di meja makan tampak sunyi dan tenang berbeda dengan vara yang sedari tadi gelisah dirinya harus berkata apa nantinya.
vara menggenggam kertas ulanganya di bawah meja, keringetnya sudah menetes dari dahi hingga jatuh ke pipi.
vara menatap kembaranya yang menyantap makanan dengannya datar pikirannya kenapa dia sesantai ini?
"mana kertas ulangan kalian, mama ingin melihat?" nyonya kusuma memecahkan kesunyian dimeja makan.
vara dan vera saling pandang, vera berdecih melihat tatapan kembaranya yang gelisah langsung saja vera menyodorkan nilai ulanganya yang em terkesan buruk.
"ini apa vera, ini nilai atau coretan jelek banget nilai kamu 50?" ujar nyonya kusuma meremas kertas ulanganya.
vera menghela nafas, "aku bisanya dapat segitu." ucap vera menatap kertas ulanganya menjadi recek.
"ya makanya belajar bodoh biar pintar, dari tahun kemaren nilai kamu cuma segitu terus gimana mau jadi kebanggaan coba, mamah malu ngeliat anak mamah bodoh begini apa kata orang nanti vera!" sentak nya.
vara memenjamkan matanya tanganya terkepal di bawah meja, "coba mana punya kamu." vara mengangkat kepalanya dan menyodorkan kertas ulanganya.
dan terkejut melihat kertas ulanganya disobek menjadi belah dua, vara mengepalkan tangannya dan kepala menunduk, "kamu juga apa-apan vara dapat nilai segitu, kamu tau kan harus berapa nilai yang bagus, kayanya kamu semenjak pacaran kamu makin bodoh."
"mamah ngizinin kamu pacaran bukan berarti kamu malah leha-leha gak jelas, dapat nilai segitu kamu senang?"
vara menggeleng lemah, "semua gak bisa bikin mamah bahagia kalian cuma hidupnya nyusahain doang, nilai 80 gak bisa kamu banggain mamah."
"kalian berdua masuk kamar jangan keluar rumah sebelum kalaian izin dan headphonen mamah sita selama sebulan." vera yang ingin protes pun tak jadi melihat sang mamah melotot padanya.
"saya masih mentoleransikan hukum tapi setelah bagi rapot hasil kalian gak bising saya memuaskan, habis kalian sama saya liat aja nanti." ujar tegasnya sebelum pergi.
setelah kepergian nyonya kusuma lagi dan lagi di meja makan hening cuma ada mereka berdua, abang dan papahnya masih sibuk di kantor dan bekerja lembur.
vera tertawa getir matanya menatap kembaranya yang hanya diam saja, "well, dari dulu bukanya kita gak bisa banggain dia?" vera angkat bicara.
"lo tau, gue sempet berpikir bakal keluar dari rumah ini." menatap sekeliling ruangan, vara menghapus air matanya mendengarkan ucapan vera.
"tapi nyatanya gak bisa, karena ketatnya penjaga di rumah ini yang sama dengan seperti penjara."
"rencana selanjutnya apa? tanya vera.
vara cukup terdiam sesaat setelah berucap, "memperbaiki semua nya menjadi lebih baik, mybe." vera yang mendengar kalimat itu pun tertawa.
"lo yakin? saingan lo itu anak emas yang selalu di puja, di sanjung seperti raja." vara tau apa yang di maksud dengan ucapan vera.
"lo gak mau banggain mamah?" tanya vara dengan tatapan kosong nya dan lagi-lagi vera tertawa.
"cih, lo ngomong begitu ke gue? mana bisa gue jadi kaya anak emas nya dia apalagi gue harus banget jadi dia, gue sih ogah ya, bisa-bisa gue sakit jiwa kudu harus ini, itu muak."
"gue apa adanya, jadi diri sendiri itu lebih baik," ucap vera, dan meninggalkan vara yang masih terdiam.
*
*
*
*
"wih bar tumben ki sini?" bara yang sedang menghisap nikotinnya pun membuanganya dan menatap datar lawan bicara.
"tumben-tumebnan lo ngajak kita ke club, ada apa kawan lagi ada masalah? cowok berambut keribo menggeplak bahau temannya.
"sakit bego!" cowok itu bernama alam yang baru saja di pukul oleh baim temannya.
"pesenin gue minuman." ujar bara matanya menatap sekeliling club malam yang semakin rame.
"oke bos," baim menarik kerah alam agar menemaninya.
setelah kepergian dua curut itu bara membuka ponselnya dan menatap isi galeri foto keasihnya dengan dirinya lagi tersenyum menatap kamera.
bara tersenyum mengelus layar ponselnya, sial gara-gara cowok yang bersama kekasihnya itu dirinya harus putus tanganya terkepal.
"ini dia winenya." bara mematikan ponselnya dan meneguk habis minumannya.
"lo sekolah dimana?" tanya baim karena bara tidak mengabari nya pulang ke Indonesia.
"SMA maranda." ujarnya merasakan tenggorokan nya pahit dan tercekit karena minuman beralkohol.
"widih di sanah kan ceweknya cakep-cakep, kita pindah aja yu ngikut si bos." ujar alam pada baim.
"kalian pindah aja teman gue." alam mendengar itu langsung kesenangan
"gue mau lo berdua bikin perhitungan sama yang namanya Rafael." baim menyeringit bingung.
"kenapa?"
"dia udah nyari perkara ama gue, gara-gara dia gue putus sama cewek gue." ujarnya dengan emosi.
alam menyenggol tangan baim dan saling pandang setelahnya mereka berdua tersenyum miring.
"oke, tenang aja kita berdua bisa diandalkan." ujar alam sambil memegang gelas wine.
-tbc-
gimana nih sama partnyaaa...
KAMU SEDANG MEMBACA
VERA & VARA
Science Fictionsaudara kembar yang memiliki sifat berbeda masing-masing mempunyai kisah cinta tersendiri Vara yang selalu sabar dan berhati lembut juga penyayang tetapi sayangnya memiliki penyakit serius tidak ada yang tau soal penyakitnya dan vera berbanding terb...
