--50. Deep Talk--

264 34 7
                                        

"Tiga minggu lagi udah mulai ujian semester, jadi kamu mau cari bimbel di mana?" Mommy menatap anak keduanya yang kini masih berkutat dengan tugas-tugas sekolahnya yang belum rampung.

"Kalau kamu nggak buru-buru cari bimbel nanti Mommy masukan kamu ke bimbelnya Troy dulu," wanita itu bergerak mengganti sprai Mark dengan yang baru.


Sementara Mark berhenti membaca tugas nya. Membiarkannya terbuka sementara ia melepas kacamata minusnya. Beberapa minggu belakangan Mommy memang berhenti membahas masalah bimbel, olimpiade dan teman-temannya.


Tapi, mungkin saja karena sebentar ujian semester diadakan, Mommy kembali bertanya ini itu. "Tentang rencana Mommy pindahin sekolah kamu.."


Kini, Mark menarik napas panjang. Bahunya seolah bertambah berat meski ia memutuskan untuk bersandar di punggung kursi. Menerawang pada buku-bukunya yang tertata rapi di rak sisi meja belajarnya.


"Gimana kalau kenaikan kelas tiga nanti kamu ke sekolah Troy dulu? Kamu pasti bisa langsung adaptasi di tempat baru," perempuan itu masih saja sibuk memperbaiki sprai yang agak miring setelah dipasang.


Kepala Mark sudah berat sejak tadi, tapi Mommy datang mengingatkannya pada rencana Mommy beberapa bulan lalu yang menurutnya implusif. Pindah sekolah bukan hanya tentang adaptasi, Mark bisa saja tidak fokus untuk sekolah barunya jika kini semua yang ada di sekolahnya seolah memberatkannya untuk pergi.


"Pindah sekolah nggak segampang itu Mom," Mark menarik napas panjang. "Mark udah terlanjur punya banyak tanggung jawab di sekolah yang sekarang. Nggak bisa pergi gitu aja, lagi pula.."


Cowok itu terlihat agak ragu. "Harvard sama Stanford mungkin terlalu muluk. Mark nggak sepandai Troy," ucapan yang membuat Mommy berhenti dan membeku.


"Mark.."


"Mom.. Please.. Sekolah sekarang aja udah lebih dari cukup. Akreditasi bagus, fasilitas better, Mommy dulu juga setuju Mark masuk sini karena tarafnya udah setara sama sekolah inter lain,"

Mommy seolah hilang kata. Wanita itu meneguk salivanya sembari terdiam beberapa detik. Sebelum akhirnya menghela napas panjang sekali lagi.


"Mommy nggak tau apa yang buat kamu jadi begini," Mommy mulai menjauh, sampai pada daun pintu dan memegang knop sembari berujar lirih. "Mommy cuma mau kamu dapat yang terbaik, Mommy worry kamu nggak bisa ngejar yang lain."


Tepat setelah suara pintu kembali tertutup, Mark mengacak rambutnya beberapa saat. Kemudian kepalanya bergoler di atas buku tebalnya yang terbuka. Pindah sekolah sedari dulu tidak ada di dalam list hidupnya. Ia hanya cukup dengan satu saja tanpa harus beradaptasi ulang.


Sekolahnya sudah cukup baik untuk standar sekolah kejuruan internasional. Semuanya memang baik meski bukan sekolah negeri seperti yang sering diidamkan orang-orang.

Lalu, Mark meraih ponselnya. Ketika nomor gadis itu ada di urutan paling atas dalam list chat miliknya, Mark jadi tersenyum kecil. Biasanya Yeri sedang sibuk belajar. Tapi masa bodoh, Mark benar-benar ingin mendengar suaranya kali ini.


Lama denging panjang itu tak terbatas, sampai akhirnya butuh beberapa detik untuk Yerina menjawab panggilannya. Wajah gadis itu menyembul setelah beberapa detik hanya terdengar grasak grusuk di seberang.

Gadis itu, dengan mata sayu dan mulut menguap lebar akhirnya bersuara. "Sorry aku ketiduran," kata Yerina dengan wajah mengantuknya.


Mark menarik kedua ujung bibirnya, tersenyum begitu saja melihat Yerina yang seperti ini. Matanya jelas terlihat amat berat, bibirnya manyun hampir lima senti. Rambutnya acak-acakan keluar dari jedai yang dikenakan.

Fur Eye ✓ [MARK | YERI] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang