Banyak kisah di dalam satu cerita. Tawa, canda, tangis, derita. Namun bagaimanakah akhirnya? Apakah akhir yang bahagia itu memang ada?
Ini bukan kisah sikaya dan simiskin melainkan kisah tentang anak-anak kaya raya dengan power dan uang yang mereka...
Bryella yang baru saja selesai mandi langsung bersiap setelah membaca pesan dari Chalazia. Gadis itu berniat segera menjemput sahabatnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
“Aww,” Bryella tanpa sengaja menyenggol adik tirinya karena terlalu fokus pada ponsel.
“Lo ada masalah apa sih?” Jiliana—atau Lia—berujar ketus.
“Nggak sengaja. Lebay lo,” sahut Bryella, memilih melangkah pergi daripada meladeni.
“Apa-apaan kamu?”
Mendengar itu, Bryella mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin memperpanjang masalah.
“Bryella Milean Eleazar, apa kamu tidak diajari sopan santun?”
Bryella mematikan ponselnya dan berbalik. Di hadapannya berdiri Sofiya dengan raut marah.
“Apa? Aku nggak sengaja.”
“Tidak sengaja? Itu selalu jadi alasan kamu setelah menyakiti Lia.”
“Aku nggak mau debat sekarang. Terserah Tante mau mikir gimana.”
Bryella hendak pergi, namun tangannya dicekal.
“Mau apa sih lo?” Nada suaranya mengeras. Keramahannya pagi ini lenyap.
“Kurang ajar!”
Sebuah pukulan melayang. Bryella refleks mendorong wanita itu menjauh.
“Aww!”
“Ada apa ini? Ribut-ribut?”
Daniel datang menghampiri.
“Aku nggak sengaja nyenggol Lia, dia juga nggak apa-apa. Aku harus berangkat ke sekolah sekarang,” ucap Bryella, masih menahan diri.
“Selesaikan dulu masalah ini baru kamu boleh pergi. Papi lihat kamu barusan mendorong Mamamu.”
“Pi, ini bukan masalah besar. Aku dorong dia karena dia mukul aku. Aku bisa telat cuma gara-gara ngurus beginian.”
“Mas, aku capek ngingetin Bryella buat ngomong sopan. Tapi tetap aja dia selalu membentak dan bersikap sesuka hati.”
Kesabaran Bryella menipis.
“Bryella, jaga nada bicara kamu. Nggak perlu berteriak. Minta maaf sama Mama dan Lia.”
“Maaf. Aku pergi.”
“Bryella, berhenti! Kenapa kamu selalu bertingkah sesuka kamu? Sesulit itu menghargai ibu kamu sekarang dan adik kamu?”
Langkah Bryella terhenti. Ia maju beberapa langkah, menatap tajam ayahnya.
“Sikap Papi yang kayak gini yang bikin Mami sama Liam bunuh diri. Dan nggak menutup kemungkinan aku juga bakal melakukan hal yang sama. Tapi Papi nggak pernah sadar.”
“Apa kata kamu? Di mana sopan santun kamu sebagai anak?”
“Aku tanya, apa Papi pernah ngajarin aku soal sopan santun?”