keributan di meja makan

122 18 0
                                        

Malam hari ini di keluarga Kusuma sedang makan malam tentunya dengan kesunyian. Cuma terdengar suara bunyi piring da sendok saja.

Vara menatap sang mamah yang terlihat santai, apa surat panggilan orang tua belum di kirim. Vara hanya bisa berdoa semoga saja surat itu tidak dikirim melalui ibunya.

Baru saja berucap bersyukur bunyi notifikasi headphone sang mamah berbunyi, vara juga vera menatap headphone itu.

Vara melotot kan matanya, melihat sang mamah yang sedang membuka handphonenya. Vara memberi kode pada Vera melalui matanya.

Tetapi respon vera hanya diam saja, sambil menatap gerak gerik sang mamah. "Ada apa?" Tanya Akmal sang kaka menatap vera juga vara.

"Ha? Emm gakpapa!" Vara tersenyum dengan paksa. Akmal yang masih tak percaya masih menatap sang adik.

Tiba-tiba saja sang mamah berbatuk, dan mendapat pandangan mata yang ada di meja makan.

"Kenapa mah, pelan-pelan makannya." Ujar akmal memberi segala air dan diterima oleh sang mamah.

Setelah tenggorokannya sudah tak gatal, sang mamah menatap kedua putrinya secara bergantian. "Ada yang bisa jelasin, atau mamah akan bertanya!" Ujarnya.

Vara mengepalkan tangannya di atas pahanya sambil menunduk, ya! baru pertama kali membuat masalah di sekolah, sedangkan vera yang sudah terbiasa hanya diam saja.

"Ada apa emangnya?" Tanya sang papa melihat gelagat aneh dari mereka bertiga.

"Ini mamah dapat chatting katanya dari gurunya mereka, dan mereka berdua bikin masalah di sekolah. Jadi mamah suruh datang ke Sanah memalukan saja!" Ujar sangat mamah.

"Jelaskan, ini gak ada yang mau ngejelasin apa. Kamu vara tumben sekali kamu ikut-ikutan masalah kaya gini." Vara tak berani menatap sang mamah.

"Pasti kamu yang ngajak vara berbuat gini kan vera, mamah tau betul Vera tidak begini dia begitu terlibat Sama kamu kan?" Tanya sangat mamah.

Vara yang mendengar itu menggelengkan kepalanya, "gak mah vera gak ngajak aku, ini bukan salah dia." Vara membela vera.

"Terus masalah kalian apa, bisa di panggil mamah ke sekolah?" Tanya Akmal.

Vara juga Vera saling pandang, vara yang dari tadi sudah keringat dingin sedangkan vera yang melamun sambil mengepalkan tangannya.

"Sudah-sudah vara jelasin semuanya, apa masalah sampai kita di suruh ke sekolah." Ucap sang papa.

Vara lagi-lagi menatap vera, ingin berucap tetapi vera lebih dulu. "Aku yang bua masalah dan ribut sama kak kelas" ujar vera.

Vara menatap Vera juga sang mamah bergantian, "bener kan kamu yang buat ulah, bisa gak sih kamu gak usah hobinya bikin ulah!" Sentak sang mamah, Akmal mengusap tangan sang mamah untuk menenangkan emosinya.

"Terus vara bisa terlibat gitu?"tanya Akmal. "Vara bantu aku tapi dia juga berantem kok." Vara menatap vera dengan muka minta penjelasan.

"Bener kan vara?" Vera tersenyum miring tetapi amat tipis. vara menyipitkan matanya kenapa cerita Vera di buat-buat bukan kah ia hanya membantu memisahkan dan tak terlibat berantem.

"Bener kamu berantem?" Sang mamah bertanya. "Ada loh saksinya, come on jujur." Ucap vera menatap vara terdiam.

"Lo harus ngerasain yang udah gue rasain, gimana rasanya terpojoki dan gak ada yang bisa bantu," ucap batin Vera sambil tersenyum miring dan menaikkan alisnya satu.

"Jawab vara!" Ucap mamah.

"va-vara, vara gak berantem vara cuma misahin Vera berantem." Ucap vara.

Akmal yang mendengar itu merasa aneh. "Tapi katanya kamu berantem juga?" Tanya Akmal.

"Udah deh ngaku aja sih, aslinya juga bandel kan ketutup sifat polos aja." Ucap vera lagi-lagi tersenyum miring.

"Sudah-sudah, kenapa jadi ribut akar masalahnya apa ini?" Tanya sang papa mengalih topik.

"yang aku tau vera merebut cowoknya kak Ica pah." Jawab vara.

"Bukan aku yang nyamperin cowok dia, cowok dia aja yang ngedeketin aku." Vera membela diri.

"Ya kan kamu tau, cowok itu udah punya cewek kenapa masih di dekati?" Tanya vara menatap vera.

"Terserah gue dong, bukan urusan lo." Vera sudah sangat kesal dan mengganti kosa katanya.

"Masalah cowok kamu ributkan Vera, ya ampun masih banyak cowok yang cakep kamu malah ngambil punya orang. Mamah tidak mengajarkan begitu!" Ucap sang mamah.

Vera memutarkan Mataya dan sudah amat sebal langsung pergi menuju kamar meninggalkan mereka yang ada di meja makan.

Hello? jangan lupa vote iya and komen biar Halah gak butuh pembaca gelap nih, follow yok biar tau kelanjutannya gratis loh...

VERA & VARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang