14. PERANG DAPUR

473 19 2
                                        

"Oke! "

Bulan semangat empat lima. Saat ia tahu dari Saeful dan Dika kakak kelasnya yang memberitahu informasi kalau Langit suka sekali dengan telur.

Bulan membeli telur dua kilo. Karena ia bingung ingin membuat apa.

"Kamu yakin ka Langit suka telor?" Tanya Bulan memastikan.

"Gue yakin banget Lan. Secara gua udah merhatiin ka langit dari awal banget, " Ucap Riska.

"Yaudah ayo kita mulai! " Ucap Bulan semangat.

Akhirnya mereka pun mulai mecari menu dengan bahan telur.

Lima belas menit mereka mencari berbagai menu di internet dengan bahan telur mereka akhirnya menemukan nya.

Motto mereka : Murah, simple, enak yang penting jadi.

Bulan mulai memasukan bahan-bahan nya dan Riska pun ikut membantu Bulan. Kalian harus tau teman-teman bahwa mereka sama sekali tidak bisa masak.

Ini masak cuman modal Nekat, pasrah, tawakal.

Oke mereka tertarik dengan satu menu yang simple yaitu Telur rebus balado.

Bulan mulai memasukan air kedalam panci lalu, menyala kompornya. Ia meletakkan panci itu di kompor dan karna pengetahuan minim memasaknya dia langsung memasukan telurnya.

Riska sedang fokus membuat bumbu nya.

"Masukan cabai sesuai selera dan makin banyak cabainya makin bagus warnanya , " Gumam Riska.

"Ka langit suka pedes apa engga ya? Tapi kan enakan pedes, " Gumamnya lagi.

"Oke aku masukin 1000 gr cabe rawit deh, disini juga tulisannya kan makin banyak cabe makin bagus warnanya, "

Tanpa ragu Riska memasukan 1000 gr cabai rawit kedalam blender tanpa memasukan bahan apapun hanya cabai saja. Iya kalian tidak salah liat kok cabai saja yang dia blender.

Setelah halus cabainya. Lalu Riska mulai menumis bumbunya sampai matang.

Bulan yang melihat Riska sedang menumis percaya saja karna mereka mengikuti sesuai resep.

"Dah bumbu udah mateng! " Ucap Riska.

"Emang bumbu nya udah mateng? Tau darimana udah mateng? " Tanya bulan polos.

"Dodol! Ya di buku menu bilangnya kalo udah kecium wangi berarti mateng! " Ucap Riska.

"Oh gitu, " Balas bulan.

Riska mengerutkan dahinya. Ia seperti mencium aroma tidak enak. Dia mengendus sambil melirik ke arah Bulan.

"Lan, " Panggil Riska.

"Kenapa? "

"Lo cium bau sesuatu gak? "

Bulan pun mulai menyadari ada yang aneh saat Riska berkata seperti itu. Dan mereka mencari tau sumbernya di mana. Ternyata...

"TIDAKKKKK!!!!!" Bulan langsung lari kearah panci yang sudah berasap. Ia mematikan kompornya.

Dan refleks tangan bulan menyentuh tutup panci tersebut untuk membukanya.

"Aw! "

"Eh goblok! " Riska langsung menarik Bulan untuk menjauh.

"Lo ngapain megang tutup pancinya aduh! Dasar tolol, "

"Telur aku Ris, " Ucap Bulan sambil memandangi panci yang berisi telurnya.

Riska langsung melihat kondisi tangan Bulan dan ternyata memerah.

Melepuh ini, Batin Riska.

"Gua ambil obat dulu buat lo, "

"Ga usah Ris. Kita lanjut masak aja, " Tolak Bulan.

"Aduh gusti. Gue tau niat lo lan. Tapi liat tangan lo! " Ucap Riska sambil menunjuk ke telapak tangan Bulan yang sudah memerah.

"Tapi Bulan gak papa kok, "

"Bodoamat! Lo diem disini gua obatin atau lo sama sekali ga gua bantuin masak lagi gimana? Lo mau pilih yang mana? " Tanya Riska.

Bulan menundukkan kepalanya. Lalu, ia menganggukan kepala.

"Anak pinter, " Balas Riska.

Riska pun melihat ke kompornya yang berisi bumbu untuk memastikan takutnya ia lupa mematikan. Dan ternyata ia sudah mematikan nya.

Lanjut, Riska pun mengambil obat dan mengobati tangan bulan dengan perlahan.

Bisa ga ya masak....

Setelah selesai mengobati mereka pun lanjut menjalankan  misi mereka. Namun, ternyata

"WAAAAA RISKAAAA AERRRR RISKAAAAAAAAAA!!!! " Teriak bulan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"WAAAAA RISKAAAA AERRRR RISKAAAAAAAAAA!!!! " Teriak bulan

Dan lagi...

Ah! Lagi dan lagi Bulan gagal buat masak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ah! Lagi dan lagi Bulan gagal buat masak . Padahal hanya telur tapi kenapa susah.

Terduduk lemas di sofa sambil memandang langit-langit rumahnya, dia terus berfikir. Kenapa dengannya hari ini.

"Padahal cuman telur" Gumam Bulan.

"Udah lan, " Dateng Riska sambil membawa air dingin untuk Bulan.

"Lo udah usaha kek gini. Kalo lo mau nyerah gak papa jangan maksa, " Ucap Riska.

"Lo harus bisa belajar dari ini semua, kadang apa yang lo pengen atau yang lo harapin ga sesuai sama yang lo mau. Lo jangan kecewa. Masih banyak hal yang bisa lo lakuin, " Kata Riska sambil mengusap punggung Bulan.

"Tapi Riska... "

Riska tersenyum tipis, "gua paham niat baik lu, " Ia menghela nafas, "tapi dengan lu minta maaf dengan tulus. Gua yakin kok Ka langit mau maafin lo lan, "

"Bener ya? " Tanya Bulan

Riska menganggukan kepalanya, "iya coba deh besok minta maaf, "

***


Langit merebahkan tubuhnya di kasur. Mengistirahatkan semua nya mulai dari badan hingga pikiran.

Prinsip dari langit simpel.

Kalo lo lagi di rumah rebahan atau ga tidur sambil hp di silent itu nikmat yang tiada taranya.

Langit memejamkan matanya,"Gue harap besok ga ada hal nyusahin, "gumam Langit.

Happy ReadingTemui aku di ig : @auliafinanurul

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LANGITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang