Banyak kisah di dalam satu cerita. Tawa, canda, tangis, derita. Namun bagaimanakah akhirnya? Apakah akhir yang bahagia itu memang ada?
Ini bukan kisah sikaya dan simiskin melainkan kisah tentang anak-anak kaya raya dengan power dan uang yang mereka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Queen menyimpan ponselnya. Napasnya masih berat saat kedua lengannya mengerat memeluk Aurora dari belakang.
“Sesek, nyet.”
“Dingin. Gue butuh pelukan,” gumam Queen, dagunya bersandar di bahu Aurora. “Pelukan Jack jauh banget rasanya.”
“Masih sempet-sempetnya mikirin tu lakik,” sahut Aurora.
“Gimana ya, otak gue udah penuh sama dia.”
“Sinting emang,” Aurora mendecak, setengah tak habis pikir.
“Tapi gue seneng banget tau, Ra. Dia masih nginep di rumah Jerry, jadi gue bisa modus tiap hari. Apalagi besok giliran gue sama dia QnA.”
“Ya semangat modusnya,” Aurora menimpali datar. “Walaupun nggak ada harapan.”
“
ARA IH! Lo hobi banget matahin ekspektasi hidup gue.”
“Gue cuma ngomong fakta,” ujar Aurora, nadanya kali ini serius. “Cowok banyak. Kenapa harus dia? Jauhin hal yang cuma bikin lo sakit.”
“Gue nggak pernah sakit sama dia, Ra,” Queen membalas, tak kalah tegas. “Dia salah satu sumber bahagia gue.”
Aurora terdiam sejenak.
“Gue bahagia kalau lo bahagia.”
“Aaaaa~ sayang,” Queen mengeratkan pelukannya.
Motor mereka berbelok memasuki kompleks perumahan keluarga Keynant. Satpam yang berjaga sempat menahan, tapi begitu helm dibuka, palang langsung terangkat. Tak lama, mereka sudah berhenti di halaman rumah bercat putih yang tampak hangat, nyaris terlalu tenang.
“Anjay,” Queen turun dari motor. “Dari luar aja udah kecium cemaranya.”
Keduanya berjalan menuju pintu utama. Bel ditekan. Tak sampai semenit, pintu putih itu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya dengan dress selutut.