Anna menuruni tangga dengan langkah terukur. Seragamnya rapi tanpa cela, rambutnya jatuh sempurna di bahu. Ia tak membawa apa pun selain ponsel di tangannya—cukup ringan untuk seseorang yang hidupnya selalu terasa berat.
Di ruang makan, Sarah dan Jimmy sudah duduk berhadapan. Meja tersaji seperti biasa: tertata, hangat, hampir terlalu sempurna.
“Kamu berangkat jam berapa, sayang?” tanya Sarah lembut saat Anna menarik kursi.
“Setengah sembilan, Bu,” jawab Anna singkat sebelum meneguk susunya.
“Ada kegiatan apa di sekolah?” Jimmy ikut bersuara, nadanya tenang namun penuh perhatian yang terlatih.
“Ada sesi photoshoot, Yah. Sekolah mau bikin konten tanya jawab buat siswa baru di media sosial. Aku dan beberapa teman diminta handle konsepnya,” jelas Anna santai.
Jimmy mengangguk kecil. “Hari ini Ayah ada siaran langsung di TV nasional. Kamu hati-hati, ya. Lawan politik Ayah akhir-akhir ini mulai bermain kasar.”
Nada itu berubah tipis. Tidak lagi sekadar ayah, tapi seorang kandidat.
Anna menatapnya sebentar, lalu tersenyum samar. “Iya, Yah. Ayah juga jangan gegabah.”
Mereka melanjutkan sarapan dengan obrolan ringan yang terdengar normal. Terlalu normal untuk keluarga yang tahu dunia luar sedang menajamkan pisau.
Begitu selesai, Anna berdiri lebih dulu. Ia mengecup pipi ibunya dan memberi anggukan kecil pada ayahnya sebelum melangkah keluar.
Mobil sudah menunggu. Supir membukakan pintu seperti biasa.
Di dalam perjalanan, Anna tenggelam pada layar ponselnya—membalas pesan, membaca notifikasi, mencoba terlihat seperti remaja biasa. Hingga perlahan ia menyadari sesuatu.
Pandangan gadis itu terangkat dari layar. Matanya menyapu kaca jendela, lalu spion.
Ada yang terasa berbeda.
“Eh Pak… kok lewat sini?” tanya Anna ketika mobil berbelok ke jalan yang tidak biasa.
Supirnya tidak langsung menjawab. Tangannya justru mencengkeram kemudi lebih kuat.
“Ada yang ngikutin, Non. Nanti di depan Non pindah mobil sama Pak Sutarjo,” jelasnya sambil menambah kecepatan.
Jantung Anna seperti tersentak.
Refleks, ia menoleh ke belakang. Jalanan tampak biasa saja. Motor, mobil, angkot, semua terlihat normal. Terlalu normal.
“Yang benar, Pak?” Suaranya lebih pelan sekarang. Bukan karena tidak percaya—tapi karena takut kalau ini benar.
“Demi Tuhan saya nggak bohong, Non. Lawan politik Bapak memang mengincar Non Anna. Ini juga perintah Bapak supaya Non selalu pindah mobil di tengah perjalanan.”
Kalimat itu jatuh berat.
Tadi pagi ayahnya memang mengingatkan. Tapi mendengar langsung situasinya terasa berbeda. Tiba-tiba dunia terasa lebih sempit. Lebih berbahaya.
Tangannya tanpa sadar menggenggam ponsel lebih erat.
Mobil berhenti di titik yang sudah disiapkan.
“Ayo Non, cepat.”
Anna membuka pintu. Udara pagi terasa dingin menusuk, atau mungkin itu cuma tubuhnya yang mulai gemetar.
Mobil lain sudah menunggu. Sebelum masuk, ia menunduk sedikit memastikan plat nomor. Lalu melihat wajah di balik kemudi.
Pak Sutarjo.
Orang lama. Orang kepercayaan.
Ia mengangguk kecil, meyakinkan dirinya sendiri.
“Cepet, Pak.”
KAMU SEDANG MEMBACA
ENDING SCENE
JugendliteraturBanyak kisah di dalam satu cerita. Tawa, canda, tangis, derita. Namun bagaimanakah akhirnya? Apakah akhir yang bahagia itu memang ada? Ini bukan kisah sikaya dan simiskin melainkan kisah tentang anak-anak kaya raya dengan power dan uang yang mereka...
