"Lawan lo Zelos," ucap Revaldi sambil fokus ke jalan.
"HAH?" Zura berteriak, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin malam. Ia memang tak mendengar jelas, tapi satu kata itu ZELOS tertangkap sempurna.
"ZELOS LAWAN LO!"
"Gak usah teriak, anjing. Gue juga denger," gerutu Zura sambil menoyor helm Revaldi dari belakang.
"Lah si anjing, lo tadi yang teriak duluan!"
"Gue teriaknya biasa aja, gak kayak lo."
"Oke, cewek. SIAP SALAH!"
"Dih, gaya lo kayak tentara aja pake siap-siap segala."
Oke. Salah lagi gue. Batin Revaldi pasrah.
Zura menyandarkan tubuhnya sedikit, nada suaranya berubah lebih serius.
"Zelos... geng motor yang suka pake topeng itu?"
"Iya. Mereka lawan lo sekarang."
"Siapanya yang jadi lawan gue?" tanya Zura tajam.
"Anggotanya. Ketua mereka jarang turun langsung. Dia cuma turun kalo lawannya keliatan berat."
Zura terkekeh pendek, "Jadi maksud lo, gue ini lawan enteng buat mereka?"
"Bukan gitu. Mereka gak tau lo cewek," jawab Revaldi cepat. "Gue gak kasih identitas lo."
Zura langsung menepuk pundak Revaldi dengan keras.
"Kenapa lo gak kasih?"
"Kalo gue kasih, mereka bakal batalin balapan. Mereka gak ngelawan cewek."
"Meskipun ceweknya kayak gue?"
"Mau cewek tomboi, jago balap, nekat kayak lo sekalipun mereka gak bakal mau. Mereka sangat menghargai cewek."
"Bullshit," desis Zura dingin.
Motor Revaldi melambat. Lampu-lampu kendaraan mulai memenuhi pandangan. Mereka telah tiba di lokasi balapan sebidang jalanan sepi yang kini berubah menjadi arena liar. Suara mesin meraung, bau bensin dan asap knalpot bercampur di udara. Di sisi lain, sekelompok pengendara berdiri rapi. Seragam gelap. Postur tegap. Dan topeng khas ZELOS.
Zura memperhatikan mereka satu per satu. Wajah-wajah tertutup topeng mata membuat identitas mereka mustahil dikenali. Bahkan dari cara berdiri saja, aura mereka terasa berbeda tenang, terlatih, dan berbahaya.
Zura nyaris tenggelam dalam pengamatannya ketika suara motor lain memecah keramaian. Raungan mesin itu berbeda, lebih berat, lebih berwibawa. Semua kepala menoleh ke arah yang sama. Seorang pengendara datang perlahan, motornya melaju mantap. Topeng terpasang rapi di wajahnya yang tertutup helm. Langkahnya tenang saat turun dari motor, seolah ia tahu seluruh perhatian tertuju padanya dan itu memang haknya.
Revaldi mencondongkan tubuh, suaranya merendah, "Itu ketuanya."
Zura menatap sosok itu tanpa berkedip. Entah kenapa, dadanya bergetar bukan karena takut, tapi karena firasat yang tak bisa ia jelaskan.
•••••
Zefan akhirnya tiba di lokasi balapan malam itu. Deretan motor sudah memenuhi sisi jalan, suara mesin meraung rendah seolah menunggu aba-aba. Anggota ZELOS lainnya telah lebih dulu sampai.
Ia turun dari motornya dan menghampiri mereka, napasnya masih sedikit memburu.
"Sorry telat," ucapnya sambil melepas helm.
"Santai," balas Edgar singkat.
Pandangan Zefan menyapu area sekitar, mencari sosok yang akan menjadi lawan malam ini. Namun langkahnya terhenti, matanya terpaku pada satu sosok yang sama sekali tak ia duga. Zura. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat.
KAMU SEDANG MEMBACA
A&Z
Teen Fiction"Lo cantik, lo harus jadi cewek gue." "Cowok gila!" Ini kisah tentang si A dan si Z, yang penuh dengan tantangan dan rintangan, penuh air mata dan kebahagiaan
