Tak ada cerita tentang perang di kerajaan Joseon. Raja dan Ratu mereka amat dicintai oleh rakyatnya. Tetapi semua berubah saat Jaemin harus turun tahta dari posisinya sebagai Ratu. Huang Renjun menggantikan Jaemin dan bersanding bersama Jeno yang sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jeno tidak tahu mengapa rasa sesak di dadanya semakin menjadi-jadi. Tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengeras. Matanya menatap tajam ke arah Mark dan Jaemin disana. Dua orang itu tampak bahagia di bawah hujan. Terutama Jaemin yang asyik menjahili Mark dengan sengaja. Sang ratu melempar air ke wajah Mark sambil tertawa. Si pengawal juga ikut tertawa.
Jeno suka melihat Jaemin bahagia. Ia selalu merasa tenang melihat senyum sang ratu meskipun dari kejauhan. Tetapi jika bukan karenanya, ia benci. Seolah siapapun tak akan ia ijinkan untuk membuat sang ratu bahagia selain dirinya. Hanya Jeno yang boleh.
Tapi apa bisa ?
Jeno berbalik membelakangi mereka. Tak bisa. Ia tak mampu membuat Jaemin sebahagia itu. Ia tak pernah berhasil. Senyum setulus apapun yang sang ratu beri hanyalah sebuah senyuk di atas luka. Wajah pucat Jaemin yang sendu selalu menghiasi hari-harinya.
Entah sejak kapan jarak mereka bisa sejauh ini, tetapi Jeno justru menyadari senyum di wajah Jaemin berubah. Ratunya lebih bahagia. Ratunya lebih sehat. Secara tak gamblang, seolah-olah Jeno adalah penyebab penderitaan ratunya selama ini.
Mark berhenti tertawa saat matanya tak sengaja menangkap sosok sang raja berdiri di kejauhan. Jeno tampak memunggunginya. Sedangkan Renjun yang memayungi Jeno, melihat ke arah Mark. Kedua kakak beradik itu bertemu pandang.
Menyadari ada yang aneh, Jaemin mengikuti kemana arah mata Mark memandang. Ia terkejut melihat Jeno dan Renjun. Matanya sedikit membelak.
"Mereka.. sedang apa ?"
Pertanyaan Jaemin tak mendapatkan jawaban. Mark juga tak tahu. Renjun menatap datar dan dingin ke arah mereka. Tak lama, Jeno pergi. Renjun yang memayunginya ikut pergi.
Jaemin memandang kemana Jeno dan Renjun melangkah.
***
Hachu!
Jaemin terkejut. Ia yang tadinya sudah memejamkan mata, jadi terbangun. Ia bangkit dari posisi berbaring ke duduk. Matanya langsung beralih ke arah siluet seorang pria di balik pintu kamarnya yang bisa terlihat. Itu adalah Mark yang selalu berdiri disana menjaga Jaemin semalaman.
Mark memijit pelipisnya. Kepalanya berdenyut disertai hidung meler. Ini pasti flu.
"Mark.."
Yang dipanggil langsung berdiri tegak. Wajah pucat lelaki itu berubah tegang. Ia langsung masuk ke dalam kamar Jaemin.