11 | Bahagia Dibalik Luka

674 44 1
                                        

Zalory dan Bryella telah menyelesaikan makan malam mereka. Kini keduanya bersantai di kamar milik Zalory, sama-sama merebahkan diri di atas kasur, menatap langit-langit putih dengan pikiran yang belum sepenuhnya tenang.

"Menurut lo, Jerem tadi ngapain?" Zalory akhirnya membuka suara, mengangkat topik yang sejak sore menggantung di kepalanya.

"Halah, udah basi. Males gue," sahut Bryella datar.

"Serius njir. Lo nggak penasaran sama sekali?"

"Siapa sih yang nggak penasaran sama dia?" Bryella balik bertanya.

"Nah, kan." Zalory menyeringai tipis. "Tiba-tiba aja nongol di kuburan. Lo pernah ketemu dia di sana sebelumnya nggak?"

Bryella terdiam, mencoba mengingat. "Yang waktu itu... dia bukan, ya?"

Zalory langsung bangkit setengah duduk. "Ciri-cirinya gimana?"

"Serba hitam. Pake topi sama masker. Badannya tinggi, tegap. Gue nggak terlalu inget, tapi kayaknya dia pake motor."

"Motor yang tadi bukan?!"

"Nggak tau. Tadi gue nggak merhatiin."

"Bangsat, gue juga." Zalory mendecih frustrasi. "Tadi dia emang naik motor, tapi bukan motor yang biasa dia pake."

Sebelum obrolan itu berlanjut, ponsel Zalory yang sedari tadi tergeletak di samping bantal tiba-tiba bergetar. Layar menyala-panggilan masih aktif, tapi dalam keadaan mute.

"Bub, kok di-mute?" suara dari seberang terdengar samar.

Refleks, kedua gadis itu menoleh bersamaan.
"Gue lagi berak. Diem lu, awas ngomong gue matiin," bentak Zalory cepat sebelum kembali memute panggilan itu.

"Anjir, lu berak sama gue?" Bryella terkekeh.

"Biar anaknya nggak banyak omong." Zalory kembali rebahan. "Jadi menurut lo, tuh orang ngapain tadi?"

"Ziarah, lah. Emang mau ngapain lagi?"

"Nah ini dia." Zalory menghela napas. "Gini ya, walaupun tangan gue fokus ngelus punggung lo, mata gue jelalatan. Gue liatin satu-satu makam di sana. Nggak ada satu pun yang keliatan kayak habis dikunjungin."

"Njir, seniat itu lo?"

"Iya. Minimal, walaupun nggak bawa bunga, pasti kuburannya dibersihin, kan? Tapi kagak ada. Nggak satu pun."

"Ya mungkin dia cuma datang buat berkeluh kesah. Atau ngirimin doa. Who knows?"

"Nggak masuk akal, sih. Udah nyampe sana masa iya gitu doang."

"Ya elah, gue kagak tau." Bryella mengangkat bahu. "Coba tanya Gapin aja. Sahabatnya pasti tau banyak."

Zalory mendengus. "Anjir, nggak seru." Ia terdiam sesaat sebelum bertanya lagi, "Pertanyaan terakhir. Menurut lo, orang tuanya masih ada apa nggak?"

"Masih lah. Kalau nggak, siapa yang ngebiayain hidupnya? Barang-barang dia berkelas semua. Nggak ada yang murah."

Zalory mengangguk pelan, berpikir.

ENDING SCENECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang