2. Priority

415 31 29
                                        

_________________________________Mika tersenyum malu, ia dengan senang hati memberikan tangan kanannya pada Jeremi yang sedang berlutut dengan sebuah cincin di benda merah berbentuk hati

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

_________________________________
Mika tersenyum malu, ia dengan senang hati memberikan tangan kanannya pada Jeremi yang sedang berlutut dengan sebuah cincin di benda merah berbentuk hati. Sang pemuda menyematkan cincin itu ke jari manis Mika, dengan begini Jeremi resmi melamar Mika.

Orang tua Mika juga sudah mengetahui tentang ini, katanya pernikahan Jeremi dan Mika hanya menunggu kasus yang digarap Mika selesai dan juga proyek Jeremi selesai digarap. Dua-duanya sudah menyelesaikan hal itu dan tunggu apalagi?

Telpon Mika berbunyi, ia tersenyum karena yang menelpon adalah Ibu Rika. Orang yang sangat ingin ia hubungi karena momen ini, Mika sangat dekat dengan ibu angkatnya.

"Halo, Ma?" sapa Mika, senyum cantik yang semula bersinar seperti siang tiba-tiba redup seperti malam tanpa rembulan.

Gadis berusia dua puluh lima tahun itu menutup telponnya. Lalu terjatuh, menangis sekencang-kencangnya. Air mata Mika tak terbendung, Jeremi tidak pernah melihat kekasihnya seperti ini.
"Mika? Kamu kenapa sayang?"

"Saka!"

____

"Mika! Gimana ini, Mika? Sakaaa!" jerit wanita itu tak tertahankan menangis dan berteriak sefrustasi yang ia bisa.
Alih-alih mendapat sambutan hangat setelah penat bekerja atau sekadar ucapan bangga karena Mika berhasil menjadi Pengacara, perempuan itu harus mendapati suasana duka di rumahnya.

Gadis berambut pendek itu memeluk sang ibu angkat, lantas mengedarkan pandangannya ke Saka. Anak laki-laki anak kandung dari keluarga ini hanya diam mematung, tanpa tahu harus melakukan apa. Jangankan dia, Mika pun tak tahu harus bereaksi apa untuk Saka yang sudah dinyatakan Hospice. Dokter sudah angkat tangan akan penyakitnya, sisa usia Saka dapat dihitung dengan jari.

"Ma, Mama harus kuat untuk Saka."

___

Saka anak baik.
Saka anak yang dapat diandalkan, Saka masih pantas untuk hidup lebih lama. Saka punya potensi besar yang mungkin jarang dimiliki banyak orang. Anak itu juga tampan, siapa pun pasti ingin menjadi kekasih Saka. Sayangnya Saka tak pernah mau memasuki dunia itu, dunia yang seharusnya sudah dimasuki untuk anak sembilan belas tahun pada umumnya.

Mika memperhatikan adik angkatnya dari balik pintu, memperhatikan pemuda berhoodie hijau army itu melukis sesuatu di atas kanvas. Mika selalu memperhatikan Saka dari jauh, saat si konten creator muda itu biasanya akan memulai siaran langsung setiap menciptakan karyanya.

 Mika selalu memperhatikan Saka dari jauh, saat si konten creator muda itu biasanya akan memulai siaran langsung setiap menciptakan karyanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kak Saka udah pulang dari rumah sakit? Ya udah, udah sembuh." Saka menjawab komentar yang sesekali dia baca.

Saka menemukan sebuah komentar, 'di belakang itu siapa kak?' pemuda itu lantas menoleh.

"Mika?"

"Aku dua puluh lima tahun, kamu sembilan belas." Mika menghapus air matanya.

"Kak Mika, mana oleh-olehnya?" tanya Saka, pemuda itu tersenyum. Mika terheran, apa benar dia mampu tersenyum?

____

Sekarang jam sebelas malam, cukup larut dan Saka baru saja tertidur setelah rasa sakitnya membuat seisi rumah tegang. Saka tidak bisa bernapas bebas, sehingga memerlukan bantuan oksigen untuk bisa membuatnya nyaman untuk tertidur.
Rika menutup pintu kamar anak bungsunya pelan, di depannya ada Mika dan sang suami.

"Udah gak sakit?" tanya Fajri, Rika ingin menangis tapi ia terlalu lelah untuk itu.

"Udah tidur. Semoga Saka mimpi indah."

"Jangan terlalu indah, takut Saka nggak bangun," ujar Mika, suasana ini menjadi sendu kembali.

"Mika ... soal pernikahan kamu, kita belum bisa fokus ke kamu dulu. Kita akan fokus ke Saka, kami minta maaf. Kamu mengerti, 'kan, Nak?" Rika merapikan surai Mika yang berantakan.

Mika ingin segera menikah dengan pria limited seperti Jeremi, tapi benar bahwa Saka adalah hal yang memerlukan atensi penuh saat ini. Mika mengerti, toh jika benar Jeremi mencintainya, pria itu akan menunggu sedikit lebih lama.

"Ma, Pa! Ayo buat sisa hidup Saka jadi hari-hari yang bahagia, jangan ada yang nangis dan jangan ada yang buat Saka sedih." Mika membuat tekat yang membara.

----

Mereka bertiga berkunjung ke sebuah ruangan, ruangan yang cukup luas itu dijadikan tempat penyimpanan karya-karya Saka yang indah. Biasanya anak itu akan menjual karyanya, entah itu untuk membeli cat baru atau mengobati dirinya sendiri. Namun, akhir-akhir ini Rika meminta agar karya anaknya itu abadi di sini.

Mika meletakkan sebuah buku tulis di tengah meja yang cukup besar nan pendek di tengah ruangan. Ruangan ini akan menjadi sebuah saksi bisu dari rapat keluarga yang sangat serius. Anak paling cantik dari keluarga ini mengeluarkan pulpen dan bersiap mencatat.

"Galeri Saka?" tanya Mika. Ia memandang sekelilingnya, baru tiga bulan tempat ini menjadi tempat penyimpanan lukisan tapi rasanya lebih dari cukup untuk membuat sebuah galeri.

"Boleh juga, dia juga punya banyak penggemar pasti banyak orang akan datang."

"Apalagi, Yah?"

"Dari lukisan Saka sepertinya dia ingin ke alam." Dan seterusnya mereka menulis hal-hal yang memungkinkan bagi Saka untuk lakukan selama ia masih bisa hidup.

___

Ngomong-ngomong ruangan itu terletak tak jauh dari kamar Saka, samar-samar anak itu mendengar apa yang keluarganya ucapkan. Intinya, 'demi Saka, untuk Saka'. Itu menyentuh hatinya akan tetapi ada sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan---keinginan terbesarnya.

"Saka mau Mika."

"Aku mau Mika."

"Mika ...."

HOSPICETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang