Banyak kisah di dalam satu cerita. Tawa, canda, tangis, derita. Namun bagaimanakah akhirnya? Apakah akhir yang bahagia itu memang ada?
Ini bukan kisah sikaya dan simiskin melainkan kisah tentang anak-anak kaya raya dengan power dan uang yang mereka...
“Proposal dari masing-masing koordinator sudah kami terima dan pertimbangkan. Semua ide yang kalian ajukan bagus dan menarik. Namun, dengan mempertimbangkan waktu serta beberapa hal lainnya, kami memutuskan untuk mengambil beberapa ide saja. Kami berharap ide dari masing-masing bidang koordinator yang belum dapat dilaksanakan pada kegiatan kali ini bisa terealisasikan di lain kesempatan,” ujar Gavin selaku ketua pelaksana.
Ia masih berdiri tegak, menghadap seluruh pengurus ORKESTRA yang menghadiri rapat pagi itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Secara pribadi, saya sangat tertarik dengan ide dari koordinator bidang seni—penampilan bakat siswa baru yang tergabung dalam sebuah kelompok. Menurut saya, itu akan menjadi sesuatu yang menarik dan mampu meningkatkan kreativitas mereka. Selain itu, ide dari koordinator bidang olahraga juga tak kalah menarik, yakni menghadirkan perwakilan dari masing-masing gugus untuk mengikuti perlombaan olahraga. Saya rasa itu juga akan memberikan antusiasme yang sama,” lanjutnya.
Gavin menarik napas sejenak sebelum melanjutkan.
“Berdasarkan ide-ide yang telah kami pilih, kita akan mulai menyusun jadwal serta perencanaan terkait pelaksanaan Masa Mengenal Angkasa tahun ini. Saya berharap kita semua dapat menjalankan tugas masing-masing dengan baik dan mengupayakan hasil yang terbaik. Saya pikir, itu saja yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar ke depannya.”
Gavin menutup penjelasannya, lalu kembali duduk dan mempersilakan Aurora untuk membacakan rangkaian acara selanjutnya.
T
ak lama setelah itu, rapat singkat tersebut resmi berakhir. Satu per satu pengurus ORKESTRA beranjak meninggalkan ruangan. Kursi-kursi yang tadinya penuh kini mulai kosong, suara langkah kaki menjauh, pintu dibuka lalu ditutup kembali.
Namun tidak dengan mereka.
EXEN’C dan aesserra masih bertahan di bangku masing-masing, seolah belum benar-benar selesai dengan urusan pagi ini. Sudah hampir sepuluh menit berlalu sejak pengurus lain pergi, tapi mereka tetap di sana.
“Jadi kita turun buat kerja itu mulai Sabtu, kan? Tapi hari Jumat kita masih harus rapat lagi?” Queen membuka suara, santai seperti biasa. “Berarti gue ngasih duitnya hari Jumat, kan?”
Ia jelas sudah tahu jawabannya—pertanyaan itu sengaja dilempar, dengan harapan Jack buka suara.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.