Zalory bergegas menyusul Gavin setelah memarkirkan mobilnya. Sementara itu, Bryella dan Chalazia menghampiri Queen, Anna, Aurora, dan Vivian yang masih berdiri di sekitar parkiran.
“Ngapain masih di sini?” tanya Bryella saat sudah berada di hadapan mereka.
“Studio masih dikunci,” jawab Vivian malas.
“Nggak papa lu, Cha?” Queen memperhatikan Chalazia dari atas sampai bawah.
“Jelas kenapa-napa dong, Queen. Kalau nggak papa, Chaca nggak mungkin minta tolong Bry,” balas Chalazia dengan nada ketus.
“Ngegas si punuk onta. Untung gue tanyain.”
“Loh kok Queen malah marahin Chaca sih?!”
“Udah, males banget gue dengerin lo pada ribut pagi-pagi begini,” sela Aurora sambil memutar bola matanya.
“Jadi kenapa lu, Cha? Apa yang sakit?” kini Anna yang bertanya, nadanya lebih serius.
“Dijambak, Anna. Dipukul juga, terus ditampar.”
“Yasmin anj. Lama-lama gue botakin kepalanya,” geram Vivian sambil meremas kedua tangannya.
“Vivi ih, nggak sopan banget nyebut nama Mama Chaca gitu,” Chalazia memanyunkan bibirnya.
“Nggak ada orang tua yang kayak dia, Cha. Dia nggak pantas disebut orang tua,” ujar Anna, menatap lekat kedua manik hitam milik Chalazia.
“Anna nggak boleh ngomong gitu ih…”
“Serah lu dah, Cha,” sahut Queen malas.
“Tapi tadi nggak apes sih. Langsung diizinin karena kamera lagi nyala,” tambah Bryella.
“Baguslah. Biasanya kagak ada takutnya tuh orang depan kita-kita,” Aurora mengangguk pelan.
“Takut juga ya si anjing reputasinya rusak,” Anna terkekeh di akhir kalimatnya.
“Oh jelas. Sumber duit, cok,” timpal Queen.
“Kalau sampai kena hujat, apa nggak hilang tuh subscriber?” tanya Vivian.
“Nggak ah. Makin viral, makin terkenal. Diundang ke mana-mana. Fans fanatik tetap setia,” jawab Bryella, mencoba mengaitkan dengan kejadian akhir-akhir ini.
“Ih kalian ngomongin apa? Kok Chaca nggak diajak?” tanya Chalazia polos.
Yang lain kompak menghela napas berat.
Tak lama, Zalory, Gavin, dan Jaden menghampiri mereka. Lima gadis itu langsung terlihat lega—kecuali Chalazia yang masih kebingungan.
“Langsung ke studio. Udah jam segini,” ujar Gavin menginterupsi.
Tanpa banyak tanya, mereka berjalan menuju studio. Chalazia menurut saja, apalagi Aurora sudah menarik tangannya.
Di depan studio, lima pria duduk lesehan di lantai—memang tidak tersedia kursi di sana. Bryella merogoh saku, mengeluarkan uang lima ribu, lalu meletakkannya di gelas air mineral kosong di depan mereka.
“Anying, lu kira pengemis?” protes Jeremy sambil buru-buru berdiri.
“Lumayan ege lima ribu mah,” Nolen santai mengambil uang itu dan menyimpannya.
“Ih kayak orang susah,” celetuk Chalazia, mengundang tawa yang lain.
“Udah pinter lu sekarang, Cha?” tanya Stevan dengan nada serius.
“Maksud Steve ngomong gitu apa? Chaca nggak paham deh.”
Stevan tampak menyesali kalimatnya.
“Nggak jadi.”
KAMU SEDANG MEMBACA
ENDING SCENE
Ficțiune adolescențiBanyak kisah di dalam satu cerita. Tawa, canda, tangis, derita. Namun bagaimanakah akhirnya? Apakah akhir yang bahagia itu memang ada? Ini bukan kisah sikaya dan simiskin melainkan kisah tentang anak-anak kaya raya dengan power dan uang yang mereka...
