menceritakan kakak angkat yang begitu menyayangi dan memanjakan adiknya. tanpa di sadari ada sang kakak menaruh hati kepada adik angkatnya itu namun dia menyembunyikan perasaannya karena takut menyakiti perasaan adiknya.
sampai di saat adiknya beran...
Akhirnya pertandingan yang di tunggu segera dimulai dan Kasih sudah bertekad untuk memilih mendukung Dimas dan kawan-kawannya yang dari Kelasnya sendiri.
"Ah taulah nanti, masa bodo kalau kak Roy marah." Sedikit frustasi.
Rangga dan Anisty saling menerjapkan matanya melihat tingkah sahabatnya itu yang begitu frustasi seperti sedang mengerjakan Ujian Nasional saja, padahal itu hanya karena kakaknya dan crush nya.
Anisty, Rangga dan rombongan kelasnya membawa spanduk dan berbagai macam poster untuk menyemangati Tim 'yellow mans' dari kelas X.
Roy menatap ke arah penonton yang bersorak dia mencari seseorang yang ia sayang siapa lagi kalau bukan Kasih. Saat Roy sudah menemukan keberadaan Kasih di antara para penonton dia melihat Kasih melambaikan tangannya hatinya pun berdegup kencang.
"Apa ini? Perasaan apa ini?" tanyanya sendiri.
Saat Roy ingin melambaikan tangannya Roy merasa janggal karena Kasih melambai dan tersenyum manis sambil mengangkat poster tim kelasnya dan yang membuatnya tersentak adalah nama di poster itu adalah Dimas. Tiba-tiba Dimas berjalan dari belakang Roy ke depannya sambil melambaikan tangannya ke arah Kasih membuat Roy mengepalkan tangannya tidak sampai disitu Dimas pun melirik Roy seakan liriknya itu mengajak perang saja.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Priiitttttt..... Referee meniup peluitnya tanda pertandingan dimulai. Roy yang tadinya bersemangat dan bahagia kini menjadi kesal dan menatap Dimas dengan penuh kekesalan. Kasih yang sadar bahwa sang kakak menatapnya dengan cepat dia menurunkan lambaian tangannya.
"Aduh... Pasti kakak kecewa sama aku" gelisah Kasih.
Andai Kasih tau sang kakaknya itu bukan kecewa biasa melainkan dia cemburu karena orang yang di sayangnya Mala mendukung pria lain. . . . Pertandingannya pun mulai sengit skor mereka seri dan siapa yang mendapatkan 1 skor lagi merekalah pemenangnya.
"Awas oper-oper!"
"Tangkap-tangkap"
Dan...
Pritttttttttt
Referee atau yang biasa di sebut wasit utama pun meniup peluitnya menandakan pertandingan selesai. Dan yang mendapatkan skor tinggi adalah kelas X. Semua penonton bersorak riang dan mengangkat poster tinggi-tinggi.
"Yyeeeee hore......" "Woooohhh, yaaahh" sorakan penonton begitu hebohnya.
"Ah sial!" Kesal Roy dan teman-temannya.
"Aduh malu sekali, masa kita kalah dengan adik kelas sih?" ujar salah satu temannya Roy.
"Udah yuk kita balik ke kelas saja" ucap ketua Tim.
"Hm, kalian duluan aku masih ingin istirahat disini" ucap Roy sambil meminum air mineral.
"Oke, kalau begitu kita cabut ya" Roy pun mengangguk dan teman-temannya pun pergi meninggalkan nya di lapangan. Kasih pun menghampiri Roy untuk meminta maaf.
Di sisi lain Dimas dan timnya sedang bersorak gembira, semua siswa dan siswi mengucapkan selamat kepada mereka. Salah satu siswi melihat Kasih Mala pergi dari kerumunan kelasnya.
"Kasih mau kemana ya" ucap Anisti.
Rangga menoleh ke arah yang ditunjukkan Anisti.
"Menemui kakaknya lah pasti." Ujar Rangga.
Lalu Dimas menatap punggung Kasih yang menghampiri Roy. Tapi Dimas membiarkan Kasih pergi tanpa bertanya apapun karena dia tidak ada gak untuk itu. . . "Kak?" Ucap lirih Kasih.
Roy mendongakkan wajahnya ia melihat Kasih sudah tepat berada di depannya. Roy menatap adiknya yang tengah menunduk itu.
"Kenapa?" Tanya Roy sambil menarik pergelangan tangan adik angkatnya itu.
"Maaf kak" lirih Kasih.
"Kenapa minta maaf?" Tanya balik Roy.
Roy terus menatap adiknya yang sedari tadi menunduk dan cuma menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah kalau cuma mau diam saja, aku mau masuk ke kelas ajalah!" Kesal Roy karena adiknya itu hanya berkata maaf dan menunduk saja.
Saat Roy beranjak dari duduknya kasih Mala menangis sedikit keras membuat Roy melalak di buatnya. Untung saja teman temannya sudah lama pergi dari lapangan basket itu, hanya ada mereka berdua disana.
"Hey, dek kenapa Mala menangis?" Bingung Roy.
"Hiks... Maaf kak, karena aku nggak dukung kakak" ucap Kasih sambil sesenggukan.
Roy tidak tega melihat adik kesayangannya menangis hanya karena dia.
"Sudahlah, kakak tidak masalah kok. Lagian kan kamu dukung kelas kamu."
"Sudah ya, jangan nangis"
Kasih tidak menyahut Roy dan Mala tangisnya lebih keras membuat Roy sedikit pening di buatnya.
"Diamlah dek, nanti kakak di kira menganiaya kamu loh!"
"Ng.. nggak.." ucapnya Terbata-bata.
"Diam! Kalau nggak aku cium kamu disini!" Ancam Roy.
Ancaman Roy berhasil membuat Kasih menghentikan tangisannya, sedetik kasih menahan nafasnya. Dia tidak habis pikir kakaknya akan berkata seperti itu.
"Nah begini kan bagus," ucap Roy.
Roy lalu beranjak dari duduknya sebelum pergi dia menyempatkan mengacak-acak rambut adiknya itu. Kasih yang masih speechless cuma bisa menatap punggung Roy yang sudah menjauh darinya.