, hanya menampilkan gambar yang berlalu tanpa benar-benar ditonton. Zura menyandarkan punggungnya di sofa, satu kaki terangkat, sebungkus cemilan berada di tangannya. Ia lebih banyak diam, membiarkan Hiza meluapkan segala yang menyesak di dadanya.
Telinganya sudah sedikit berdenging,bukan karena suara Hiza yang keras, melainkan karena ceritanya yang berputar-putar, penuh kecewa dan amarah yang belum menemukan jalan keluar.
"Dia gak bilang apa-apa ke gue, Ra," ucap Hiza, suaranya parau. "Itu yang bikin gue sakit. Kenapa dari awal dia gak jujur? Kenapa gue harus tau dari orang lain? Di Instagram lagi."
Zura menghela napas pelan. Sejak terbongkarnya identitas Zelos, hubungan Hiza dan Edgar memang tak lagi sama. Tak ada pesan yang dibalas. Tak ada telepon yang diangkat. Hiza memilih membangun tembok, setinggi mungkin.
"Pasti dia juga punya alasan, Za," kata Zura akhirnya, sambil memasukkan cemilan ke mulutnya. "Lo gak kepikiran buat dengerin dulu?"
Hiza menggeleng cepat. "Belum bisa. Gue masih marah. WhatsApp-nya gue blok."
"Terus lo mau sampai kapan kayak gini?" Zura melirik. "Emang lo mau putus?"
Hiza terdiam. Bahunya turun. Suaranya melemah.
"Enggak... gue gak mau."
"Nah," Zura mendecak pelan. "Makanya. Dengerin dulu penjelasannya. Lagian, jujur aja ya, keren loh lo punya pacar anggota Zelos."
Buat ngehibur lo doang ini gue ngomong kayak gini, Za. Batin Zura dalam hati.
"Dia beberapa kali ke rumah gue," lanjut Hiza lirih, kepalanya bersandar di sandaran sofa. "Tapi gue gak mau ketemu. Gue kejam ya, Ra?"
Hadeuh, bucin. Batin Zura sambil menahan senyum.
"Dibilang kejam... ada benernya sih," jawab Zura jujur.
"Terus gue harus gimana?" Hiza merengek kecil. "Gue capek mikir."
"Jangan tanya gue," Zura mengangkat bahu. "Gue juga gak ngerti beginian. Belum pernah gue segalau ini."
Bel rumah Zura iba-tiba berbunyi nyaring, disusul ketukan keras di pintu yang tidak sabaran.
"Siapa sih?" Zura mendecak. "Sabar woy." Ia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu depan.
Begitu pintu dibuka, Zura terdiam. Edgar berdiri tepat di hadapannya, dengan rambut berantakan, mata sembab, dan raut wajah yang jelas menunjukkan kurang tidur. Di belakangnya, berdiri seorang laki-laki dengan postur santai namun sorot mata waspada, Zefan.
"Loh?" Zura mengerutkan kening. "Edgar?"
"Iya, ini gue," jawab Edgar cepat. "Cewek gue ada di sini kan?"
Zura tidak langsung menjawab. Ia melirik ke dalam rumah, ke arah Hiza yang kini terduduk di sofa sambil menangis kecil, cemilan masih di tangannya.
"I-iya," jawab Zura akhirnya.
Edgar langsung melangkah maju hendak masuk, namun refleks Zura menahannya dan menarik Edgar sedikit menjauh dari ambang pintu.
"Eits," Zura mengangkat tangan. "Stop. Diem."
Pintu langsung ditutupnya, menyisakan Edgar dan Zefan di luar.
"Please," suara Edgar melembut. "Biarin gue ketemu dia."
"Cewek lo emang di dalem," Zura menatap Edgar tajam. "Tapi ini rumah gue. Minimal ada sopan santunnya, jangan asal nyelonong."
Zefan yang sejak tadi diam akhirnya angkat suara. Ia tersenyum kecil, menepuk pundak Edgar seolah menenangkan. Lalu ia melangkah maju, berdiri di hadapan Zura. Ia sedikit menundukkan badan agar sejajar dengan Zura.
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Teen Fiction"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
