Chapter 3

773 93 21
                                        

Hari Senin, dan Fang terbangun dengan perasaan lebih suram dari semua Senin yang pernah ia lewati.

Masih sekitar 1 jam lagi sebelum alarm ponsel berdering tapi Fang sudah sibuk mengunyah roti kering di meja dapur. Kepala belukarnya menyembul dari selimut hangat, menyeruput kopi yang mengepul di antara udara dingin.

Pandangan Fang mengedar, menatap muram ruang apartemen yang masih remang. Satu-satunya sumber cahaya hanya dari lampu meja ruang tengah yang semalam lupa ia matikan.

Dari pintu kaca beranda dapur langit terlihat masih gelap, tapi beberapa cahaya kecil dari jendela-jendela kotak berkerlip lemah dari kejauhan. Terlihat buram, tapi Fang nyaris bisa merasakan hangatnya kehidupan dari cahaya-cahaya itu.
Hari baru sudah dimulai dan dunia sedang sibuk menyambutnya.

Fang menghela napas, menyesap sekali lagi cairan pahit di dalam mug saat ingatannya kembali memutar kejadian minggu siang kemarin. Wajah mengesalkan Solar yang menatap Shielda dengan pandangan tamak berkali-kali mengganggunya.

Tidak cukup puas mengotori mimpinya sekarang wajah laki-laki itu malah makin berputar di kepala saat ia terjaga.

Fang sebenarnya tidak terlalu suka mengatur hidup orang lain, termasuk kehidupan dan pilihan yang Shielda ingin jalani. Tapi jika pilihan itu berpotensi melibatkan hal yang 'tidak baik' seperti Solar, Fang tidak yakin bisa membiarkannya begitu saja. Bagaimanapun Shielda tetap kerabatnya.

Mau sejauh apapun itu, kerabat tetaplah keluarga pikir Fang.

Yahh.. Bukan berarti Fang bisa dengan bebas menghentikan mereka untuk saling mengenal, tapi sebisa mungkin ia akan berusaha menghindarkan Shielda dari trik kotor apapun yang akan dilakukan Solar. Dan ia pikir, mencegah pertemuan yang terlalu sering adalah langkah awal yang bagus.

Maunya begitu.

Tapi baru saja pagi tadi rencana ia susun, siang ini Solar sudah duduk nyaman di meja kantin tempat Ia dan Shielda menikmati makan siang mereka.

Ujung bibir Fang berkedut, menahan sumpah serapah. Dan ia cukup berhasil.

"Permisi." Fang berdehem, "Bukannya fakultas arsitektur punya kantin sendiri?" Mati-matian menjaga suaranya agar tetap tenang.

Solar yang sedang sibuk tebar pesona di sampingnya menoleh. Mata keemasannya yang beberpa detik lalu berbinar ceria berubah menjadi tatapan yang familiar bagi Fang.

Tatapan yang merendahkannya.

"Ah, tidak ada salahnya mencoba menu di sini kan?"

"Menunya sama saja." Balas Fang.

Solar tersenyum, melirik Shielda di depannya "Di sini rasanya jadi lebih enak."

Fang mual.

Rasanya apapun makanan yang masuk siang itu ingin keluar lagi dengan cara yang paling menjijikan.

.

.

.

.

Solar tersenyum.

Bukan senyum tulus memang, tapi ia tersenyum. Seterang mungkin menunjukkan pesona yang selalu ia punya.

Di depannya Shielda tertawa renyah, hanyut dalam obrolan yang sejak tadi ia bangun. Sesekali perempuan dengan surai tanah itu akan melirik tempat duduk di sebelah Solar. Memanggil laki-laki yang duduk diam dengan wajah cemberut dan suram.

"Fang, Aku baru tau kau puya teman seperti Solar." Ucap Shielda, "Kalian cocok sekali jadi teman baik."

Dari tempat ia duduk Solar bisa melihat wajah pucat Fang berkerut mual. Bibirnya yang tak berwarna terangkat, membentuk senyum paling janggal di mata Solar.

ConfusedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang