Kisah seorang bocah laki laki yang bernama Revan renanda, berusia 10 tahun, ia kehilangan ibunya saat dalam insiden penculikan.
Dan saat Revan berusia 18 tahun Revan bertemu dengan seorang wanita yang polos namun sangatlah nakal, dan menerobos masuk...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
____________________
Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 dini hari. namun tak ada satupun dari lima remaja yang di kenal sebagai anggota inti scropion itu berniat untuk pulang ke rumah mereka. Mereka sedang asik dengan aktivitas nya masing masing Ada yang sedang bermain game online, ada yang berpacaran dan ada juga yang sedang memasak makanan di dapur.
"Revan"panggil Devan pada Revan yang sedang memasak di dapur markas.
"Lo masak apa?"tanya nya lagi.
"Nasi goreng"jawab Revan dengan tangan yang sibuk mengiris bawang.
"Wihh enak nih, gua bantuin ya"Devan berjalan ke arah wastafel untuk mencuci sayuran yang akan mereka campur ke dalam nasi.
"Banyak banget rev nasi nya"
"Buat yang lain" devan Hanya mengangguk lalu memasukkan sayur yang tadi Sudah ia cuci dan potong ke dalam wajan.
"Lo punya Kaka atau kembaran gitu Rev?"tanya Devan tiba-tiba.
"Gak aja, tadi gua ketemu sama orang dia mirip banget sama Lo. Gua kira itu lo, eh ternyata bukan"
"Orang mirip bukan berarti saudara"jawab Revan.
"Bener juga, tapi dia mirip banget sama Lo Rev. Cuma bedanya di lebih hidup"
"Emang gua mati?"Tanya Revan dingin.
Devan terkekeh kecil ia menundukkan kepalanya menahan tawanya agar tidak pecah "gak gitu maksudnya bos."
"Maksudnya tu dia lebih terbuka gitu loh. Banyak senyum orang nya"
"Ohh" revan sangat malas jika di samakan ataupun di bandingkan dengan orang lain. Revan adalah Revan, orang adalah orang. tidak bisa di samakan ataupun di bandingkan dengan orang lain.
"Maaf Rev"ujar devan Karna melihat raut wajah Revan yang berubah. Yang tadinya wajah Revan datar, kini berubah semakin datar.
"Nih bawa"Revan memberikan dua buah piring berisi nasi ke tangan Devan.
"Revan"panggil Devan.
"Awas pecah"jawab Revan lalu berjalan meninggalkan Devan sembari membawa nampan ke luar.
"Nunggu apa lagi?"Tanya Revan kala Sudah kembali ke dapur.