Bab 2 : perkenalan

484 10 1
                                        

Setelah selesai makan, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk mengerjakan tugas sekolah. Zira masuk lebih dulu ke kamarnya, sementara Zura kembali duduk di meja belajarnya. Buku fisika terbuka lebar di hadapannya, dipenuhi coretan rumus dan catatan kecil di pinggir halaman.

Pelajaran itu sebenarnya tidak sulit bagi Zura. Ia paham konsepnya, mengerti cara menyelesaikannya. Hanya saja, jumlah soal yang terlalu banyak membuat kepalanya terasa penuh.

"Guru kenapa sih ngasih tugas nggak ngotak begini," gumamnya pelan, sambil menyandarkan punggung ke kursi.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam ketika ponselnya bergetar. Nama Hiza muncul di layar.

"Apa?" jawab Zura singkat.

"Lo lagi di mana?"

"Rumah."

"Nongki yuk, kafe biasa."

Zura melirik sekilas ke arah pintu kamar Zira. "Kasihan Zira ditinggal."

"Bentar doang lah. Zira juga udah tidur kali jam segini. Sabi lah."

Zura menghela napas pendek. "Oke. Gue cek Zira dulu."

"Siap. Ditunggu kedatangannya, Azura."

"Oke."

Telepon diputus sepihak.

Zura berdiri, lalu mengganti pakaiannya. Celana panjang berwarna krem, kaus putih polos, dan jaket dengan warna senada. Rambutnya dibiarkan tergerai, sedikit dirapikan dengan jari. Ia hanya mengoleskan lip tint tipis di bibir, sekadar memberi warna.

Langkahnya pelan saat berjalan menuju kamar Zira. Lampu kamar itu sudah mati. Zura membuka pintu perlahan, memastikan tak ada suara yang membangunkan adiknya. Zira terlelap, wajahnya damai, napasnya teratur.

"Tidur yang nyenyak ya, kakak tinggal dulu sebentar," bisik Zura, lalu menutup kembali pintu kamar.

Zura berjalan menuju pintu depan rumahnya, ia mengunci pintu depan dan menyalakan motor.
Tak sampai sepuluh menit, Zura sudah tiba di kafe langganan mereka. Musik pelan mengalun, aroma kopi menyambut begitu ia melangkah masuk. Pandangannya berkeliling mencari Hiza, namun tak menemukannya di lantai bawah.

Zura mengeluarkan ponsel dan menelepon Hiza.

"Di mana lo?"

"Atas, di luar."

"Oke."

Ia menaiki tangga menuju lantai dua. Begitu matanya menangkap sosok Hiza, langkahnya langsung melambat. Hiza duduk berhadapan dengan seorang laki-laki.

"Sialan. Ternyata sama cowoknya," ucap Zura pelan, "Tau gitu gue nggak bakal datang." Meski begitu, Zura tetap berjalan menghampiri mereka.

"Eh, Zura," sapa Hiza ceria.

Zura tersenyum tipis lalu duduk di kursi kosong di sebelah Hiza.

"Ini cowok gue," ujar Hiza. "Belum pernah gue kenalin ke lo, kan?"
"Sayang, ini temen aku. Namanya Azura," lanjut Hiza.

"Gue Edgar," kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangan.

"Zura," balas Zura singkat, menjabatnya sekilas.

"Anak SMA mana lo?" tanya Zura, nadanya datar.

"Putra Bangsa."

Zura mengangguk kecil sebagai jawaban. "Lo manggil gue ke sini biar gue jadi kambing conge?" bisik Zura ke Hiza.

"Enggak," balas Hiza santai. "Gue mau ngenalin lo sama cowok."

Zura langsung melotot. "Lo tau kan gue nggak tertarik."

A&ZTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang