Aurora tiba lebih dulu dibanding Tiffara. Tanpa menunggu lama, gadis itu langsung mengetuk pintu dengan tidak sabar. Nolen yang berada paling dekat segera membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. Aurora mengangguk singkat lalu melangkah cepat menghampiri Queen yang sudah sadar, namun masih menangis dan meringkuk ketakutan di sofa.
“Hei, ada gue. Sini peluk,” ucap Aurora lirih.
Ia langsung merangkul Queen, mengusap kepala dan punggungnya sambil membisikkan kalimat-kalimat penenang. Jerry yang berdiri tak jauh dari mereka menyodorkan obat yang tadi ia ambil ke arah Aurora.
“Kita minum obat ya,” ujar Aurora sambil menerima benda itu.
“Gue takut, Ra… Mama,” Queen terus mengulang kalimat yang sama, suaranya bergetar, seolah ketakutan itu tak mau pergi.
“Jangan takut lagi, ya. Udah ada gue,” Aurora menggenggam tangan temannya erat.
“Lo mau apa? Gue bikinin ya. Bilang aja, gue bakal usahain sekarang,” katanya lagi.
Queen tak menjawab. Ia justru memeluk Aurora lebih erat dan menangis di ceruk leher gadis itu. Aurora membalas pelukan tersebut, mengusap punggung Queen dengan sabar, mencoba menenangkan napasnya.
Tak lama kemudian, Tiffara datang dengan wajah penuh kekhawatiran. Jerry langsung menghampiri ibunya.
“Maafin Jerry, Bun. Harusnya Jerry yang antar Queen tadi,” ucapnya penuh sesal.
Tiffara hanya mengusap kepala anaknya sambil tersenyum singkat, lalu berjalan mendekati Queen dan Aurora.
“Hei, anak gadis Bunda,” ucapnya lembut. “Tenang ya, sayang. Sekarang Queen udah di rumah. Ada Bunda di sini. Jangan takut lagi, ya. Semua bakal baik-baik aja.”
Tangannya mengusap puncak kepala Queen yang masih berada dalam pelukan Aurora.
“Udah ya nangisnya. Nanti kamu sakit. Bunda nggak mau kamu kenapa-kenapa, sayang.”
Namun Queen masih menangis. Napasnya terdengar semakin sesak, membuat Tiffara semakin khawatir.
“Queen, hey,” Tiffara berjongkok agar sejajar dengan wajahnya. “Jangan kayak gini, Bunda nggak mau kamu sakit. Kita minum obat ya? Atau kamu mau minum air putih dulu?”
Queen perlahan melonggarkan pelukannya dan menatap Tiffara yang tersenyum menenangkan.
“Minum dulu ya. Nafasnya sesak, kan?” Tiffara membantu Queen minum dan menelan satu pil—obat yang memang harus diminumnya saat kondisi seperti ini.
Beberapa saat kemudian, Queen tampak sedikit lebih tenang. Tatapannya masih kosong dan tubuhnya masih bergetar samar, tapi ia sudah berhenti menangis. Aurora yang duduk di sampingnya terus mengusap punggungnya pelan.
“Kalian udah makan?” tanya Tiffara, kini menoleh ke arah anak-anak laki-laki yang berdiri kikuk di sekitar ruangan.
Serempak, mereka menggeleng.
“Ya udah, bentar ya. Bunda masakin,” ujar Tiffara, lalu kembali menatap Queen yang bersandar di bahu Aurora. “Queen mau apa, sayang?”
Queen hanya menggeleng lemah.
“Tadi dia mau mie,” suara Jack memecah keheningan.
“Eh, mie?”
“Iya, Bun. Tadi dia keluar beli mie,” jelas Jerry. Tiffara mengangguk paham.
“Mana mienya? Biar Bunda bikinin,” katanya. Jerry langsung melangkah keluar rumah untuk mengambil mie yang masih tertinggal di mobil.
“Ganti baju ya? Baju lo agak lembap,” ujar Aurora pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENDING SCENE
Fiksi RemajaBanyak kisah di dalam satu cerita. Tawa, canda, tangis, derita. Namun bagaimanakah akhirnya? Apakah akhir yang bahagia itu memang ada? Ini bukan kisah sikaya dan simiskin melainkan kisah tentang anak-anak kaya raya dengan power dan uang yang mereka...
